Lombok Post
Headline Metropolis

Pendakian Rinjani Ditutup tanpa Batas Waktu

LOMBOK TIMUR–Evakuasi pendaki Gunung Rinjani selesai sekitar pukul 11.25 WITA kemarin (31/7). Tiga pendaki yang sempat terjebak di gunung dengan ketinggian 3.726 mdpl itu diselamatkan menggunakan helikopter. Pun begitu jenazah mahasiswa asal Makassar bernama Muhammad Ainul Muskin. Badan Nasional Pencarian dan Penyelamatan (BNPP) dan Basarnas sudah memastikan tidak ada lagi pendaki di gunung tersebut.

Pantauan Lombok Post Sejak di Sembalun, kemarin, persiapan evakuasi sudah dimulai semenjak pukuk 06.00 WITA. Saat itu, tim menambah kekuatan untuk melakukan evakuasi melalui jalur darat. Mereka memberangkatkan enam tim dari Grahapala Rinjani Unram dan mengirim logistik berupa makanan tambahan.

Pada saat bersamaan, tim udara juga menggelar rapat tertutup di lokasi yang sama. Rapat tersebut langsung dipimpin Pangdam IX Udayana Mayjen TNI Benny Susianto. Melihat kondisi cuaca yang bersahabat, tim langsung bergerak. Tim mengerahkan helikopter untuk melakukan evakuasi.

Pukul 8.24 WITA helikopter PK-ZGT milik PT Amman Mineral mendarat di Lapangan Sembalun, Lombok Timur. Helikopter tersebut dikemudikan Kapten Bronte. Lalu diskusi intens terkait rencana evakuasi dimatangkan.

            Direktur Operasi dan Latihan Basarnas Brigjen TNI (Mar) Bambang Suryo Aji yang berada di Sembalun mengungkapkan, sejak awal pihaknya memang sudah menyiapkan dua strategi evakuasi. Tujuannya tidak lain untuk mengantisipasi cuaca buruk yang kerap jadi kendala. Maksimal kemarin sore.

”Pukul 17.00 WITA harus sudah klir,” imbuhnya. Sejak evakuasi mulai berjalan Minggu (29/7), kemarin tinggal enam orang dan satu jenazah yang berada di Gunung Rinjani.

Sisanya sudah turun gunung lebih dulu. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, jumlah pendaki yang turun Gunung Rinjani sejak Minggu sampai kemarin sebanyak 1.226 jiwa. Itu tidak termasuk satu jenazah korban meninggal dunia. Dari angka tersebut, Bambang menuturkan, 543 di antaranya turun gunung dua hari lalu (30/7).

”Hari ini (kemarin) tiga pendaki dan satu jenazah,” imbuhnya.

            Selain itu, ada seorang guide dan dua porter. Namun demikian, mereka tidak dievakusi menggunakan helikopter. Melainkan turun gunung bersama tim darat yang dikerahkan oleh Basarnas, TNI, maupun Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Berdasar pantauan koran ini, persiapan evakuasi enam orang dan satu jenazah kemarin sudah dimulai sejak Senin.

”Kemarin (Senin) ada 40 orang yang kami berangkatkan (tim darat),” ucap Bambang.

            Tim darat berikutnya berangkat kemarin pagi. Mereka bertolak dari Sembalun sekitar pukul 08.30 WITA. Selain mengantisipasi cuaca buruk yang berpotensi mengganggu operasional helikopter, tim darat diperintahkan untuk mengirim logistik tambahan untuk enam orang yang akan dievakuasi. Mereka juga dapat tugas memastikan lokasi pendaratan helikopter. Sehingga evakuasi berlangsung lebih cepat.

            Kemarin, bukan hanya Bambang yang turun langsung memimpin evakuasi enam orang itu. Turut hadir Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Benny Susianto. Helikopter yang disiapkan pun tidak hanya satu. Ada helikopter milik TNI AD, helikopter Basarnas, dan helikopter dari PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Namun, hanya satu helikopter yang memungkinkan dipakai evakuasi. Yakni helikopter milik PT AMNT.

            Sekitar pukul 08.42 WITA, helikopter itu memulai evakuasi. Mereka bergerak dari Posko Kesehatan di Sembalun ke Danau Segara Anak. Dari sana tiga pendaki dibawa ke Sembalun. Ketiganya bernama Suharti, M. Bagus Novandi, dan Erlin Halimatussadiyah.

Sujud Syukur

Ketiga pendaki terakhir yang dievakuasi dari Danau Segara Anak tersebut langsung sujud syukur setelah turun dari helikopter yang membawa mereka. Ketiganya kemudian langsung mendapatkan perawatan intensif dari dokter di tenda pengungsian.

Dipastikan kondisi ketiganya tak terjadi apa-apa. Tak hanya fisik. Dokter juga memastikan psikologis ketiganya membaik. Sebelumnya, mereka trauma atas bencana longsor yang terjadi di Gunung Rinjani.

Ketika diwawancari usai dievakuasi, Bagus mengaku senang. Sebab, dia sudah tiga hari terjebak di Gunung Rinjani.

            Selama menunggu bantuan datang, Bagus yang masih berusia 23 tahun tidak henti berdoa. Dia memohon supaya tim penyelamat segera datang. ”Kami menginap dua malam di Danau Segara Anak,” ucap dia. Sesuai doanya, kemarin helikopter membawa mereka ke Sembalun. Selanjutnya helikopter tersebut kembali terbang. Pada penerbangan kedua, target mereka dalah jenazah korban meninggal dunia.

            Sebelum diterbangkan jenazah dipanggul oleh tim darat ke Plawangan Sembalun. ”Karena di Plawangan (Sembalun) itu satu-satunya yang bisa landing helikopter (selain Danau Segara Anak),” jelas Bambang. Bertolak dari Posko Kesehatan sekitar pukul 11.00 WITA, helikopter itu sudah kembali sekitar pukul 11.25 WITA. Jenazah mahasiswa asal Makassar yang sudah ditinggalkan sejak Minggu itu lantas di bawa ke rumah sakit.

            Menurut Bambang jenazah itu perlu diurus lebih dulu sebelum dibawa keluarga ke Makassar. Bersamaan dengan mendaratnya helikopter pasca mengangkut jenazah, evakuasi pendaki Gunung Rinjani dinyatakan selesai. Perwira tinggi (pati) TNI dengan satu bintang di pundak itu pun menyampaikan bahwa tim darat yang turun bersama dua porter dan seorang guide sudah menyisir jalur pendakian gunung tersebut.

            Hasilnya klir atau sama sekali tidak ada pendaki yang tersisa. ”Klir, sudah aman saya pastikan,” tegasnya. Selanjutnya Basarnas berjaga di posisi yang sudah ditetapkan sebelumnya. Termasuk di antaranya di Sembalun. Bambang tidak langsung menarik mundur anak buahnya untuk mengantisipasi kondisi darurat. ”Kami tetap stand by,” kata dia menambahkan.

            Sementara itu, Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Benny Susianto menambahkan, selanjutnya TNI, Polri, Pemda, dan instansi lainnya tinggal mendata bangunan yang rusak akibat gempa. Pendataan sekaligus verifikasi untuk memastikan bangunan rusak berat, sedang, atau ringan. Sebab, bantuan diberikan sesuai tingkat kerusakan. ”Jumlahnya berapa kami verifikasi dulu,” imbuhnya.

Sementara itu, tadi malam Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbaharui data jumlah pendaki yang dievakuasi. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan pembaharuan data itu dilakukan setelah ada pencocokan data dari berbagai pihak.

Di tempat yang sama, meski sudah dinyatakan klir tak ada pendaki lagi di Rinjani, khalayak juga diminta melapor jika memang memiliki keluarga yang mendaki dalam sepekan terakhir dan belum pulang. Laporan bisa disampaikan langsung ke posko pengaduan yang ada di Sembalun.

“Kapan pun kami siap untuk mencarinya bersama tim,” tegas Bambang.

Dia berharap, tidak ada lagi persoalan yang timbul. Korban yang dievakuasi dan tim yang melakukan evakuasi bisa turun dengan selamat.

Sementara itu, Dandim 1615/Lotim Letkol Infanteri Agus Setiandar menambahkan, sebelum diterbangkan ke daerahnya, jenazah M Ainul Takzim akan divisum terlebih dahulu. Guna memastikan penyebab kematiannya. “Apakah benar karena benturan atau tidak,” kata Agus.

            Dari informasi awal, Ainul tertimpa reruntuhan longsor. Tenda yang ditempatinya terkena batu.

“Saya dengar, terkena batu dibagian kepala dan pendarahan sehingga tidak bisa tertolong,” ungkapnya.

            Tetapi informasi itu hanya sifatnya belum pasti. Untuk memastikannya harus di lihat melalui hasil medis.

“Kita lihat lewat hasil medis dulu baru kita bisa klaim penyebab kematiannya,” ujarnya.  Dijadwalkan, jenazah akan Ainul akan dikirim ke kampung halamannya hari ini (1/8).

Rinjani Ditutup

Kini, setelah tak ada lagi pendaki yang harus dievakuasi, pendakian ke Gunung Rinjani dipastikan masih akan ditutup. Selama apa penutupan akan berlangsung, belum diputuskan.

”Kita tutup sementara waktu pendakian,” kata Kepala Balai TNGR Sudiyono kepada Lombok Post di Sembalun, kemarin.

Dia belum memastikan sampai kapan pendakian ditutup. Dia menginginkan keadaan di puncak Rinjani  semakin membaik.

“Kalau sekarang kondisinya tidak memungkinkan untuk di daki,” jelasnya.

Saat ini, ada beberapa jalan yang longsor dan retak. Keadaan itu sangat membahayakan pendaki.

”Banyak titik yang longsor,” ujarnya.

Apabila longsor, keadaan tanahnya sedikit gembur. Apabila ada getaran lagi, pasir dan batu yang berada di tebing tersebut akan turun.

”Itu sangat berbahaya,” ujarnya.

Jadi, Rinjani ditutup sampai kapan?

”Saya tidak bisa memastikan sampai kapan akan dibuka,” tandasnya. (arl/JPG/r8)

Berita Lainnya

Korban Gempa Tagih Janji Jokowi

Redaksi LombokPost

Bantuan Air Bersih Dihentikan

Redaksi LombokPost

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

Pilkades Serentak Harus Dievaluasi

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

7.000 Petisi Penolakan Juknis Bantuan Gempa

Redaksi LombokPost

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost