Lombok Post
Headline NASIONAL

Tiga Jamaah Haji NTB Meninggal di Tanah Suci

MAKKAH–Ibadah haji memang memerlukan ketahanan fisik. Terutama saat proses melempar jumrah.

Sebab, jarak dari tempat melempar jumrah dengan tenda jamaah haji Indonesia sekitar 3 km atau pergi pulang 6 km. Jarak sejauh itu harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Karena jarak yang jauh itu pula, banyak jamaah haji Indonesia yang terkapar di pinggir jalan pada hari pertama melempar jumrah, Selasa dini hari (21/8).

Kebanyakan adalah jamaah yang usianya di atas 50 tahun. Wartawan Jawa Pos dan para petugas haji harus pontang-panting membantu mengantar jamaah yang kelelahan dan tersesat.

Beberapa jamaah yang ditanya Jawa Pos mengaku tak mau lagi melanjutkan melempar jumrah. Mereka memilih membadalkan (menitipkan) prosesi tersebut ke rekan sekloter yang masih muda dan sehat.

’’Kapok saya. Tak mampu lagi rasanya,’’ keluh Ahmad Badri, jamaah haji asal Aceh.

Saat itu Badri mendatangi koran ini yang sedang stand by di posko Misi Haji Indonesia di maktab 50, Mina. Badri berjalan tertatih dengan peluh membasahi sekujur tubuh.

Pria 72 tahun itu tak tahu jalan kembali ke tendanya di maktab 43. Dia berangkat ke Jamarat sekitar pukul 19.00. Karena tersesat, dia baru menemukan posko petugas haji sekitar pukul 01.00. Artinya, selama enam jam dia berputar-putar tak tahu arah.

’’Tadi berangkat bareng rombongan. Tapi, saya terpisah, udah gak kuat lagi berjalan mengikuti rombongan,’’ katanya.

Namun, Badri menolak diantar dengan menggunakan kursi roda. Dia memilih menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk berjalan kaki menuju tenda. Saat diantar ke tenda, Badri memegang erat lengan koran ini, seakan takut ditinggal.

’’Besok saya tak mau lagi ke Jamarat. Saya titip teman saja,’’ katanya lagi.

Sepanjang perjalanan menuju tenda, Badri terus mengeluhkan jauhnya Jamarat. Terkadang dia mengomel menggunakan bahasa daerahnya.

Prosesi melempar jumrah memang berlangsung selama tiga dan empat hari. Tiga hari untuk mereka yang memilih nafar awal dan empat hari untuk nafar tsani. Hari ini merupakan hari terakhir lempar jumrah bagi mereka yang memilih nafar tsani. Sedangkan kemarin adalah hari terakhir nafar awal. Karena itu, kemarin jalanan menuju Jamarat tampak padat. Ribuan orang dari berbagai negara berduyun-duyun menuju gedung Jamarat yang berlantai tiga itu.

Pantauan koran ini, jamaah biasanya berjalan berkelompok. Di baris depan ada jamaah yang membawa bendera negara serta nama rombongan. Di antara sekian banyak bendera itu, terlihat juga beberapa rombongan berbendera Indonesia. Namun, melihat padatnya suasana, mereka akhirnya menunda jadwal lempar jumrah.

Proses melempar jumrah sebenarnya bisa dibadalkan. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menegaskan, jamaah lansia atau mereka yang punya masalah kesehatan sebaiknya tidak perlu melempar jumrah sendiri.

’’Jamaah kita yang lansia atau dari sisi kesehatan tidak memungkinkan menempuh perjalanan berkilo-kilo, sebaiknya dibadalkan atau digantikan. Kalau yang sehat, ya tentu harus melakukan sendiri,’’ katanya. Menag meminta para kepala regu, kepala rombongan, dan pembimbing ibadah haji terus mengingatkan hal tersebut. ’’Khususnya kepada lansia yang kondisi fisiknya tidak memungkinkan ke Jamarat,’’ ingatnya.

Karena jarak yang jauh pula, sebagian jamaah haji Indonesia tak mau tinggal di tenda. Terutama mereka yang hotelnya dekat ke Jamarat. Misalnya, jamaah haji yang tinggal di sektor 1, Syisyah.
Mereka hanya ke Mina untuk mabit (menginap sejenak) selama delapan jam, lempar jumrah, lalu kembali ke hotel. Begitu juga dengan jamaah haji yang tendanya berada di Mina Jadid (daerah perluasan Mina).

Untuk yang itu, mereka tak mau tinggal di tenda karena merasa Mina Jadid bukan Mina. Padahal, mabit harus dilakukan di Mina. ’’Masak malamnya disebut Muzdalifah, eh paginya tiba-tiba disebut Mina, kan aneh,’’ kata Zubaidah, jamaah haji asal embarkasi Batam, kepada Jawa Pos di Jamarat.

Area Mina Jadid memang beririsan dengan Muzdalifah. Zubaidah dan rombongannya memilih mabit di pelataran Jamarat. Mereka rela kehilangan jatah makannya di maktab Mina. ”Tidak apa-apa meski gak dapat makan. Saya dan teman-teman bisa masak sendiri, yang penting hajinya sah,’’ ujar Zubaidah.

Sementara itu, bantuan untuk jamaah haji Indonesia tidak hanya berasal dari petugas haji dalam negeri. Beberapa jamaah haji dari negara lain ikut membantu. Imam Hambali, jamaah haji asal Nganjuk, adalah salah seorang yang merasakan bantuan tulus dari warga Syria. Rabu malam (22/8) Imam hendak melontar jumrah di Jamarat.

Di tengah perjalanan, kakinya mendadak berat. Dia lelah. Telapak kaki kiri lecet dan melepuh. Namun, guru Madrasah Tsanawiyah Ponpes Sabilil Muttaqin, Kauman, Ploso, itu mencoba menyelesaikan melempar jumrah.

Melihat langkahnya tertatih, tiga jamaah haji dari Syria menawarkan bantuan. Karena tidak punya kursi roda atau tandu, tiga warga Syria yang bertubuh tinggi tegap itu meminta Imam naik ke pundak mereka untuk dipanggul.

Semula Imam merasa sungkan. ”Saya bilang nggak mau, tapi dipaksa,” ujar Imam saat ditemui di maktab 37, Mina.

Oleh tiga jamaah Syria itu, Imam dibawa ke ujung pintu keluar Jamarat. Di sana Imam akhirnya dirawat Tim Gerak Cepat PPIH Arab Saudi.

Jamaah Meninggal

Sementara itu, hingga kemarin, total sebanyak 25 jamaah haji Indonesia telah wafat di Tanah Suci. Sebanyak tiga orang di antaranya adalah jamaah haji asal NTB yang diberangkatkan melalui Embarkasi Lombok.

Seluruh jamaah haji NTB tersebut meninggal saat di Makkah. Ketiganya adalah Saodah Taali Jaila jamaah kloter lima. Meninggal pada 16 Agustus 2018 di pemondokan disebabkan circulatory diseases pada usia 70 tahun. Kedua adalah Muhammad Tahir Ahmad Mahmud, juga dari kloter lima. Meninggal pula pada 16 Agustus di RSAS disebabkan respiratory. Dan ketiga adalah Hirjan bin Munakip, kloter pertama yang meninggal pada 19 Agustus pada usia 67 tahu. (oni/c10/ttg/JPG/r8)

Berita Lainnya

Jasad Bayi Membusuk di Bukit Korea

Redaksi LombokPost

Polda NTB Berikan Data Penyidikan ke Bareskrim

Redaksi LombokPost

Waspada Banjir Kiriman!

Redaksi LombokPost

Dinas Pendidikan Loteng Gelar Latihan Dasar Kepemimpinan

Redaksi LombokPost

Waspada Calo PNS !

Redaksi LombokPost

Sosialisasikan Migrasi Aman Dengan Drama Rudat

Redaksi LombokPost

Sukiman Ungkap Kekecawaan di Hari Pahlawan

Redaksi LombokPost

Bank Mandiri-Hiswana Migas-Pertamina Jalin Kerjasama

Redaksi Lombok Post

Baru Satu Kabupaten Ajukan UMK

Redaksi LombokPost