Lombok Post
Feature Headline

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Lalu M Zohri ketika berlatih di Stadion Madya Senayan Jakarta, Jumat 20/7/18. Foto: Chandra Satwika/Jawa Pos.

Zohri tak akan lupa pesan terakhir sang ayah, Lalu Ahmad, sesaat sebelum kembali ke pangkuan Yang Maha Kuasa. Pesan itulah yang kini selalu tertanam di dalam sanubarinya. Pesan yang turut mengantarkannya menaklukkan dunia.

SUHARLI, Jakarta

===============

SELASA (18/7) lalu, agenda Lalu Muhammad Zohri memang tak padat. Itu sehari setelah dia kembali ke Tanah Air, selepas berlomba dalam Kejuaraan Dunia di Finlandia.

Baru pulang bertanding dan menjadi Juara Dunia, dia mendapat dispensasi sebagai atlet Pelatnas. Semacam istirahat terlebih dahulu. Itung-itung menghilangkan jet lag setelah penerbangan belasan jam dari jantung Eropa.

Itu mengapa, Zohri punya waktu yang begitu lapang hari itu. Mengenakan kaos sport hitam yang dipadu celana sport pendek warna biru, Zohri terlihat riang.

            Padahal, jika di hari lain. Jadwal Zohri seabrek-abrek. Tentu urusannya tak jauh-jauh dari latihan. Hal itu biasanya dilakukannya semenjak pagi. Latihan pagi dimulai pukul 07.00 hingga pukul 10.00. Lalu selanjutnya istirahat siang. Kemudian dilanjutkan lagi dengan latihan sore yang dimulai pukul 15.30 hingga pukul 17.30. Begitu seterusnya. Setiap hari, kecuali hari Ahad.

            Saat Lombok Post bertandang ke kamarnya di Hotel Century Park, Zohri sebetulnya sedang ditunggu pertemuan besar. Seperti khalayak tahu, dia diundang Presiden Joko Widodo ke Istana Bogor. Dan saat koran ini bertemu Zohri, itu sehari sebelum bertemu Kepala Negara. Dan menghadapi pertemuan besar dengan Presiden Jokowi itu, Zohri tak terlihat melakukan persiapan khusus.

            Zohri memang begitu. Sungguh bersahaja. Maka, jadilah kami banyak tertawa-tawa hari itu. Zohri juga banyak bercerita. Terutama soal perjalanan karirnya.

Cerita sempat disela dengan dering telepon. Oh, rupanya Bu Rosida, guru olahraga semasa Zohri masih menempuh pendidikan di SMPN 1 Pemenang yang berada di seberang. Perempuan yang menemukan talenta Zohri itu rupanya sedang berada di Jakarta. Dan bermaksud menemui murid kebanggannya itu di hotel tempat para atlet Pelatnas menginap. Menutup pembicaraan dengan salam takzim, Zohri pun tak bisa menyembunyikan keriangan, manakala tahu Ibu gurunya tersebut akan bertandang.

Sejenak Zohri mengalihkan pandangan ke layar telepon pintar miliknya. Ada sebuah foto di layar utama. Bukan perempuan lho ya. Bukan foto kekasih. Itu foto mendiang ayahnya Lalu Ahmad Yani.

Buat Zohri, orang tua adalah segala-galanya. Dan meski kini kedua orang tuanya telah dipanggil Sang Pencipta, tetaplah, mereka adalah penyemangat baginya.

Dengan bapak dan ibunya, Zohri memang amat sangat dekat. Amat sangat. Dia tak akan pernah lupa akan banyak kenangan dengan orang tuannya itu. Tak terkecuali ekonomi keluarga yang kembang kempis.

Lalu Ahmad, ayahnya Zohri adalah petani penggarap. Hidupnya dari mengerjakan lahan milik orang lain. Zohri juga dulu kerap ikut sama orang tuanya kala mereka bekerja di sawah. Ikut membantu pula apa yang dia bisa.

Tapi, yang paling dia ingat adalah tatkala mencari keong di sawah bersama sang ayah. Keong akan dijadikan lauk setelah sampai rumah. Menceritakan hal ini, bibir Zohri bergetar. Pandangannya menerawang. Tak akan pernah dia lupa, betapa kesal ayahnya, lantaran lauk keong yang dicari bersama dengan buah hati tercinta, setelah matang malah diembat seokor anjing yang tak tahu adat selepas sampai di rumah. Memang sih keongnya masih ada sisa. Tapi, siapa sudi memakan bekas anjing kurang ajar itu.

Saking marahnya, sang ayah mengejar anjing tersebut tunggang langgang. Dengan kayu dipukulnya anjing tersebut. Meraung-raung kesakitan anjing itu seakan meminta belas kasihan. Tapi, sekali lagi siapa yang peduli.

Di mata Zohri, ayahnya adalah juara dunia soal kesabaran. Tak sekalipun ayahnya pernah berbicara dengan nada tinggi. Tak sekalipun ayahnya memukul. Mendapati anaknya yang malas ke sekolah pun, sang ayah tak pernah menghardik.

Suatu hari, Zohri ditanya sang ayah, manakala mereka sedang duduk berdua di depan rumah. Zohri ditanya soal cita-cita. Sigap Zohri menjawab, kalau dia ingin jadi tentara. Ayahnya menepuk pundaknya mendengar cita-cita anaknya. Sebuah cita-cita yang teramat tinggi baginya. Dan sang ayah paham, dengan ekonomi keluarga yang kembang-kempis, mungkin tak mudah mewujudkan cita-cita sang anak.

Toh, pada akhirnya Zohri tahu. Betapa ayahnya, sepanjang hidupnya, terus berdoa yang terbaik untuk hidup anaknya.

Masa depan memang adalah sebuah misteri. Siapa sangka, jalan menjadi tentara itu kini terbuka lebar untuk Zohri. TNI Angkatan Darat siap menerima Zohri tanpa harus melalui tes. Cukup dengan mendaftar saja. Dia sudah bisa menggapai cita-cita masa kecilnya itu.

Tapi, Zohri belum memutuskan. Dia tak hendak buru-buru. Ditunjukkannya pula selembar kertas berisi tawaran menjadi anggota TNI dengan materai Rp 6.000. Belum ia bubuhkan tanda tangan di kertas tersebut.

Dari cerita soal sang ayah, Zohri kemudian bercerita tentang masa-masa awalnya di PPLP NTB di Mataram. Itu adalah fase awal Zohri harus pindah dari sekolahnya di Lombok Utara ke Mataram, untuk ditempat menjadi seorang atlet berprestasi.

“Waktu pindah, bekal saya hanya Rp 50 ribu pemberian bapak,” kata Zohri mengenang. Itu dua tahun lalu. Tahun 2016.

Di PPLP, Zohri sempat patah arang. Sebelum berangkat, Zohri memang mendapat bayangan. Dengan tinggal di Asrama PPLP itu semuanya sudah ditanggung. Dari baju, celana, sepatu, tas, dan uang saku sudah dijamin.

”Karena semua ditanggung, saya hanya membawa satu baju ganti, sepatu sekolah, satu celana pantai, dan satu celana sepak bola,” katanya.

Zohri mengira, semua sarana itu akan langsung didapatkan begitu dia sampai di Asrama PPLP. Nyatanya, perhitungannya meleset. Fasilitas itu baru dia terima setelah tiga bulan di sana.

Maka, jadilah dia hanya bermodalkan satu celana sepak bola dan sepatu sekolah untuk berlatih tiap hari. Latihan yang dijalankan dua kali sehari. ”Saya ingat, itu celana merah,” katanya. Ada logo Barcelona di celana itu. Itu lho, klub ternama dari Spanyol yang menaungi Lionel Messi.

Selama tiga bulan, celana itu saja yang dia gunakan. Sementara nasib sepatunya lebih nahas lagi. Sepatu itu sudah robek setelah dua pekan dipakai Zohri berlatih. Anda yang tinggal di Lombok Utara pasti tahu, bagaimana kualitas sepatu yang dibeli di pasar tradisional. Maka, jadilah Zohri latihan tanpa menggunakan sepatu.

”Kalau celana itu setelah latihan saya cuci langsung. Nah, kalau menjelang sore, celana itu sudah kering. Selesai latihan sore, celana itu saya cuci lagi, saya jemur lagi. Begitu seterusnya,” kenangnya.

Seminggu berlatih tanpa sepatu, pelatih PPLP I Komang Budagama memberikannya sepatu ket dan baju latihan. ”Saya senang sekali waktu menerima semua itu,” ungkapnya.

Saat diberikan sepatu itu, Komang menasihati Zohri untuk tetap semangat berlatih. ”Saya diberikan sepatu itu menggunakan syarat. Yaitu, harus rajin latihan dan berani menyelesaikan program,” ujarnya.

Setelah empat bulan berlatih di PPLP, akhirnya Zohri mendapatkan fasilitas. Dia mendapatkan baju PPLP, celana panjang, sepatu spike, dan sepatu sekolah.

Namun, kualitas sepatu spike tak terlalu kuat. Baru digunakan tiga bulan, sepatu tersebut sudah sobek. Sehingga, Zohri harus meminjam sepatu ke rekan sekamarnya. Namanya Zubaidi. Ukuran kaki Zohri kebetulan sama.

Saat itu, program latihan yang diberikan pelatih sangat berat. Sebab, program latihan itu untuk persiapan Popnas 2017. Pada akhir 2016, sebelum pelaksanaan Popnas, sang ayah dipanggil Yang Kuasa karena sakit Tifus.

Saat ayahnya masih sakit, konsentrasi Zohri berlatih sempat terganggu. Dia tidak tenang berlatih saat itu. Karena tidak konsen berlatih, Zohri pun pulang. Dia menunggu ayahnya yang sedang sakit. Sepekan di rumah, sang ayah menghembuskan napas terakhir.

Pesan ayahnya sebelum meninggal membekas di benak Zohri. Tak akan pernah dia lupakan. Betapa sang ayah ingin anaknya tidak nakal. Menjadi orang kuat dan hebat. Diminta tetap berlatih. Jangan sampai putus sekolah, dan jangan cepat mengeluh. Dan secara khusus, sang ayah juga meminta agar Zohri menjadi pribadi yang selalu pandai bersyukur.

Menceritakan itu, Zohri menitikkan air mata. Diucapnya bulir-bulir air mata yang meleleh. Kembali digigit bibirnya. Dan yang dia tahu, pesan-pesan terakhir sang ayah tersebut adalah penyemangat untuknya.

“Itu menjadi spirit bagi Zohri untuk menghadapi setiap kejuaraan,” tandasnya.

Dan kini seluruh dunia tahu. Betapa Zohri telah mengejutkan dunia. Dia menjadi menjadi Juara Dunia u-20. Dan selisih waktunya amat tipis, hanya 0,01 detik dengan rekor milik Surya Agung, pelari kenamaan Indonesia yang rekornya masih bertahan hingga kini yakni 10,17 detik untuk lari 100 meter.

”Di final waktu itu, saya menjadi sangat bersemangat. Sebelum turun saya tak henti-hentinya berdoa kepada Allah,” ujar Zohri. Itu mengapa, begitu dia tahu dirinya menang, hal yang pertama dilakukannya adalah sujur syukur.

Dari cerita perjalanan hidupnya itu, tentu saja, hidup Zohri kini sudah berubah 180 derajat. Dia tak lagi kesulitan membeli sepatu. Bahkan, sepatunya kini didominasi dengan produksi brand-brand ternama di luar negeri. Celana latihannya tentu saja tak lagi satu. Selain apparel resmi yang digandeng untuk atlet Pelatnas, dia juga sudah mampu membeli baju-baju sport dengan brand-brand ternama dari uangnya sendiri.

Sebagai atlet muda di Pelatnas, Zohri memang diberikan uang saku oleh negara. Dulu besarannya Rp 6 juta sebulan. Sekarang, nilainya sudah naik menjadi Rp 8 juta sebulan. Sementara untuk tempat tinggal dan makanan, sudah pula disiapkan seluruhnya.

Maka, kini hari-hari Zohri disiapkan dengan sibuk menempa diri. Dia memang akan menghadapi pesata olahraga multievent paling akbar di Asia yakni Asian Games. Di mana Indonesia adalah tuan rumah.

Di Asian Games, Zohri akan turun di nomor lari 100 meter dan nomor 4×100 estafet. Di nomor estafet, dia akan berjibaku dengan Fadlin, sprinter asal NTB lainnya, dan juga Eko Rimbawan serta Yaspi Boby, dua pelari dari Kalimantan Tengah, dan Sumatera Barat.

Di lari 100 meter, Zohri tidak dibebani meraih medali. Mengingat di sana yang bertanding adalah pelatih senior mancanegara. Sementara Zohri statusnya masih junior. Sementara di nomor estafet, Zohri dan kawan-kawan, dibebankan meraih medali emas. Sebelum ini, pemusatan latihan juga telah digelar di Amerika Serikat.

Dari NTB, seluruh masyarakat mendoakanmu Zohri. (*/r8)

Berita Lainnya

Kades Jangan Alergi Diperiksa!

Redaksi LombokPost

Surya Paloh Road Show ke Lombok

Redaksi LombokPost

Lima Spa Abal-Abal Ditertibkan

Redaksi Lombok Post

Suka Duka Mahasiswa Bumi Gora Menuntut Ilmu di Benua Biru (2)

Redaksi Lombok Post

Bunuh Diri kok Hobi

Redaksi Lombok Post

Dua Kafe Siapkan Wanita Penghibur

Redaksi Lombok Post

Suka Duka Mahasiswa NTB Menuntut Ilmu di Eropa (1)

Redaksi Lombok Post

Efek Pemberlakuan Sistem Zonasi, Siswa Tak Perlu Daftar Sekolah Lagi

Redaksi Lombok Post

Didukung Warga, Ustad Budi Tak Gentar Dikepung Calon Petahana

Redaksi Lombok Post