Lombok Post
Headline Metropolis

Kekurangan Fasilitator Jadi Masalah

KERJA KERAS: Dua orang petugas kebersihan saat bekerja membersihkan Lombok Epicentrum Mall, Kamis (1/11).

MATARAM-Kekurangan fasilitator jangan dianggap sepele. Sebab mereka lah yang menjadi kunci mengenai hal-hal yang berkaitan dengan rumah tahan gempa. Baik itu secara teknik maupun administrasinya.

Camat Sandubaya Lalu Samsul Adnan mengakui, kurangnya fasilitator menjadi penghambat pembangunan rumah tahan gempa, baik RISHA maupun RIKO. “Fasilitator ini dibutuhkan untuk verifikasi desain rumah, membuat RAB dan sebagainya,” tegasnya, kepada Lombok Post.

Ia menerangkan desain rumah tahan gempa baik untuk RISHA dan RIKO merupakan rumah tipe 36. Untuk membangunnya sudah ada Rencana Anggaran Belanja (RAB) yang disiapkan, sehingga masyarakat tinggal mengikuti saja. Namun di lapangan, ada lahan masyarakat yang tidak sesuai dengan ukuran tanah yang diperlukan untuk membangun rumah tahan gempa. Akibatnya RAB harus diubah.

Kadang-kadang disitu negonya lama antara pemilik rumah dan fasilitator, jadi harus diperhatikan permintaan model rumahnya seperti apa,” tegasnya kepada Lombok Post.

Karena kondisi tersebut, masyarakat harus menggambar ulang desain rumahnya dan menyusun kembali RAB. Sehingga kerja sama dengan penyedia panel menjadi terhambat. Dengan jumlah fasilitator yang masih belum memadai, masalah ini menjadi berlarut-larut.

Di Kecamatan Sandubaya sendiri jumlah fasilitator masih kurang. “Sebenarnya kemarin saya usulkan, ada satu tim khusus untuk menangani Sandubaya saja karena ada 1.560 rumah yang rusak,” kata Adnan.

Namun, sampai saat ini belum ada kabar terkait dengan usulan tersebut. Sebenarnya Adnan sangat menyayangkan kondisi seperti ini. Apalagi sampai sekarang, baru delapan RISHA yang telah dibangun.

Ia menginginkan pembangunan rumah tahan gempa ini tidak terlalu lama. Mengingat musim penghujan segera datang. Masyarakat tentunya membutuhkan tempat tinggal yang layak untuk menghadapi musim penghujan ini.

“Karena itu kekurangan fasilitator ini harus segera diatasi. Mudah-mudahan ada penambahan personil fasilitator,” terang Adnan.

Sementara itu,  Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram I Gede Wiska meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram segera menyelesaikan persoalan kekurangan fasilitator. Karena kekurangan ini tentu akan menghambat upaya percepatan pembangunan rumah tahan gempa.

Pihaknya mendorong agar Pemkot Mataram, segera menunjuk pihak-pihak yang bisa mengisi kekurangan fasilitator. Tentu mereka harus memiliki kompetensi dalam bidang tersebut. Hal ini perlu mendapatkan perhatian serius, jangan sampai persoalan ini terlalu lama didiamkan.

Kasihan masyarakat harus lama menunggu. Paling tidak Pemkot Mataram harus meningkatkan koordinasi dengan pemerintah provinsi,” pungkasnya. (cr-yun/r3)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost