Lombok Post
Headline Sportivo

Zohri, Sprinter Pertama Indonesia yang Menjadi Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri PHOTO / Lehtikuva / Kalle Parkkinen / Finland OUT

MATARAM-Tampil di pentas dunia menjadi mimpi besar atlet Indonesia dari cabang olahraga manapun. Termasuk bagi Lalu Muhammad Zohri, sprinter muda Indonesia asal Lombok, NTB, yang menghebohkan dunia atletik dunia dan tanah air. Ya, dia menjadi sprinter pertama Indonesia yang mencicipi gelar juara dunia, di Kejuaraan Dunia U-20 yang berlangsung di Tampere, Finlandia Kamis (12/7) dini hari.

                Sebelumnya, Zohri merengkuh tiket menuju ajang tahunan itu pada test event Asian Games di Jakarta awal tahun ini. Dengan modal catatan waktu 10,25 detik, Zohri akhirnya mendapatkan slot di Kejuaraan Dunia. Awal Juni lalu, pelari asal Dusun Pongsor, Desa Pemenang Barat, Lombok Utara tersebut meraih emas Kejuaraan Asia Junior di Jepang.

Saat itu, dia mencatatkan waktu 10,27 detik. Dengan kondisi yang ada saat ini, Zohri mampu mengejutkan dunia. Tampil di final, Zohri menempati line ke-8. Dia memperlihatkan start mulus, berbeda dengan ketika dia menjadi juara Asia junior belum lama ini. Zohri bersaing ketat dengan pelari muda tercepat dari seluruh Indonesia.

                Tetapi, pelari yang masih tercatat sebagai siswa SMA Ragunan itu mencatatkan waktu terbaik 10,18 detik. Itu mengungguli dua pelari Amerika Serikat, Anthony Scwartz dan Eric Harrison yang sama-sama mencatatkan waktu 10,22 detik.

                “Sangat bangga sekali karena saya buat sejarah bagi Indonesia. Sangat luar biasa,” kata Zohri dalam video yang dikirim dari Finlandia, kemarin (11/7). Indonesia tercatat meloloskan tiga atlet muda ke Kejuaraaan Dunia U-20. Selain Zohri, masih ada Halomoan Binsar (lari 400 meter putra), dan Idan Fauzan Richsan (lompat galah putra).

                Prestasi yang ditorehkan Zohri tersebut disambut gegap-gempita di seluruh Indonesia. Tak kecuali di tanah kelahirannya.

”Kami sangat bangga dan haru dengan prestasi Zohri,” kata Ketua KONI NTB Andy Hadianto saat mengunjungi rumah Zohri di KLU kepada Lombok Post,  kemarin (12/7).

Dengan usia muda yang dimiliki Zohri, Andy optimistis Zohri bisa memecahkan rekor nasional dan Asian Games yang saat ini dipegang Suryo Agung. ”Dia bisa melampaui rekor itu,” ujar Andy.

Selepas kejuaraan dunia ini, Zohri bakal menjadi salah satu atlet andalan Indonesia di nomor lari 100 meter pada Asian Games 2018.

Andy mengenal Zohri begitu dekat. Menurutnya, Zohri adalah anak yang tak gampang menyerah. Zohri, kata Andy menjadi panutan bagi seluruh atlet. Bahwa, keterbatasan bukan menjadi alasan untuk tidak bisa berprestasi.

”Semangat, kesederhanaan, dan kerja keras menjadi kesuksesan Zohri,” ujarnya.

Dia mendengar kabar bahwa kehidupan Zohri yang serba terbatas menjadi pelajaran hidupnya. Dahulunya, dia yang tidak punya sepatu untuk berlari. Sebaliknya, kini bisa membanggakan seluruh negeri.

”Saya terharu dengan perjuangannya,” kata dia.

Begitu juga dengan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga NTB Hj Husnanidiaty Nurdin. Husnanidiaty turut membina Zohri ketika masih di PPLP NTB.

”Kami terus memantau Zohri karena memang dia menjadi atlet andalan NTB di Popnas tahun lalu,” ujarnya. Saat itu, Zohri bisa menyumbangkan dua medali emas untuk NTB di nomor 100 meter dan 200 meter.  Itu prestasi yang sangat membanggakan.

”Sekarang dia menjadi juara dunia. Saya tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata,” ungkapnya sambil menitikkan air mata.

Ditemukan Bu Guru Rosida

 Kejelian guru olahraga SMPN 1 Pemenang Rosida menjadi cikal bakal Zohri sekarang. Rosida melihat potensi Zohri saat melihatnya bermain sepak bola di halaman sekolah.

Zohri yang masih duduk di bangku kelas VII kala itu memang tak mengenal olahraga lari. Dia hanya mengenal sepak bola layaknya anak-anak kebanyakan.

”Sepak bola di sekolah kami sangat populer. Jadi, tiap keluar bermain di halaman sekolah jadi tempat bermain bola,” kata Rosida katanya ditemui Lombok Post di rumahnya di Tanjung KLU, kemarin (12/7).

Dia melihat postur yang dimiliki Zohri berbeda daripada yang lainnya. Kakinya yang jangkung dengan tungkai yang bagus membuat Rosida tertarik untuk mengajak Zohri terjun ke atletik.

Namun, mengajak Zohri menekuni atletik bukan perkara mudah. Butuh perjuangan. Bahkan harus terus dibujuk dan dirayu. Zohri bahkan tetap menolak. ”Zohri pernah bilang ke saya, ngapain lari bu. Lebih baik berlari kejar bola,” ungkapnya.

Perempuan berambut lurus yang juga menjadi pelatih cabor atletik di KLU itu tak patah arang. Dia tetap merayunya untuk ikut latihan atletik. Ditolak, dirayu lagi. Begitu seterusnya. Bahkan, untuk mendapatkan keputusan Zohri, Rosida sampai meminta bantuan salah satu perempuan yang ditaksir Zohri. Cuma belum mempan juga.

Lalu pada pertengahan 2015, Zohri ditimpa musibah. Ibunya dipanggil Yang Maha Kuasa. Semenjak itu, Zohri menjadi sedikit pendiam. Namun, Rosida terus berada di sisi Zohri. Menguatkannya agar tegar.

”Saya bilang ke Zohri, kalau kamu ingin maju ikut sama ibu. Ikut latihan atletik sama ibu,” ujarnya.

Sepekan kemudian, akhirnya, Zohri luluh. Dia mengaku ingin berlatih. Keduanya pun sepakat berlatih di Lapangan Gondang.

Lapangan tersebut tidak memiliki lintasan tartan ataupun grapel. Itu masih murni lapangan rumput. ”Kalau lari saja licin. Karena sepatunya yang berbeda,” ujarnya.

Zohri menepati janji. Dia datang tepat waktu. Program latihan awal pun langsung diterapkan. Esok harinya, Zohri mengaku sakit di bagian punggungnya. Wajar, karena Zohri baru menjadi atlet pemula.

Rosida pun belum berani memberikan program latihan yang berat. Takutnya, Zohri kapok latihan. Apalagi saat itu, Zohri tidak menggunakan sepatu.

Zohri hanya berlatih dua kali dalam sepekan. Namun, saat menjalankan latihan, Zohri sangat disiplin. Datang tepat waktu, dan kalau diperintah apa pun mengerjakannya dengan penuh hati.

Setahun berlatih, PASI KLU melakukan seleksi atlet untuk diturunkan di Kejuaraan Daerah tingkat kabupaten/kota. Saat tes, Zohri selalu menjadi yang tercepat.

”Catatan waktunya masih di atas 12 detik,” ujarnya.

Tapi, bagi pemula, itu catatan waktu yang bagus. Rosida pun semakin bersemangat melatih Zohri.  Akhirnya, di Kejurda Zohri tampil menjadi juara kala itu. Tim talent scoating dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pelajar (PPLP) NTB langsung kepincut.

”Dia pun masuk PPLP dan saya hanya bisa memberikan semangat ke Zohri,” kata Rosida.

Dipoles Komang Budagama

Setelah masuk di PPLP, Zohri ditangani pelatih atletik I Komang Budagama. Pelatih yang memoles beberapa atlet terbaik NTB seperti Sudirman Hadi, Sapwaturrahman, Fadlin, Arif Rahman dan Andrian itu menunjukkan polesan yang matang ke Zohri.

Komang tertarik dengan Zohri karena saat berlari, tungkai dan dorongan saat mengangkat paha itu bagus.

”Saya yakin atlet ini pasti akan jadi,” ujarnya.

Baru bergabung di 2016, Zohri langsung digeber. Waktu pertama kali latihan dengan atlet PPLP yang lain Zohri terlihat kaku. Tapi semua maklum. Pelatih pun melakukan sejumlah pendekatan.

Setelah seminggu berlatih, Zohri mengeluh. Seluruh badannya terasa sakit. Itu wajar saja, karena dia baru pertama kali full latihan selama seminggu. Kalau di KLU dia hanya berlatih dua kali seminggu.

Meski badannya terasa sakit, Zohri tetap ingin latihan. Meskipun Komang sudah melarangnya. “Saya larang dia latihan. Tapi, dia tetap ngeyel dan ingin tetap berlatih,” ingatnya.

Waktu pertama kali melatih,  banyak yang harus dibenahi pada Zohri. Cara larinya masih bengkok dan ayunan tangannya masih belum benar. ”Saya fokus benahi itu saja,” ujarnya.

Dussh. Di Pekan Olahraga Pelajar Nasional 2017 di Semarang, Jawa Tengah, Zohri tampil memukau di nomor 100 dan 200 meter. Keduanya meraih medali emas. Zohri catatkan waktu 10,25 detik di nomor 100 meter.

Prestasi itu membuat para tim talent scoating berdecak kagum. Zohri langsung diangkut ke Pelatnas.

Sebelum berangkat ke Pelatnas, Zohri mengikuti Kejurnas di Papua, November 2017. Dia menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 10,28 detik. Catatan itu menurun dibanding hasil di Popnas. Wajar, karena sudah menjalani race latihan setelah menghadapi Popnas.

Hingga saat itu, dia tak lagi melatihnya. Dia ditangani langsung oleh pelatih pelatnas.

Di mata Komang, Zohri adalah atlet yang disiplin, rendah hati, sederhana,  senang berbagi, dan memiliki mental juara yang tinggi.

”Kalau kita jadwalkan jam 4 dia tetap latihan jam 4,” ungkapnya. Raihan prestasi juara dunia itu merupakan hasil dari kerja kerasnya selama ini.

 

Melejit Setelah di Pelatnas

 

Prestasi Zohri di Pelatnas cukup melejit. Diumur yang masih muda Zohri langsung masuk tim senior pelatnas. Dia dipercaya memperkuat tim estafet 4×100 meter putra bersama Fadlin, Eko Rimbawan, dan Yaspi Boby. Dia berhasil mengemban tanggung jawab yang berat itu dengan prestasi di tes event Asian Games di Stadion Gelora Bung Karno (GBK).

Tim estafet mencetak 39,07 detik. Mereka mengalahkan tim estafet Sri Lanka lewat penampilan Ashrafu ACM dan kolega yang finis dengan waktu 39,71 detik. Di tempat ketiga, perunggu didapat Muhammad Haiqal Hanafi asal Malaysia yang finis 39,91 detik.

Bahkan Zohri yang juga dipercaya turun di tes event tersebut menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 10,25 detik. Catatan waktu itu dia rengkuh di babak penyisihan.

Namun, di partai final Zohri harus puas dengan meraih medali perak dengan catatan waktu  10,32 detik. Selisih 0,2 detik dari sprinter Sri Lanka Vinoj de Ranjaya de Silva Muthumuni (10,30 detik).

Selepas tes event, Zohri langsung berangkat ke Amerika bersama tim estafet Indonesia. Dia menjalani pemusatan latihan sekaligus mengikuti turnamen di beberapa daerah di Amerika. Sepulangnya, dari Amerika Zohri langsung turun di kejuaraan atletik junior Asian di Jepang. Berstatus sebagai pendatang baru, Zohri mampu menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 10,27 detik.

Zohri yang start di line keempat, mampu tampil stabil. Dia bersaing ketat dengan pelari asal Jepang, Daisuke Miyamoto. Namun, 10 meter terakhir, Zohri tak terkejar dan finish paling depan. Puncaknya, di kejuaraan dunia. Dia berhasil membuat publik Indonesia gempar dengan prestasinya.

Nyaris Tak Berangkat

Sementara itu, dari Jakarta dilaporkan, sebelum berangkat, Zohri sempat mengalami masalah pengurusan visa. Dia membutuhkan penjamin untuk mendapatkan visa. Sebab, dia merupakan seorang yatim piatu.

“Saya yang mesti tanggung semua, jika tidak ya tidak dapat visa,” kata Bob Hasan, Ketua Umum PB PASI setelah mengikuti rapat di Kantor Kemenko PMK, Jakarta kemarin.

                Selain Zohri, ada juga Idan, atlet lompat galah putra. Dia terpaksa tidak berangkat lantaran galah yang dia gunakan untuk bertanding tidak bisa masuk ke pesawat. Zohri dinilai sangat istimewa. Secara teknis dia punya bakat alam.

Satu hal yang cukup unik adalah, Zohri terlihat kesulitan mencari bendera Merah Putih untuk selebrasi. Informasi yang diterima koran ini, pelatih memang tidak punya ekspektasi bahwa Zohri bakal menjadi yang tercepat dan selanjutnya menjadi juara dunia.

                Berikutnya, apresiasi muncul atas pencapaian yang diraih Zohri. Salah satunya dari pengurus Real Estate Indonesia (REI), yang menjanjikan sebuah rumah baru. Dari informasi yang berkembang, rumah Zohri di Lombok masih berdinding kayu dan bambu.

Bahkan Menpora Imam Nahrawi, secara pribadi ingin membantu untuk merenovasi tempat tinggalnya. Selanjutnya, Kemenpora juga menyiapkan bonus khusus sebagai apresiasi dari pemerintah.

“Untuk detailnya, sedang kami bahas di internal Kemenpora,” terangnya. Sebagai gambaran, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo mendapatkan bonus senilai Rp 250 juta.

Usia Zohri masih 18 tahun saat ini, secara teknis dia masih punya kesempatan besar memacu prestasinya di masa depan. Hanya, ada beberapa poin yang harus dia jaga, salah satunya yakni agar tidak cepat puas atas segala prestasi yang dia raih.

Berkaca dengan kondisi Sudirman Hadi, olimpian di 2016 yang kini prestasinya menurun. Pemegang rekor nasional 100 meter putra, Suryo Agung Wibowo berharap, PB PASI bisa menjaga dengan baik potensi tersebut. “Karena melihat usia, masih sangat muda, jadi biar prestasi benar-benar puncak dan tahan lama,” terangnya.

                Sementara itu, Presiden Joko Widodo mengapresiasi prestasi yang dicatatkan Mohammad Zohri. Menurutnya, apa yang diraihnya sangat membanggakan bagi Indonesia. “Tentu saja kita bangga ada anak bangsa yang jadi juara. Saya kira tidak saya saja, tapi Seluruh rakyat indonesia tentu senang bangga ” ujarnya usai menghadiri perayaan puncak hari koperasi di ICE BSD, tangerang, kemarin (12/7).

Jokowi menambahkan, peristiwa menambah optimisme Indonesia jelang Asian games 2018. Sebelumnya, Indonesia Open Badminton juga mencatatkan prestasi yang positif. “Itu nanti modal-modal kemenangan seperti ini, kayak kemaren badminton, itu modal Asian Games  2018,” imbuhnya.

Bupati KLU Siapkan Rumah Baru

Sementara itu, Bupati Lombok Utara H Najmul Akhyar berjanji menyiapkan rumah baru bagi Zohri. ”Prestasi Zohri ini merupakan kado terindah untuk ulang tahun Kabupaten Lombok Utara yang ke-10,” ujarnya.

                Najmul pun memastikan bahwa Pemkab KLU akan membangunkan satu unit rumah sebagai penghargaan atas prestasi tingkat dunia yang sudah di dapatkan Zohri.

Najmul berharap, Zohri bisa pulang ke Lombok Utara sebelum HUT Lombok Utara pada 21 Juli mendatang. Sehinga pemerintah bisa mengundang langsung Zohri dan memberikan reward yang disiapkan.

Selain itu, Najmul juga akan memberikan sambutan khusus bagi Zohri saat pulang ke Lombok Utara. Namun, sampai saat ini pihaknya belum mendapatkan kepastian jadwal kepulangan Zohri ke Indonesia.

Lebih lanjut, Najmul mengatakan, untuk pembinaan bibit-bibit atlet di Lombok Utara khususnya atletik, pemda akan melengkapi sarana latihan. ”Kita akan buat lapangan atletik yang lebih luas dan representatif. Kita siapkan di daerah Gondang,” katanya.

                Sementara itu, Ketua PASI Lombok Utara Sudirsah Sujanto juga mengapresiasi prestasi Zohri di kancah dunia tersebut. Pihaknya akan berkoordinasi dengan KONI Lombok Utara untuk memberikan reward atas prestasi yang sudah ditorehkan Zohri. (arl/puj/JPG/r8)

Berita Lainnya

SKD Selesai, Formasi CPNS Lowong

Redaksi LombokPost

Jasad Bayi Membusuk di Bukit Korea

Redaksi LombokPost

Polda NTB Berikan Data Penyidikan ke Bareskrim

Redaksi LombokPost

Waspada Banjir Kiriman!

Redaksi LombokPost

Dinas Pendidikan Loteng Gelar Latihan Dasar Kepemimpinan

Redaksi LombokPost

Waspada Calo PNS !

Redaksi LombokPost

Sosialisasikan Migrasi Aman Dengan Drama Rudat

Redaksi LombokPost

Sukiman Ungkap Kekecawaan di Hari Pahlawan

Redaksi LombokPost

Bank Mandiri-Hiswana Migas-Pertamina Jalin Kerjasama

Redaksi Lombok Post