Lombok Post
Feature Headline

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

DIBONGKAR: Seorang warga memotret bilik mesra yang kini sudah dibongkar karena tidak pernah digunakan pengungsi, kemarin (9/9). Pasangan suami-istri merasa malu menggunakan bilik tersebut untuk menyalurkan hasrat biologis.

Tenda khusus itu akhirnya dibongkar. Sebelum dipakai. Meski bentuknya lebih bagus dari tenda pengungsi lainnya. Karena tak ada yang mau memakainya. Sesuai peruntukkannya. Yakni bercinta. Dengan pasangan yang sah, tentunya!

FERIAL AYU, Tanjung

=================

“Jangankan masuk untuk bercinta, membayangkannya saja saya malu luar biasa.” Kalimat itu terlontar dari Salmia, seorang pengungsi di Dusun Pawang Busur Timur, Desa Rempek, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara. Saat itu, Salmia ditanya Koran ini terkait dibangunnya “Bilik Bercinta” di tanah miliknya.

Pembangunan bilik khusus itu sebenarnya punya niatan baik. Yakni agar para pasangan suami istri di pengungsian tetap bisa menyalurkan kebutuhan bilogisnya meski kini hidup di tenda darurat.

Tenda itu pun dibuat sedemikian rupa. Atapnya berwarna merah menyala dibalut terpal berukuran besar. Di bagian depannya dipasangi spanduk putih besar bertuliskan “BILIK MESRA”. Dihiasi bunga-bunga indah dengan dua buah lambang love warna merah dan ungu yang bertuliskan “You” dan “Me”.

Fasilitas di dalamnya pun cukup bagus. Ada ranjangnya. Lengkap dengan kasur empuk. Plus bantal dan guling. Untuk ukuran tempat bercinta di lokasi pengungsian, sepertinya sudah lebih dari cukup.

Bilik bercinta itu dibangun relawan gempa. Namun, meski dibangun di atas tanahnya, Salmia tak pernah tahu siapa yang membuat bilik tersebut. Saat bilik itu dibuat, ia ikut mengungsi dengan warga lainnya. Salmia baru tahu setelah sepekan yang lalu memutuskan untuk kembali ke rumahnya.

Rupanya bilik tersebut didirikan bagi pasangan suami-istri yang akan menyalurkan kebutuhan biologis. Sebab hampir seluruh rumah di dusun tersebut rata dengan tanah. Sehingga tidak ada tempat untuk hubungan suami-istri.

Salmia menuturkan, tidak ada warga atau pengungsi setempat yang mau mendekat di bilik berukuran sekitar 2×3 meter itu. “Ada yang pernah mau melihat bilik ini, tapi keburu digoda warga lain yang kebetulan melihat. Mereka bilang; cie..cie..ciee,” tuturnya.

Hal tersebut tentu saja mengurungkan niat banyak para pengungsi. Mereka lebih memilih menahan kebutuhan biologisnya daripada malu dengan pengungsi lainnya. Bahkan diupah pun mereka menolak menggunakan bilik mesra itu.

Sudah hampir dua pekan, bilik mesra tersebut tak kunjung digunakan. Akhirnya warga berinisiatif untuk membongkarnya. Rencananya bilik tersebut akan dipindahkan ke dekat musalla.

“Sekarang tinggal tendanya saja, terpal penutup sudah dibawa salah satu pengungsi dan springbednya dibawa sama pak Kadus,” ungkapnya.

Berbeda dengan warga Dusun Pawang Busur Timur, salah satu warga Dusun Rempek Timur bernama Adi malah ingin dibuatkan bilik mesra. Ia dan beberapa warga sudah pernah mengajukan hal tersebut ke pemerintah desa. Hanya saja belum disetujui karena banyak juga yang menolak.

“Kami ingin juga dibuatkan bilik mesra, apalagi pas kemarin sebelum ada yang pulang ke rumah masing-masing,” jelasnya.

Adi mengungkapkan, selain kebutuhan logistik, kebutuhan biologis juga perlu dipenuhi. Bilik mesra menjadi salah satu solusi karena rumah sudah tidak ada lagi. Semua hampir rata dengan tanah. Sayangnya hingga kini di dusunnya belum disetujui adanya sebuah bilik mesra.

Kebutuhan biologis bagi para pengungsi memang cukup mendesak. Bahkan, salah satu pengungsi di Desa Dangiang yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, batinnya tersiksa. Bukan hanya karena rumahnya kini rata dengan tanah. Tapi juga karena sudah lebih dari sebulan kebutuhan seksualnya tak tersalurkan.

“Kalau miskin saya sanggup, tapi kalau masalah kebutuhan seksual ini tidak tersalurkan, saya tidak sanggup,” kata pria bertubuh gempal dengan kulit sawo matang itu.

Bahkan, pengungsi ini pun mengaku tidak masalah jika harus pemberian bantuan korban gempa bumi ditunda. Asalkan, kebutuhan seksualnya terpenuhi. “Besok kalau rumah saya sudah jadi, saya akan ‘gas’ istri saya berkali-kali,” katanya disambut gelak tawa pengungsi yang lain. (*/r5)

Berita Lainnya

Tak Sungkan Korupsi Rumah Tuhan

Redaksi LombokPost

Komisioner Baru KPU NTB Dilantik Hari Ini

Redaksi LombokPost

Dorfin Felix, Bule Penyelundup Narkoba Kabur dari Polda NTB

Redaksi LombokPost

Izin PT Temada Tak Bermasalah

Redaksi LombokPost

Dana Desa Naik Rp 193,1 Miliar

Redaksi LombokPost

Dana Desa Naik Rp 193,1 Miliar

Redaksi LombokPost

Pohon Pelindung Japan Minta Korban

Redaksi LombokPost

Zakiy Mubarok, Bangun Kesadaran Kolektif Pentingnya Politik

Redaksi Lombok Post

TunaiKita Turut Meriahkan Funwalk di Pasar Pancingan Lombok

Redaksi Lombok Post