Lombok Post
Catatan Redaksi Giri Menang

Senggigi Diprediksi Normal Tahun Depan

HANYA WISATAWAN LOKAL: Sejumlah wisatawan lokal terlihat mulai meramaikan Pantai Senggigi, Rabu (24/10) sore.

GIRI MENANG-Kunjugan wisatawan ke Senggigi masih sangat rendah. Ini membuat para pelaku usaha mulai resah. Dengan kondisi ini, pakar pariwisata Poltekpar NTB Dr Farid Sadi meminta para pelaku wisata menyiapkan harga khusus untuk menarik wisatawan.

“Hotel di Senggigi harus berani membuat harga social rate. Ini maksudnya agar orang yang datang ke Senggigi diberikan harga khusus. Bagaiama orang tertarik datang dengan harga yang ditawarkan,” jelasnya kepada Lombok Post.

Ia meminta pihak hotel tidak bertahan dengan harga normal. Karena yang paling penting saat ini adalah bagaimana membuat kunjungan ramai terlebih dulu. “Kalau sudah ramai dan terviralkan, wisatawan juga pasti datang,” bebernya.

Karena yang terpenting untuk memulihkan pariwisata Senggigi saat ini adalah meyakinkan wisawatan bahwa Senggigi aman. Kondisinya masih sama seperti sebelum gempa melanda. Karena hanya sebagian kecil hotel yang terdampak. Namun diakuinya untuk meyakinkan wisawatan memang tidak mudah. Butuh waktu berbulan-bulan.

Buktinya, tiga bulan pascagempa, kondisi okupansi sejumlah hotel masih di bawah 50 persen. Bahkan ada yang hanya 10 persen. Untuk itu, pria yang dipercaya sebagai Ketua Tim Recovery Pariwisata Lombok oleh Kementerian Pariwisata itu melakukan berbagai upaya. Mulai dari pemulihan SDM, pemulihan destinasi dan pemulihan pemasaran.

“Ada tiga tugas saya mengangkat Lombok dan NTB pada umumnya. Untuk SDM 1.800 orang pelaku wisata kami trauma healing,” bebernya.

Pihaknya menemukan kasus di Gili Trawangan dan beberapa hotel di Lombok ada kamar yang sudah mulai buka. Hanya saja karyawanya tidak ada karena mereka masih trauma akibat gempa. Sehingga, pria yang juga menjabat Wakil Direktur Poltekpar NTB ini mengaku telah melakukan trauma healing di empat titik. Mulai dari Gili Trawangan, Mataram, Sembalun hingga Senggigi.

Kemudian untuk pemulihan destinasi, Kementerian Pariwisata telah berkoordinasi dengan pihak terkait seperti Kementerian PUPR dan Kementerian Perhubungan di pusat. Terkait perbaikan jalan, jembatan, pelabuhan dan beberapa fasilitas lainnya.

“Kemudian yang paling dibutuhkan saat ini adalah pemasaran. Promosi harus digencarkan kembali meski memang tidak seperti membalik telapak tangan,” jelasnya.

Tim recovery sendiri sudah mendatangkan 280 orang tour operator dari tujuh provinsi untuk membantu proses pemulihan. Akhir Oktober ini, tim recovery akan mengirim 100 orang pelaku pariwisata NTB ke lima provinsi untuk mengikuti table top. “Kami juga mengikuti banyak event di luar negeri. Yang paling banyak adalah Singapura dan Malaysia. Ini adalah pasar utama kita di Lombok,” paparnya.

Pada 28 Oktober nanti, Farid akan berangkat ke London untuk presentasi di depan buyers. Meyakinkan mereka agar mau datang ke Lombok.

Dengan melihat kondisi pariwisata pascagempa saat ini, Farid memprediksi kondisi pariwisata Lombok khususnya Senggigi bisa pulih tahun depan. Tepatnya ketika pendakian Rinjani kembali dibuka. “Itu kan biasaya dibuka setelah musim hujan. Ya sekitar Maret April,” jelasnya.

Yang terpenting saat ini menurutnya semua pihak harus promosi terlebih dulu. Untuk meyakinkan wisawatan agar mau datang. “Tapi saat ini Mataram dan Gili Trawangan sudah berangsur pulih. Karena Mataram memiliki konsep wisata MICE, sedangkan Gili Trawangan banyak fastboat yang datang dari Bali,” bebernya.

Khusus untuk Senggigi, salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk memulihkan kondisi pariwisata yakni dengan melibatkan semua stakeholder. Untuk membuat banyak event agar orang bisa yakin datang.

Sebelumnya, Manajer Marketing Holiday Resort Lombok Lilis Martafeni mengungkapkan, pihaknya memang telah mengambil langkah seperti yang disarankan Farid. Yakni memberikan diskon khusus bagi wisatawan.

“Kami berikan promo khusus diskon harga hingga 30 persen. Cuma memang wisatawan asing yang benar-benar datang berlibur masih sepi. Kebanyakan tamu yang datang adalah tamu pemerintah atau yang mengikuti kegiatan atau bisnis di Lombok,” akunya.

Sedangkan Humas Hotel Montana Premier Senggigi Aldino Daniel Henky mengaku, pihaknya juga sudah menerapkan harga social rate. Penurunan harga yang ditawarkan mencapai 50 persen dari harga normal. “Tapi kondisinya memang masih sepi meski kami sudah menerapkan social rate,” akunya.

Diduga, ini karena wisatawan masih khawatir akan kondisi bangunan gedung hotel. Padahal, ia membeberkan bangunan Hotel Montana telah diverifikasi oleh Dinas PUPR dan mendapatkan sertifikat hijau. “Itu artinya bangunan ini sudah aman dan sesuai standar tahan gempa,” tandasnya. (ton/r7)

Berita Lainnya

Harga Kedelai dan Kacang Tanah Melonjak

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Tiga Desa dan Dua Sekolah Diaudit Khusus

Redaksi LombokPost

PJU di PLTU Jeranjang Segera Dibangun

Redaksi LombokPost

Pemancing Diduga Hanyut di Perairan Labuan Poh

Redaksi LombokPost

Senggigi Sudah Move On

Redaksi LombokPost

Sinyal Mutasi Makin Menguat

Redaksi LombokPost

Sekolah Terdampak Gempa Belum Diperhatikan

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Butuh Lebih Banyak Huntara

Redaksi LombokPost