Lombok Post
Headline Metropolis

Bantuan Presiden Belum Cair, Sekolah Sudah Aktif, Siswa Masih Trauma

BELUM CAIR: Hadijah, warga Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari menunjukkan buku tabungan yang diberikan Presiden Jokowi, beberapa waktu lalu.

MATARAM-Warga sudah tidak sabar ingin membangun rumahnya. Tapi niat itu tak bisa terwujud. Dana bantuan pemerintah yang diteriakkan Presiden Joko Widodo di depan para pengungsi belum bisa dicairkan. Meski buku tabungan senilai Rp 50 juta sudah di tangah, uang ternyata belum bisa dipakai.

Hal itu dialami Sujito, warga Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat. Bantuan uang atas nama istrinya Hadijah diberikan langsung Presiden Joko Widodo, saat penyaluran di Desa Pemenag, Lombok Utara, Minggu (2/9). Semiggu berselang, bantuan Pak Presiden itu belum juga cair.

Kepada Lombok Post, Hadijah istri Sujito menunjukkan buku tabungan BRI atas nama dirinya. Di dalam buku itu tertera uang senilai Rp 50 juta. ”Belum tahu, belum ada informasi (pencairan),” kata Sujito.

Sujito masih menunggu informasi dari aparat desa. Kapan dana bisa cair. Sebab pencairan baru bisa dilakukan setelah ada petunjuk dari pemerintah. Ia pun nurut dan tidak pernah mencoba pergi ke bank. ”Kalau memang nanti saatnya, katanya akan diumumkan lewat desa,” tutur pria paro baya itu.

Karena bantuan belum cair, ia pun belum bisa membangun kembali rumahnya. Ia dan keluarganya masih tidur di tenda. Sujito sangat berharap uang segera keluar agar bisa segera membangun. ”Masalah uang sangat butuh, bila sekarang keluar, sekarang kita bangun supaya ekonomi kita lancar,” harap Sujito.

Sejak rumahnya hancur, Sujito sampai sekarang belum bisa bekerja. Usaha kerupuk yang ditekuninya juga terkena imbas. Semua alat produksi rusak bersama rumah yang ambruk.

Praktis, tidak ada penghasilan masuk sejak gempa terjadi. Kalau pun mau produksi, para pelanggannya di Lombok Utara juga terkena gempa. Sehingga ekonomi keluarga benar-benar kolaps.

Dengan kondisi itu, warga sangat bergantung dari bantuan pemerintah. Berapa pun bantuan diberikan, mereka akan sangat bersyukur. Pemerintah tidak perlu khawatir, warga pasti menggunakan uang itu untuk membangun rumah. Apalagi warga sudah tidak tahan tinggal berdesak-desakan di tenda pengungsian.

”Saya yang penting itu rumah, tidak ada yang lain,” tegasnya.

Hadijah khawatir bila hujan tiba, mereka akan kedinginan. Mereka pun mulai membangun hunian sementara dari bedek bekas. Itu akan dipakai selama rumah belum dibangun.

Sebelumnya, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB H Muhammad Rum menjelaskan, bantuan belum cair karena belum ada surat permintaan pencairan dari bupati/wali kota. BNPB akhirnya memblokir dana tersebut karena syarat pencairan belum lengkap.

Untuk itu, para bupati/wali kota diminta segera mengirim surat permintaan ke BNPB. Jumlah bantuan yang ditransfer Rp 284,9 miliar lebih untuk 6.410 rumah rusak. Rp 274,1 miliar lebih diantaranya untuk rumah rusak berat, Rp 2,5 miliar lebih untuk rusak sedang, dan Rp 8,2 miliar lebih untuk rumah rusak ringan.

Presiden Joko Widodo telah menyalurkan bantuan secara simbolis kepada 5.293 orang korban gempa, di Desa Pemenang, Lombok Utara, awal pekan lalu.

 Sekolah Mulai Aktif

Sementara itu, proses belajar mengajar sudah dimulai. Guru dan siswa sudah mulai masuk kelas. Tapi belum semua siswa datang ke sekolah.

Seperti di SDN 3 Kekait, Gunungsari. Sudah seminggu siswa belajar di dalam kelas. Tapi rasa trauma akan gempa belum hilang sepenuhnya. Guru dan siswa masih cemas. ”Anak-anak masih trauma. Truk lewat mereka lari keluar,” ungkap Khairatunnisa, 45 tahun, guru kelas SDN 3 Kekait.

Guru dan kepala sekolah berupaya agar para siswa tetap bisa belajar. Sebab sebentar lagi para siswa akan ujian. Bila tidak masuk, para siswa tidak akan bisa menjawab soal ujian.

Meski sudah masuk, namun belum semua siswa datang ke sekolah. Kelas tidak pernah penuh. Dari 22 orang siswa yang diajarnya, yang masuk hanya 15 orang. Total jumlah siswa kelas I sampai VI sekitar 150-an orang lebih.

Sebagian tidak masuk karena anak-anak tersebut tinggal di pengungsian. Selain lokasi pengungsian jauh, sebagian orang tuanya masih takut anaknya masuk sekolah. ”Kalau ada gempa orang tua pasti datang jemput anak ke sekolah,” katanya.

Aktivitas belajar sudah hampir pulih. Tapi pascagempa, jam belajar dikurangi. Masuk 07:30 Wita mereka pulang 12:00 Wita. Biasanya pulang pukul 13:00 Wita. ”Sudah mulai efektif sebenarnya,” ujar Kahiratunnisa. (ili/r5)

Berita Lainnya

Taksi Online Jangan Parkir Sembarangan!

Redaksi LombokPost

Bantuan Jadup Urung Disalurkan

Redaksi LombokPost

Pajak Panelnya Dihapus Dong!

Redaksi LombokPost

Jasad Bayi Membusuk di Bukit Korea

Redaksi LombokPost

Polda NTB Berikan Data Penyidikan ke Bareskrim

Redaksi LombokPost

Waspada Banjir Kiriman!

Redaksi LombokPost

Dinas Pendidikan Loteng Gelar Latihan Dasar Kepemimpinan

Redaksi LombokPost

Waspada Calo PNS !

Redaksi LombokPost

Sosialisasikan Migrasi Aman Dengan Drama Rudat

Redaksi LombokPost