Lombok Post
Metropolis

Musalla Ini Megah karena Warganya Ikhlas!

KEIKHLASAN BERSAMA: Musalla Nurul Iman Seganteng, Kota Mataram berdiri megah. Saat ini masih terus dibangun dari dana swadaya masyarakat, Kamis (26/7).

MATARAM-Musalla Nurul Iman Seganteng Karang Monjok, Kota Mataram pantas jadi inspirasi. Kemegahan bangunan musalla ini dilandasi semangat warganya berlomba-lomba dalam kebajikan. Tidak ada satu pun lapis masyarakat yang berpangku tangan. Semua terlibat bahu-membahu membangun musalla.

Baik yang jadi pejabat, pengusaha, hingga warga biasa. Dengan kesadaran tinggi dan keikhlasan luar biasa, mereka menyumbang segala yang mereka bisa. Baik harta, benda, tenaga, pikiran, dan waktu.

“Musalla ini dibangun di atas semangat fastabiqul khairat,” kata H Jaeludin, tokoh masyarakat Seganteng Karang Monjok.

Ia salah satu tokoh yang kerap diselimuti rasa syukur jika melihat perkembangan musalla. Perubahannya drastis. Fisiknya sudah jauh berbeda dengan bangunan lama. Seperti bukan musalla lagi. Tapi menyerupai masjid.

“Peran serta masyarakat sangat tinggi dan luar biasa. Ada warga, pengusaha, dan bebarapa caleg juga,” terangnya.

Tapi pria yang juga menjabat sekretaris pembangunan masjid ini perlu meluruskan persepsi publik. Soal anekdot Musalla Caleg yang dibesar-besarkan. Ia ingin mengajak semua orang melihat berdirinya musalla itu sebagai karya bersama. Bukan atas nama jabatan, pangkat, atau profesi.

“Tapi mari melihat ini sebagai sumbangsih warga. Warga yang gemar beramal ibadah sebagai bekal menghadap Sang Pencipta,” nasihatnya.

Pada prinsipnya, caleg yang ikut menyumbang, sekitar tahun 2013, juga warga Seganteng. Karena itu Jaeludin memandang tak elok mempertajam friksi. Di balik anekdot Musalla Caleg.

Nilainya akan sangat kecil sekali jika dilihat dari kaca mata latar belakang penyumbang. “Kalau dilihat dari sisi itu tentu sangat kecil. Para caleg menyumbang sekitar 1 persen. Dari total biaya pembangunan masjid yang mencapai lebih dari Rp 1 miliar,” tuturnya.

Lepas dari friksi atau anekdot yang timbul di tengah masyarakat, Jaeludin tetap bersyukur. Apa yang ia sampaikan bukan berarti menutup ruang sumbangan dari lapisan masyarakat manapun.

“Seperti pak Abdul Malik itu kan orang yang sangat dekat dengan masyarakat. Kita juga bahagia, ada anggota dewan yang sangat peduli dengan tempat ibadah,” ungkapnya bijak.

Ia juga berharap semoga semakin banyak orang beramal dalam suksesi pembangunan musalla. Seperti yang dipraktikan tokoh masyarkat, tokoh agama, dan seluruh lapisan warga. Termasuk caleg yang akan berlaga di 2019 nanti. Tapi tanpa harus membawa embel-embel lantar belakangnya.

“Semua harus berdasarkan keikhlasan. Tanpa mengungkit-ungkit amal baik. Karena saya harus sampaikan juga ada,” pintanya.

Abdul Malik anggota Dewan asal Seganteng pun setuju. Yang paling layak disebut investasinya besar pada musalla itu adalah warga kota. “Sumbangan kami tidak seberapa. Tidak ada apa-apanya dibanding ikhtiar dan semangat warga membangun,” kata Malik.

Jika ada anekdot Musalla Caleg itu hanya celetukan atau anekdot belaka. Tidak akan sama sekali meruntuhkan kemuliaan musalla yang jadi kebaggaan warga itu. “Nama sebenarnya Musalla Nurul Iman,” ujarnya mantap. (zad/r5)

Berita Lainnya

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost

Ayo, Keruk Sungai Ancar!

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Harus Nabung Stok Sabar

Redaksi LombokPost

Pol PP Mengeluh Lagi

Redaksi LombokPost

Evi: Kasihan Pak Sudenom

Redaksi LombokPost

Yang Lolos TKD Jangan Senang Dulu!

Redaksi LombokPost

Sekolah Sesak, ABK Terdesak

Redaksi LombokPost

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost