Lombok Post
Metropolis

Disdag Pesimis Capai Target Rp 4 Miliar

PAKAI LAHAN PARKIR: Seorang anak berdiri di lapak milik orang tuanya yang digelar di parkiran pasar Kebon Roek, Ampenan, Kota Mataram, Senin (29/10). Para pedagang berjualan di sini karena lantai dua Pasar Kebon Roek belum diperbaiki pascagempa.

MATARAM-Gempa yang melanda NTB sejak dua bulan lalu,  telah berdampak ke berbagai sektor. Salah satunya penurunan retribusi murni pasar yang diberikan secara rutin setiap hari ke Pemkot Mataram.

Kepala Pasar Tipe A Kebon Roek HM Subiakto AZ mengakui, semenjak para pedagang dari lantai dua diturunkan berjualan di lahan parkir, berdampak pada penurunan omzet. Hal ini tentu berimbas langsung ke retribusi murni pasar.

“Biasanya yang kami setor setiap hari mencapai target Rp 1,5 juta atau Rp 1.450.000, sekarang jadi Rp. 1.360.000,” tegasnya, kemarin (31/10).

Subiakto menjelaskan, ada delapan juru pungut di pasar Kebon Roek untuk menarik pungutan retribusi sesuai prosedur. Bagi pedagang yang menempati lapak seluas luas satu meter persegi dikenakan biaya Rp 800 sedangkan yang lebih dari satu meter persegi maka dikenakan biaya seribu atau Rp 2 ribu

“Semua tergantung dari luasan dan juga jenis jualannya,” sambung Subiakto.

Untuk diketahui, jumlah pedagang tetap di pasar Kebon Roek yang sesuai dengan dokumen Surat Izin Penempatan (SIP) sebanyak 735 orang. Namun, yang tidak memiliki SIP sebanyak 485 orang.  Artinya tidak tetap sebanyak 250 orang.

“Meski tidak tetap, mereka juga tetap dikenakan retribusi pajak harian,” ujar Subiakto.

Dirinya tidak menampik, memang sampai saat ini jumlah retribusi yang diberikan Pemkot Mataram belum bisa mencapai target. Maka dari itu, Subiakto betul-betul mengharapkan jika Pemkot Mataram harus gesit melakukan perbaikan kerusakan lantai dua pasar Kebon Roek.

“Biar pedagang semuanya bisa cepat dipindahkan dan omzet mereka bisa pulih seperti sediakala,” pungkasnya.

Kepala Pasar Tipe A Dasan Agung Akhmad Suweno Ajiyanto juga mengatakan hal serupa. Pascagempa, ada penurunan sebesar 12 persen retribusi murni yang diberikan ke Pemkot Mataram. Jika pada kondisi normal, biasanya tiga juru pungut yang dikerahkan, berhasil mencapai target penerimaan dari para pedagang dalam sehari sebesar Rp  625 ribu sampai Rp 650 ribu.

“Kalau pascagempa, kami sekarang ini hanya mampu mencapai Rp 535 ribu sampai Rp 550 ribu,” sambung pria yang akrab disapa Aji ini.

Selain karena gempa, kondisi juga diperparah karena adanya revitalisasi lantai dua pasar. Sehingga yang pada awalnya, para pedagang yang jualannya didominasi sayur mayur, akan diturunkan ke lantai bawah secara perlahan. Namun karena gempa semua pedagang turun.

“Karena semuanya berjualan di lahan parkir, tentu hal ini juga berpengaruh pada omzet mereka,” terang Aji.

Padahal jumlah pedagang tetap yang berjualan di pasar Dasan Agung sebanyak 405 orang. Namun pedagang yang aktif berjualan sementara ini hanya 200 orang saja. Dengan kondisi seperti ini, Pemkot Mataram khususnya Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram bisa memaklumi.

“Karena memang kondisinya seperti ini, kami mengharapkan ada permakluman jika retribusi murni pasar tidak mencapai target,” tutup Aji.

Sementara  itu, Kepala Disdag Kota Mataram Alwan Basri saat dikonfirmasi mengenai hal ini mengatakan, karena kondisi pasar yang sepi membuat omzet mengalami penurunan. Ini tentu akan berpengaruh pada retribusi pasar. Namun, kondisi tersebut masih bisa dimaklumi.

“Melihat pasar sepi pascagempa, kami bisa memaklumi hal ini,” terang Alwan.

Ia tidak menampik, jika di tingkat pasar saja target retribusi tidak bisa tercapai maka otomatis tahun 2018 ini, penerimaan Pemkot Mataram dari retribusi pasar juga tidak mencapai target.  Untuk diketahui, target retribusi seluruh pasar di Kota Mataram tahun 2018 sebesar Rp 4 miliar. Naik dari tahun 2017 hanya Rp 3,9 miliar. Berapa capaian hingga Oktober ini, Alwan belum bisa memastikan.

“Bisa saja ada penurunan ya tapi kalau angka pastinya saya belum bisa ulas sekarang, nanti pas akhir tahun kita baru bisa tahu berapa capaiannya,” tutup Alwan. (cr-yun/r7)

 

Berita Lainnya

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost