Lombok Post
Feature Headline

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

HANCUR: Mahsup, salah seorang guru di Desa Madayin menunjukkan rumah Syaifudin yang hancur, kemarin (30/7).

Dua hari setelah gempa mengguncang, warga Sambelia, Lombok Timur dibekap trauma. Bumi yang dipijak bahkan masih terasa bergoyang. Siang maupun malam, warga juga masih belum bisa tidur nyenyak. Gempa memang terjadi sepuluh detik. Namun dampaknya masih terasa hingga jutaan detik kemudian.

————————————————————-

SIRTUPILLAILI, Lombok Timur

AMAQ Ojan alias Fahrudin, warga Dusun Beburung, Desa Madayin, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, hanya bisa meratapi puing-puing rumahnya. Hancur sudah semuanya. Rumah yang ia tempati bersama 13 anggota keluarga itu kini menjadi tumpukan material tak berguna.

                Pakaian, selimut, lemari, kini ia tumpuk di halaman luar rumah. Menjadi satu dengan televisi, alat dapur, dan kompor tanpa api.  Sementara anak, menantu dan cucu-cucunya duduk berselonjor kaki di halaman rumah tanpa alas.

”Di sini (luar) kita tidur,” katanya.

                Saat Lombok Post bertandang ke bekas rumahnya kemarin, salah seorang cucunya sedang sakit. Badannya panas dan lemas karena terkejut dengan gempa. Obat-obatan sudah diberikan, termasuk pergi ke dukun. Kondisi sang cucu terus membaik.

Meski rumah rusak berat, Fahrudin bersama kelurga memilih bertahan di depan rumahnya. Ia mendirikan tenda sederhana. Sebagian lagi anaknya tidur di berugak yang tadinya ada di halaman rumah.  Mereka belum mau ke pokso pengungsian karena terlalu penuh.

”Mudahan dikasih tenda saja biar bisa buat di sini langsung,” harapnya.

                Fahrudin mengaku belum bisa melupakan kejadian gempa Ahad pagi itu. ”Jangankan perempuan. Kita saja yang laki-laki leger (takut) kayak begini,” katanya.

Saat kejadian, ia sedang bersiap-siap berangkat ke kebun. Dari semula pelan, getaran gempa semakin kencang. Tembok dan atap pun seketika retak. Mengetahui situasi semakin gawat, Fahrudin pun panik dan lari tunggang langgang. Tapi saat berusaha kabur ia terjatuh karena getaran gempa sangat keras. Untungnya, saat itu semua anggota keluarga sudah berada di luar.

Kejadian itu benar-benar membuatnya takut. Sebab, baru pertama kalinya ia merasakan gempa yang begitu dahsyat. Selama puluhan tahun tinggal di Sambelia, baru kali ini merasakan gempa sedahsyat itu. Sekarang, ia berharap bisa segera mendapat bantuan. Minimal diberikan terpal agar bisa membangun tenda di depan rumahnya.

Sampai sekarang kami belum berani masuk, goyang sedikit saja roboh lagi rumah ini,” tuturnya.

Tidak hanya Fahrudin. Di kampung tersebut juga banyak warga yang mengalami hal serupa. Rumah mereka ambruk dan kini menjadi tumpukan bagunan. Bahkan, Syaifudin, 25 tahun, salah seorang tetangganya luka parah akibat ditimpa bangunan rumah yang roboh. Saat itu, ia masih tidur seorang diri di dalam rumah. Begitu gempa, Syaifudin tidak sempat melarikan diri dan tertimbun.

Beruntung, salah seorang warga mendengar suara minta tolong dari balik runtuhan bangunan itu. Baru setelah itu, korban diangkat, namun konidisinya terluka parah. Mulai dari kaki patah, bagian kepala dan punggungnya.

”Sekarang dia dirujuk ke rumah sakit,” tutur Mahsup, seorang guru yang datang membantu warga.

Nyawa Syaifudin tertolong berkat sepeda motor yang ditaruh di dalam rumahnya. Bangkai motor itu menahan kayu balok dan atap yang jatuh, sehingga sedikit tertahan sebelum menimpa Syaifudin.

”Saat kita keluarga, kondisinya lemas sampai sekarang,” tuturnya.

Robohnya rumah warga juga dipengaruhi bahan bangunan yang tidak tahan gempa. Hampir semua rumah berbahan dasar batako dan tanpa tulang besi. Sehingga bila terjadi goncangan gempa, rumah akan cepat roboh. ”Semua rumah di sini retak,” katanya.

 Trauma juga masih dirasakan Nasib. Bapak lima anak itu belum bisa tenang. Ia mengangkut semua keluarganya ke posko pengungsian. Gempa secara tiba-tiba itu benar-benar membuatnya shock. Apalagi gempa pada Ahad itu terjadi sepanjang hari sebanyak 133 kali.

”Anak saya masih sakit, dia masih takut,” katanya.

Gempa Ahad pagi itu nyaris merenggut nyawa anaknya. Kala itu, Mutia sang anak sedang asyik nonton film kartun kesayangannya di televisi. Tapi tiba-tiba dalam 10 detik gempa terasa sangat keras dan membuat barang di rumahnya berjatuhan. Termasuk televisi jatuh di depan anaknya yang sedang menonton. Untungnya tidak sampai menimpa sehingga buah hatinya selamat.

Saat kejadian, situasi menjadi panik. Nasib tidak berpikir panjang. Ia langsung menyelamatkan anak-anaknya. Berbarengan, ada pula isu tsunami. Ia dan warga pun berlarian hingga ke tepi hutan yang lebih tinggi lokasinya. Jaraknya hingga satu kilometer dari rumahnya.

Kini Nasib hanya bisa meratapi nasibnya. Ia berharap tidak ada lagi gempa susulan. Sebab, ia dan keluarganya benar-benar trauma. Meski begitu, banyaknya warga yang peduli membuatnya sedikit tenang. (*/r8)

Berita Lainnya

ITDC Pinjam Rp 3,6 Triliun ke AIIB

Redaksi LombokPost

Mohan Bikin Kejutan di Mataram Jazz & World Music Festival 2018

Redaksi LombokPost

Setengah Hati Urusi Bisnis “Nakal”

Redaksi LombokPost

Jalan Terjal Memburu Para Bandar

Redaksi LombokPost

Gempa Lagi, Panik Lagi

Redaksi Lombok Post

Pintu Beasiswa Eropa Terbuka Lebar untuk Pelajar NTB

Redaksi Lombok Post

Gempa Lagi, Lombok Belum Stabil

Redaksi Lombok Post

Dompet PNS Makin Tebal, Pemkot Siapkan Rp 363 Miliar

Redaksi Lombok Post

Gubernur Blusukan di Kampus-kampus Polandia

Redaksi Lombok Post