Lombok Post
Metropolis

Pedagang Daging Ayam Banting Harga

BANTING HARGA: Nurhayati, penjual daging ayam sedang melayani pembeli di Pasar Ampenan, Kota Mataram, kemarin (3/8).

MATARAM-Padagang daging ayam di Pasar Ampenan terpaksa banting harga. Ini terpaksa dilakukan lantaran sepinya pembeli, pascanaiknya harga daging ayam beberapa pekan terakhir ini.

“Pembelinya sepi, kita turunkan sendiri harganya (daging ayam),” kata Nurhayati salah satu pedagang daging ayam di pasar setempat, kemarin (2/8).

Ia rela mengurangi keuntungan, agar daging ayam yang dijualnya cepat habis. Mengurangi harga jual harus dilakukannya, meski harga daging ayam dari pemasok masih mahal.

“Kita turunkan (harga), yang penting balik modal,” paparnya.

Sepinya pembeli terjadi sejak beberapa pekan terakhir ini. Harga daging ayam yang sempat mencapai Rp 60 ribu lebih, kini berkisar Rp 40 ribu per kilogram (kg).

“Masih sedikit mahal, sebab normalnya Rp 35 ribu per kg,” imbuh Nurhayati sembari tetap melayani pembeli.

Fahrihin pedagang lainnya menuturkan, ia berani menurunkan harga daging yang dijualnya menjadi Rp 39-40 ribu per kg. Lebih murah seribu rupiah dibanding pedagang lainnya. Ia terpaksa melakukannya agar daging ayam yang dijualnya cepat laku. Apalagi jika tidak terjual, daging ayam akan mudah membusuk.

“Saya juga mengurangi stok. Kalau stok banyak nanti malah rugi. Pembeli masih sedikit,” paparnya.

Kumalasari salah satu warga mengaku, dirinya sudah jarang membeli daging ayam. Ia membeli daging ayam hanya seminggu sekali.

“Biasanya seminggu itu bisa empat kali beli daging ayam. Masih mahal sih harganya,” ungkapnya.

Selain daging ayam, harga telur ayam juga sudah mulai turun. “Pernah Rp 50 ribu per tray, kemudian turun seribu rupiah. Kini kisaran Rp 47 ribu per tray,” ucap Hj Badriah penjual telur ayam di pasar Ampenan.

Mahalnya telur karena dari pemasok harga telur ayam masih mahal. Alasannya, cuaca buruk di perairan menghambat pengiriman telur ayam dari Pulau Bali menuju Lombok.

“Karena masih mahal, pembeli (telur ayam) juga berkurang,” tukasnya. (ewi/r3)

Berita Lainnya

Zul-Rohmi Perlu Banyak Sosialisasi

Redaksi Lombok Post

Mengejar Mimpi Jadi Daerah Industri

Redaksi Lombok Post

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Tolong, Jangan Masuk Angin!

Redaksi LombokPost

Volume Monumen Tak Sesuai Kontrak, Rekanan Didenda Rp 1,2 Juta Perhari

Redaksi LombokPost