Lombok Post
Headline Lapsus Metropolis

Tugas Berat Para Peraih Beasiswa

DILEPAS: Kadis Dikbud NTB H Muhammad Suruji (lima dari kiri) melepas 13 mahasiswa ke Polandia, di ruang kedatangan LIA, Sabtu (27/10).

Misi mengirim 1.000 mahasiswa ke luar negeri dimulai. Sebanyak 18 orang mahasiswa pemula kini sudah berada di Polandia. Generasi awal ini tidak hanya belajar, mereka punya misi khusus, yakni meretas jalan bagi calon mahasiswa lain untuk studi di luar negeri. 

————

Keceriaan terpancar di wajah para pelajar yang hendak dikirim studi ke Polandia. Sebelum terbang, Sabtu akhir pekan kemarin, 13 orang penerima beasiswa itu foto bersama di Lombok Intenational Airport (LIA). Mereka sudah tidak sabar merasakan sensasi belajar di benua biru, Eropa. Kini mereka sudah berada di Polandia, negara yang dijuluki jantung Eropa.

Para mahasiswa itu adalah Muharis, Aisyah Mumary Songbatumis, Sri Trisnayanti, Dani Alfatwari, Agustina Lucia Bianca Bahrians, Ainul Hamdani, Lalu Rivaliqal Prayatna, Hasan Basri, Fancawati, Raja Fathurrahim Akmaludin, I Made Sandhi Artha Wangiyana, Herman Supriadi, dan Dwi Rizkia Harriami. Ke-13 mahasiswa ini akan kuliah di Vistula Group of Universities, Polandia.

            Sebelumnya lima orang mahasiswa diberangkatkan terlebih dahulu yakni Umar Mubdi, Mega Nisfa Makhroja, Mia Rizkiana, Yuli Andri Merdikaningtyas, dan Subhan Yusuf. Kelima orang tersebut belajar di Collegium Civitas Polandia.

            Para pelajar yang dikirim tahap awal ini diseleksi ketat. Mereka terpilih bukan hanya karena pintar berbahasa Inggris. Tapi juga memiliki nilai plus, yakni memiliki social project atau ide gagasan dalam berbagai bidang untuk menyampaikan pesan positif bagi masyarakat. Ke-19 orang pelajar yang terseleksi berasal dari berbagai latar belakang pendidikan dan pekerjaan. Mulai mahasiswa yang baru lulus, pekerja swasta, sineas film, hingga pegawai negeri.

Sri Hastuti, Koordinator Administrasi dan Humas Tim Seleksi Beasiswa NTB menjelaskan, jumlah peserta yang mendaftar untuk pengiriman tahap pertama 353 orang. Dari sekian banyak pendaftar, yang lolos seleksi tahap pertama hanya 93 orang. Salah satu syaratnya harus putra putri asli NTB, dan toefl minimal 510.

Orang-orang Pilihan

Setelah itu, peserta diseleksi lagi. Mereka menjalani tes wawancara untuk melihat kesungguhan, kecakapan, rekam jejak, dan apa kontribusi yang sudah dilakukan untuk NTB. Terseleksilah 21 orang yang memenuhi syarat, tapi yang berangkat akhirnya hanya 19 orang. Namun baru 18 yang berangkat, satu orang baru berangkat awal tahun depan karena jurusan yang dituju baru buka Februari 2019.

Mereka yang punya social project diutamakan karena akan menjadi pembuka jalan bagi calon mahasiswa lain. Setelah beberapa tahun kuliah di Polandia, diharapkan mereka membangun relasi di luar negeri. Kemudian membangun jaringan untuk membuka peluang bagi anak-anak muda NTB kuliah di Eropa.

Dengan misi itu, tantangan yang akan dihadapi pasti akan banyak. Di luar negeri mereka harus benar-benar menjadi petarung. Berjuang untuk meningkatkan prestasi dan berjuang membuka jalan bagi generasi selanjutnya.

Tidak Bisa Bersantai-santai

Gubernur NTB H Zulkieflimansyah mengingatkan, mahasiswa yang dikirim tidak bisa bersantai-santai. Setelah lulus dan menjadi alumni, mereka diharapkan bisa menjadi jembatan bagi mahasiswa lain asal NTB. Termasuk mencari peluang melanjutkan studi ke jenjang doktor. Pemerintah hanya akan membiayai program S-2, selanjutnya mereka harus mencari jalan sendiri. ”Mereka ini nanti akan jadi pengayom bagi yang lain,” ujarnya.

Dwi Rizkia Harriami, salah seorang mahasiswa asal Sumbawa mengaku akan berusaha keras untuk menjawab tantangan itu. Ia juga berharap akan semakin banyak pemuda NTB belajar ke luar negeri, salah satunya Polandia. Ia sangat berterima kasih kepada Pemprov NTB. Di Vistula Group of Universities Dwi mengambil jurusan pariwisata. ”Saya akan kembali dan mempromosikan pariwisata Sumbawa,” katanya.

Kesempatan Tidak Datang Dua Kali

            Dani Alfatwari, mahasiswa lainnya yang sangat bersemangat mengikuti program tersebut. Mantan Ketua BEM FKIP Universitas Mataram itu mengaku akan belajar giat selama di Polandia, baru kemudian berusaha mencari jalan bagi yang lain. Tidak menutup kemungkinan bila studinya lancar, dia akan mencari beasiswa program doktor di sana. ”Ini adalah tantangan bagi saya dan kawan-kawan yang lain,” katanya, pada Lombok Post, beberapa waktu lalu.

            Dani yang bekerja sebagai karyawan swasta itu sudah menunggu lama kesempatan itu. Kini dia sudah bisa mewujudkan mimpinya, dan akan memanfaatkan sebaik-baiknya.

            Koordinator Beasiswa NTB Irwan Rahadi yakin, mereka yang dikirim saat ini akan mampu menjawab tantangan dari gubernur. Karena  para penerima beasiswa punya semangat dan optimisme tinggi. ”Mereka adalah para hunter (pemburu beasiswa),” katanya.

            Selama belajar di luar negeri, mahasiswa akan mendapatkan biaya penuh. Sehingga mereka tinggal fokus belajar. Tugas Tim Kerja Beasiswa NTB hanya mendampingi para penerima beasiswa. Mulai dari pendaftaran di kampus, persiapan keberangkatan dengan mengadakan Pre-Departure Training (PDT) dan pengurusan visa dan dokumen.

Jadi Duta NTB di Luar Negeri

            Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB H Muhammad Suruji mengatakan, mengirimkan pemuda NTB ke luar negeri merupakan ide besar. Apalagi program itu tidak akan membebani anggaran daerah. Pemprov akan membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak untuk membiayainya.

Suruji mengatakan, mahasiswa yang dikirim adalah duta NTB. Setelah selesai studi diharapkan bisa ikut membangun NTB, baik dari dalam maupun dari luar NTB. ”Jadilah Duta NTB yang menggebrak dunia,” kata Suruji saat melepas 13 mahasiswa di LIA.

            Ke depan negara tujuan beasiswa tidak hanya Polandia, tetapi juga beberapa negara lain yang terbuka menerima mahasiswa asal NTB dan kualitas perguruan tingginya juga bagus. Diantaranya Turki, karena Duta Besar Lalu Muhammad Iqbal, putra NTB. Juga ke Mesir, yang difasilitasi mantan Gubernur NTB dua periode yang juga Ketua Ikatan Alumni Al-Azhar Indonesia TGB HM Zainul Majdi.

            Bahkan beberapa negara tertarik dengan program tersebut dan ingin turut membantu seperti Australia, Malaysia, dan Tiongkok.

Dewan Minta Transparansi

Program mengirim 1.000 mahasiswa ke luar negeri mendapat perhatian publik. Tidak terkecuali DPRD NTB. Lembaga legislatif tersebut mendukung program beasiswa tersebut. Hanya saja, para wakil rakyat meminta Pemprov NTB lebih terbuka dan transparan dalam proses pelaksanaan kegiatan. Meski tidak menggunakan dana APBD, namun mereka perlu tahu bagaimana kegiatan itu dilaksanakan, dan siapa saja yang bisa ikut. ”Harus diumumkan secara terbuka biar publik tahu,” kata Ketua DPRD NTB Hj Isevie Rupaeda.

Ia menilai, pengiriman beasiswa tahap pertama ini kurang transparan. Bahkan dewan baru tahu dari media massa. Harusnya ada asas keterbukaan agar semua bisa mendukung penuh kegiatan tanpa menyisakan pertanyaan.

Apakah program itu membutuhkan anggaran atau tidak, mereka juga belum tahu. Sebagai ketua dewan, Isvie mengaku belum pernah membahas soal anggaran beasiswa. ”Kabarnya itu beasiswa murni luar negeri, tapi kami juga perlu tahu kejelasannya,” harap politisi Golkar itu.

Selain kejelasan proses seleksi dan sumber anggaran, tidak kalah penting diperhatikan adalah kejelasan status perguruan tinggi yang dituju. Harus dipastikan perguruan tinggi tersebut berkualitas. Tidak sekadar mengirim ke luar negeri, tetapi kualitas perguruan tingginya di bawah standar. ”Harus jelas ke perguruan tinggi mana saja mereka dikirim,” imbuhnya.

Bila membutuhkan dukungan dana APBD, dewan siap membantu. Selama itu dipakai untuk kepentingan publik, menurutnya tidak ada masalah memakai anggaran daerah.

Terkait hal itu, Koordinator Beasiswa NTB Irwan Rahadi mengatakan, masukan tersebut akan menjadi bahan koreksi ke depan. Tim memang tidak banyak melibatkan pejabat pemerintah karena mereka sudah bekerja sebelum Gubernur NTB dilantik. Mereka bekerja dalam waktu sangat singkat dan tidak menggunakan anggaran pemerintah. Dana beasiswa didapatkan dari perguruan tinggi dan sumbangan perusahaan. Pemberangkatan tahun ini dibiayai oleh PT AMNT dan Bank NTB.

Seleksi berikutnya tim akan melibatkan pemerintah, dan beberapa perusahaan telah siap membantu membiayai program tersebut. (ili/r7)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost