Lombok Post
Metropolis

Pelemahan Rupiah Tidak Berdampak pada Kerajinan Cukli

HARUS BERTAHAN : Kondisi Art Shop milik Musabirin, di Lingkungan Rungkang Jangkuk, Sayang-Sayang, Cakranegara kemarin (14/9).

MATARAM-Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) mestinya memberi oleh naiknya nilai USD terhadap rupiah.dampak positif terhadap usaha bernilai ekspor. Salah satunya kerajinan cukli. Namun sejauh ini, usaha kerajinan cukli di Kota Mataram belum banyak terdongkrak

Musabirin, pemilik Lombok Typical Art Shop di sentra kerajinan cukli di Lingkungan Rungkang Jangkuk, Sayang-Sayang mengaku angka penjualan cukli masih stagnan. Naiknya nilai USD terhadap rupiah belum mampu mendongkrak angka penjualan.

 “Biasanya kalau rupiah melemah, yang memesan cukli dari luar negeri banyak sekali. Tapi sekarang sepi-sepi saja,” kata Musabirin kepada Lombok Post kemarin (14/9).

Musabirin mengungkapkan, saat pelemahan rupiah beberapa tahun lalu, angka penjualan kerajinannya melonjak. Bahkan omzetnya naik sampai 35 persen. Meski harga jual yang ditawarkannya tidak naik, namun melonjaknya nilai USD membuat produk kerajinannya dinilai lebih murah.

Namun tahun ini, angka penjualan justru dinilainya jauh berkurang. Alasannya tidak banyak wisatawan yang datang berkunjung ke Kota Mataram. Padahal mereka merupakan pasar utama untuk produk kerajinan cukli.

“Kalau tahun ini penjualan bisa turun sampai 60 persen,” ungkapnya.

Ia mengaku kini mengandalkan penjualan dari dalam negeri. Meski angkanya dinilainya tidak terlalu tinggi. Oleh karena itu, ia berharap kondisi pariwisata dapat segera pulih. Pemerintah diminta semakin gencar melakukan promosi, baik terhadap tempat-tempat wisata, maupun kerajinan khas daerah Lombok.

“Dengan kondisi seperti ini, harus ada campur tangan pemerintah biar produk kita dikenal masyarakat luar,” pungkasnya.

Lukman, penanggung jawab pemasaran Dodik Art Shop mengaku, peminat kerajinan cukli sudah mulai berkurang. Para pengusaha saat ini juga tidak banyak melakukan ekspor, karena biaya pengiriman ke luar negeri cukup mahal.

“Sekarang kami fokus ke pasar dalam negeri saja,” tegas Lukman.

Ia mengatakan, kondisi pasar kerajinan cukli saat ini tidak menentu. Hampir dua bulan belakangan ini, Dodik Art Shop tidak melakukan transaksi apapun. Dirinya hanya memenuhi pesanan yang datang sebelum gempa bumi. Untuk menyiasati pengeluaran, karyawannya secara perlahan dikurangi, yang awalnya 15 orang, kini tersisa menjadi 3 orang.

Menurutnya industri kerajinan cukli sangat bergantung pada pariwisata. “Karena NTB bukan daerah industri, jadi kami harap pemerintah hidupkan kembali pariwisata, biar wisatawan datang dan belanja kerajinan khas Lombok lagi,” tutup Lukman. (cr-yun/r3)

Berita Lainnya

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost

BPBD Tunggu Perintah Perkim

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Sudah Lama Ambles, tapi Dicuekin!

Redaksi LombokPost

Anak Muda sampai Pengusaha Berebut Buat Karikatur

Redaksi LombokPost

Kartu Nikah Sebatas Wacana

Redaksi LombokPost

169 Formasi Gagal Terisi

Redaksi LombokPost

Sepakat, UMK Mataram Rp 2.013.000

Redaksi LombokPost

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost