Lombok Post
Giri Menang

Mereka yang Mencari Nafkah dari Kerajinan Bambu (1)

BAKAT ALAM: Gufran, salah seorang perajin anyaman bambu di Gunung Sari kemarin (27/7).

Zaman semakin canggih, tetapi kerajinan tradisional masih bertahan. Justru semakin menggeliat. Para perajin bambu yang ada di Gunung Sari membuktikannya.

 HAMDANI WATHONI, Giri Menang.

===========================

Tangannya begitu cekatan. Gerakannya lincah. Ibarat pesilat, para perajin ini sudah profesional. Jemarinya secara bergantian menyilangkan anyaman bambu yang sudah dihaluskan. Hanya dalam hitungan menit, bentuk anyaman mulai terlihat.

Gufran, begitu nama lengkapnya. Pria asal Desa Taman sari Gunung Sari ini tengah membuat anyaman bambu. Ia menceritakan, dulunya anyaman bambu ini dijadikan dinding rumah tradisonal masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok.

“Sekarang biasanya juga dimanfaatkan jadi plafon,” ucapnya.

Meski sambil menjawab pertanyaan Lombok Post, tangannya tetap bergerak. Ia kadang tak perlu melihat.  Gufran sudah hafal betul bagaimana cara membuat anyaman bambu ini. Maklum, ia menuturkan sudah sejak kecil mulai belajar membuat anyaman bambu. Di desanya, di wilayah Gunung Sari, hampir semua orang bisa membuat kerajinan anyaman bambu.

Mulai dari kursi, meja, dinding, hingga kerajinan lainnya. Hasil kerajinan ini pun kian mendapat perhatian. Tidak hanya oleh warga lokal, tetapi juga luar daerah.

“Tergantung kebutuhan. Kalau anyaman seperti ini biasanya jadi plafon. Saya juga bisa buat kurungan ayam atau yang lainnya,” akunya.

Gufran sendiri spesialis pembuat kerajinan dinding dari anyaman bambu. Tak seperti kerajinan lainnya, anyaman bentuk dinding ini memang lebih banyak dicari masyarakat lokal. Meski keuntungannya sedikit, ia mengaku usaha ini cukup menjanjikan. Sehari ia bisa membuat sampai empat dinding anyaman bambu berukuran 4×4 meter. Masing-masing harganya Rp 150 ribu.

Biasanya, pembeli yang datang membeli empat bahkan lebih anyaman. Mereka datang dari wilayah Lombok Barat, Lombok Tengah hingga Kota Mataram. Pesanan anyaman bambu ini terus mengalir. Sehingga, Gufran kadang harus bekerja ekstra.

“Kadang harus dituntut cepat karena banyak pesanan. Tangan luka itu sudah biasa karena teriris bambu yang dihaluskan tipis,” tuturnya.

Namun luka bukanlah perkara yang terlalu harus dipusingkan. Yang terpenting bagaimana pundi rupiah bisa didapatkan dari kerajinan bambu ini.

Luka tersebut bisa sembuh seketika. Meskipun hasil dari kerajinan bambu ini tak banyak,  tapi cukup untuk menghidupi keluarganya.

Alhamdulillah cukup untuk keluarga dan biaya sehari-hari anak,” akunya.

Ia mengaku bekerja sama dengan pemilik modal, ia sendiri hanya mengandalkan keahliannya. Maklum, usaha kerajinan bambu ini butuh modal untuk membeli bahan baku. Selama ini, bahan baku bambu didatangkan dari Lombok Tengah dan Lombok Barat. (bersambung/r3)

Berita Lainnya

Harga Kedelai dan Kacang Tanah Melonjak

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Tiga Desa dan Dua Sekolah Diaudit Khusus

Redaksi LombokPost

PJU di PLTU Jeranjang Segera Dibangun

Redaksi LombokPost

Pemancing Diduga Hanyut di Perairan Labuan Poh

Redaksi LombokPost

Sinyal Mutasi Makin Menguat

Redaksi LombokPost

Sekolah Terdampak Gempa Belum Diperhatikan

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Butuh Lebih Banyak Huntara

Redaksi LombokPost

HUT SMAN 1 Gerung Meriah

Redaksi LombokPost