Tanjung

Rekonstruksi Harus Antigempa

TANJUNG-Gempa bumi yang mengguncang Lombok Utara menimbulkan kerusakan merata hingga seluruh kecamatan yang ada. Ribuan bangunan rumah, fasilitas umum mengalami rusak berat yang harus direkonstruksi, bukan hanya sekdar perbaikan.

Kepala BNPB Willem Rampangilei mengatakan, berbicara mitigasi gempa tentu perlu berbicara soal building board. Pembangunan ulang rumah dan fasum yang rusak berat harus diperhatikan sehingga bisa tahan terhadap gempa bumi.

“Jadi rekonstruksi bangunannya nanti harus diperhatikan,” ujarnya, kemarin (10/8).

Ia menuturkan, untuk masalah kebijakan rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan, satgas sudah menyampaikan kepada korban jika ada tim verifikasi. Tim akan melakukan verifikasi apakah masuk dalam kategori berat atau ringan.

“Setelah itu dibuatkan SK oleh bupati dengan by name by address dan akan diberikan nomor rekening bank,” jelasnya.

Dana bantuan stimulan dari pemerintah pusat itu lalu bisa dikirimkan ke Pemkab Lombok Utara dan langsung diteruskan ke masyarakat. Kemudian akan diserahkan ke kontraktor untuk membangun dengan supervisor dari Kementerian PUPR. Satu rumah akan diberikan Rp 50 juta jika rumahnya dinyatakan rusak berat.

“Sementara rusak ringan sebesar Rp 10 juta,” sambungnya.

Untuk menentukan rusak berat atau ringan dapat dilihat dari kondisi bangunannya sendiri. Kategori rusak berat sudah dipastikan tidak bisa dibangun kembali. Sementara rusak ringan masih bisa dilakukan perbaikan karena bangunan utama masih berdiri kokoh.

“Jadi itu semua mekanisme dan indikatornya sudah ada ada dinas PU,” ungkapnya.

Hal ini termasuk juga pada fasilitas umum seperti rumah sakit. Willem mengaku sudah menerima laporan jika ada RSUD yang berbahaya. Sebab itu pihaknya akan menurunkan tim untuk memverifikasi apakah gedung rumah sakit itu masih aman atau memang harus dilakukan perbaikan.

“Di dalam penanggulangan bencana ada yang namanya suatu kegiatan yang disebut DALA atau Damage And Loss Assessment,” pungkasnya.

Willem mengatakan, saat ini sedang melakukan assessment untuk melihat seberapa besar kerusakan. Baik itu perumahan, fasum dan infrastruktur lainnya.

“Untuk mengecek kerugian kita, butuh waktu sekitar enam bulan untuk itu,” tandasnya. (fer/r7)

Related posts

Horison Groups Bantu Korban Gempa

Redaksi Lombok Post

RTLH Gak Boleh Bermasalah Lagi

Redaksi Lombok post

Hadirkan Drama Kolosal Jenderal Soedirman di Dua Kecamatan

Iklan Lombok Post