Lombok Post
Headline Metropolis

Lombok Sudah Pulih, 5.430 Pelari Ikut TNI International Marathon

MEMBANGGAKAN:Juara TNI International Marathon kategori 42 Kilometer nasional Hamdan Sayuti mengangkat bendera Merah Putih saat finish di Kuta Mandalika, Lombok Tengah, kemarin (4/11).

PRAYA-Event TNI International Marathon sudah digeber, kemarin (4/11). Sebanyak 5.430 pelari bersaing menjadi yang tercepat di masing-masing kategori. Yakni, nomor 5K, 10K, 21K (half marathon), dan 42K (full marathon). Berdasarkan keputusan di masing-masing kategori 10 finisher tercepat berhak mendapatkan juara berdasarkan ketentuan yang ditetapkan panitia.

Pukul 04.00 Wita seluruh pelari berbondong-bondong ke lokasi start. Sebelum berlari, mereka melakukan peregangan untuk mengantisipasi cedera. Setelah satu jam melakukan pemanasan, para pelari mendekati garis start.

Kategori 42K pertama dilepas. Para pelari dilepas langsung Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. Selang lima menit, giliran kategori 21K dilepas. Sebanyak 638 peserta yang turun di half marathon memperebutkan peringkat 10 besar. Khusus kategori 10K dan 5K garis start dibuka Ketua Dharma Pertiwi Nanny Hadi Tjahjanto.

Kategori yang paling bergengsi adalah 42K dan 21K. Di kategori 42K internasional laki-laki (male), pelari Kenya mendominasi di peringkat tiga besar. Di posisi pertama diraih Samson Karega Kamau (1 jam, 56 menit, 30 detik). Di posisi kedua Muteti Cosmas Matolo (2 jam, 21 menit, 25 detik). Posisi ketiga James Cherutich Tallam (2 jam, 24 menit, 06 detik).

Kategori 42K perempuan (female) diraih dari tim Stallions Tecla Kirongo (2 jam, 41 menit, 14 detik). Posisi kedua diraih Rodah Tanui (2 jam, 42 menit, 35 detik) dari tim Kobel Atletic dan posisi ketiga diisi Peninah Kigen (2 jam, 44 menit, 28 detik).

Sementara itu, kategori 42K national male diraih Hamdan Sayuti (2 jam, 41 menit, 19 detik). Posisi kedua diraih atlet pelatnas Atjong Tio Purwanto selisih empat menit dari catatan waktu Hamdan. Posisi ketiga diraih pelari Jawa Barat Asma Bara (2 jam, 45 menit, 14 detik).

Pelari NTB Ridwan harus puas di posisi ketujuh. Kalah dari Nicolas Albinus Sila, Difta IG Unbanu, dan Eldak Kafolamau. Ridwan mencatatkan waktu 2 jam, 54 menit, 23 detik. Kategori  42K female diraih Mery M Paijo (3 jam, 25 menit, 08 detik). Di posisi kedua dan ketiga diraih pelari Kodam. Yaitu, Ferly Marince Subnafesu (3 jam, 32 menit, 35 detik) dan Irma Handayani (3 jam, 32 menit, 35 detik).

Beralih di kategori 21K Internasional Male diraih Joshua Nakeri (1 jam, 4 menit, 54 detik). Posisi kedua Josphat Kiptanui Too Chobei selisih satu menit dari catatan waktu Joshua dan posisi ketiga diisi Solomom Kipyego Keter yang hampir masuk bersamaan dengan peringkat kedua . Selisihnya hanya 14 detik.

Esther Wambui Karimi asal Kenya menjadi yang tercepat di kategori 21K Internasional Female.  Catatan waktunya 1 jam, 15 menit, 14 detik. Posisi kedua diraih Sheila Jepkosgei (1jam, 15 menit, 45 detik) dan posisi ketiga Norah Chebet (1 jam, 16 menit, 46 detik).

Kategori 21K nasional putra diraih Agus Prayogo dengan catatan waktu 1 jam 11 menit, 30 detik. Posisi kedua Nurshodiq (1 jam,13 menit, 19 detik) dan posisi ketiga diisi Robi (1 jam 14 menit).

Terakhir kategori 21K nasional putri diraih Odektaviani Naibaho (1 jam, 24 menit). Posisi kedua Afriani Paijo (1 jam, 27 menit) dan posisi ketiga diisi Oliva Sadi (1 jam, 29 menit).

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan, pelaksanaan TNI internasional berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Pengamanan pelaksanaan event membuat peserta lebih nyaman. ”Pelaksanaan TNI Marathon berjalan dan sukses,” ungkapnya.

Rute lari pelaksanaan event tersebut kini sudah mendapatkan apresiasi dari IAAF. Rute pada event tersebut mendapatkan pengakuan resmi. ”Kita sudah mendapatkan sertifikat resmi,” ujarnya.

Dengan adanya pengakuan resmi itu, jika tahun depan TNI marathon digelar lagi tidak lagi perlu meminta persetujuan dari IAAF. “Itu menjadi nilai lebihnya ke depan,” ucapnya.

Pelaksanaan event tersebut merupakan ajang memeriahkan HUT TNI ke-73. Rencananya, setiap tahun TNI ingin mengadakan event marathon di seluruh destinasi wisata di Indonesia. ”Mungkin tahun depan kita juga adakan di Mandalika, di Komodo, Raja Ampat dan kawasan destinasi wisata lainnya,” bebernya.

Panglima TNI mengatakan, event ini sebagai ajang pembuktian kepada dunia. Meskipun Lombok masih dalam duka bencana, namun mampu menggelar event semegah ini. ”Ini menjadi bukti bahwa Lombok sudah bangkit dan pulih,” tegasnya.

Dia mengajak seluruh masyarakat NTB untuk bangkit. Jangan lagi meratapi bencana berlarut-larut. ”Kita harus bisa buktikan itu kepada seluruh masyarakat di dunia,” pintanya.

Pemenang Full Marathon kategori nasional Hamdan Sayuti mengatakan, rute yang dilalui cukup berat. Selama 15 tahun mengikuti kejuaraan marathon, rute TNI Internasional ini yang paling berat.  ”Saya bilang rute lari di sini (Mandalika) paling terberat di Asia,” kata Hamdan kepada Lombok Post.

Biasanya, rute marathon yang dilalui jalurnya cukup landai. Dia pernah mengikuti Los Angeles Marathon. Suhunya mencapai sembilan derajat dan jalan yang dilalui tidak menanjak dan menurun. Berbeda dengan rute yang ada di Mandalika, tanjakan dan jurang yang banyak membuat otot lebih cepat lelah. Ditambah lagi suhu yang cukup panas di kawasan tersebut. “Itu sangat berat,” ucapnya dengan nada terengah-engah.

Banyaknya jurang yang dilintasi, juga membuat kuku kakinya terkelupas. Sebab, jari kakinya harus ditekuk ke dalam. Namun, tak bisa mengatur tempo membuat gesekan sepatu dengan kuku semakin keras. ”Sakit sekali. Nih lihat kelihatan darah mati di jempol kaki saya,” kata dia sambil menunjukkan kakinya dengan meringis kesakitan.

Pemuda asal Sumatera Barat itu, tidak menduga bisa finish pertama di kategori nasional. Meskipun sama sekali tidak pernah mengecek rute. “Di 35 kilometer akhir kaki saya sakit sekali. Tetapi, saya coba tahan,” ungkapnya.

Saking beratnya rute, di kilometer 15 pelari nasional lainnya mulai tercecer. Dia mencoba untuk mengejar pelari Kenya, namun mereka memiliki daya tahan yang kuat. “Sehingga, kesulitan mengejarnya,” kata dia.

Meski berat, ada juga nilai positifnya. Aspal yang dilalui mulus. ”Saya akui kalau jalan  dan pengamanan klir tidak ada persoalan,” jelasnya.

Catatan waktu yang direngkuh Hamdan 2 jam 41 menit. Catatan waktu itu terburuk sepanjang dia mengikuti event marathon. Biasanya, dia mencatatkan waktu 2 jam 28 menit. ”Ya, karena rutenya yang berat dan sangat melelahkan,” ungkapnya.

Dia berharap, event tersebut bisa menjadi ajang tahunan. Menurutnya, event ini sangat baik. ”Terima kasih TNI yang sudah all out menyukseskan acara ini,”pungkasnya.

Pelari Kenya Samson Karega Kamau mengatakan, event ini sangat bagus. Pengamanannya sangat baik. ”Kami sangat senang bisa tampil disini,” ujarnya.

Dia berangkat dari Kenya menargetkan juara. Sebab, dia sudah mempersiapkan diri cukup matang. ”Saya persiapan sebelum mengikuti event ini,” kata dia.

“Jika event ini digelar lagi, dia akan kembali lagi. ”Saya pasti bakal ikut lagi,” pungkasnya.

Sport Tourism Harus di Garap Serius

Indahnya kawasan wisata di NTB menjadi modal awal untuk mengembangkan sport tourism. TNI Internasional Marathon tersebut menjadi bukti bahwa pelaksanaan sport tourism di Bumi Gora sangat potensial.

Ketua KONI NTB H Andy Hadianto mengatakan, masing-masing kabupaten/kota bisa mengemas kawasan wisatanya dengan sport tourism. Kemasan kabupaten/kota harus berbeda. Tergantung dari keadaan alamnya.

Misalnya saja di Mandalika, sangat cocok dijalankan kegiatan marathon. Sementara kegiatan marathon di Lombok Timur (Lotim ) tidak cocok digelar kegiatan marathon. ”Bisa saja digelar event sepeda MTB karena banyak memiliki hutan,” ungkapnya.

Kawasan wisata di NTB sangat komplet. Mau mengadakan surfing bisa diselenggarakan di Lake. Mau menggelar event paralayang bisa diselenggarakan di Mantar, Sembalun, atau di Mandalika. ”Semua  itu memiliki potensi,” ujarnya.

Hanya saja, perlu di-entertain dengan baik. Supaya event yang diselenggarakan bisa memberikan kesan positif ke dunia luar. ”Setiap mengadakan event yang levelnya nasional atau internasional harus tampil all out,” ungkapnya.

Menurut Andy, saat ini pemerintah belum serius menggarap sport tourism. Padahal kegiatan seperti itu bisa mendatangkan wisatawan lokal maupun luar negeri.

TNI Internasional Marathon menjadi event sport tourism terakhir di NTB tahun ini. Sebelumnya, ada Lombok Marathon, Tour de Lombok Mandalika, Rinjani 100, paralayang, turnamen voli pantai,  hingga surfing. “Dari event yang sudah diselenggarakan diperkirakan bisa mendatangkan 11.000-an wisatawan mancanegara,” katanya.

Ke depan, pemerintah harus lebih serius menggarap event sport tourism. ”Ini kesempatan emas bagi NTB untuk menghidupkan sektor wisata,” tegasnya. (arl/r7)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost