Lombok Post
Headline Metropolis

Tenda Pengungsi Mulai Tergenang

ANGKAT JEMURAN: Sulhiah, warga Lingkungan Tegal Kecamatam Sandubaya mengangkat jemuran saat gerimis, kemarin (7/11).

MATARAM-Musim hujan mulai tiba. Korban gempa yang rumahnya ambruk, kini tidak bisa berbuat banyak. Mereka tetap berada di dalam tenda meski hujan lebat mengguyur Kota Mataram.

“Kita mau tinggal dimana kalau tidak di tenda,” kata salah seorang warga Lingkungan Tegal Sulhiah, kemarin (7/1).

Ia bersama dua anaknya harus tinggal di tenda selama musim hujan ini. Ia tidak tahu pasti, kapan rumah yang dijanjikan pemerintah pusat selesai dibangun.

Kemarin, Sulhiah terlihat sibuk mengangkat jemuran yang diletakkan di reruntuhan bangunan miliknya. Runtuhan batu bata ini masih menumpuk di halamannya. Belum dibersihkan hingga sekarang.

Sulhiah mengatakan, belum ada satu pun rumah tahan gempa dibangun di Lingkungan Tegal, Kecamatan Sandubaya. Kata dia, pembangunan rumah di LingkunganTegal akan dilakukan setelah rampung di Lingkungan Gontoran.

“Kalau di Gontoran sudah jadi, baru ke sini,” tuturnya.

Diungkapkan, bantuan ini baru saja sampai penandatangan pembuatan Pokmas. Ia sudah melakukan pendantangan pembuatan kelompok untuk membangun rumnah tahan gempa dengan warga lainnya.

Sulhiah berharap  bantuan bisa disalurkan secepatnya. Sehingga warga bisa nembuat rumah. Apalagi saat ini musim hujan yang membuat dirinya harus pontang panting memperbaiki tenda tempat pengungsian. “Kalau hujan seperti ini, kan airnya masuk ke tenda,” keluhnya.

Warga lainnya Ahmad Rosidi mengatakan, bantuan rumah tahan gempa baru sampai penandatangan pembuatan Pokmas. Untuk pembuatannya sendiri ia tidak tahu persis kapan dimulai. Namun dari informasi yang didapatkan, jika Pokmas ini terbentuk, maka ia bisa langsung membelanjakan bahan-bahan pembuatan Rumah Instan Sederhana (RISHA). Seperti panel yang menjadi bahan utamanya.

“Mudah-mudahan ini bisa kita lakukan secepatnya,” tuturnya.

Saat memasuki musim hujan seperti sekarang ini, ia mulai panik. Pasalnya, ia bersama anak dan istrinya harus tidur di tenda. Belum lagi tenda yang dibuatnya kemasukan air jika hujan dengan intensitas tinggi. “Kemarin air masuk di tenda,” keluhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Kota Mataram H Kemal Islam mengatakan, kendala pada pembuatan rumah tahan gempa, khususnya warga yang memilih RISHA terletak pada panel. Saat ini, baru dua aplikator di Kota Mataram yang bisa menyiapkan panel-panel pembuatan RISHA. “Kita butuhnya paling tidak 10 aplikator,” sebutnya.

Saat ini, lanjutnya, kendala tidak lagi pada dana, namun beralih ke panel. Menurutnya, pembuatan panel ini tidak mudah. Setelah dicetak harus tunggu kering dulu baru bisa diangkut. “Jalan keluarnya kita akan menambah aplikator. Sudah ada beberapa yang menawarkan diri. Masih kita cek. Jangan sampai nanti tidak memiliki kantor. Kan repot,” pungkasnya.

Kendala lainnya, fasilitator pembangunan rumah tahan gempa juga masih sangat kurang. Untuk mengatasi masalah ini Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram menyiapkan tenaga pendamping.

“Dari kami ada tenaga pendamping baik secara tekhnis maupun administrasi,” kata Kepala Dinas PUPR Kota Mataram Mahmuddin Tura, kemarin.

Sayangnya, tenaga pendamping yang di maksud Mahmuddin itu bentuknya hanya seperti konsultan. Tidak terjun langsung ke lapangan.

Artinya, jika kelompok masyarakat (Pokmas) tidak kuat menunggu giliran didatangi fasilitator, maka ketua Pokmas bisa langsung datang ke kantor Dinas PUPR Kota Mataram.

“Silakan datang ke kantor, kami akan memeriksa apa-apa saja yang menjadi kendala. Bahkan RAB-nya juga kami periksa,” jelas Mahmuddin.

Pendamping teknis untuk Pokmas berasal dari Bidang Cipta Karya. Jumlah anggotanya ada 10 orang. Tugas dari pendamping teknis akan memeriksa gambar atau desain rumah dari Pokmas. Baik yang memilih RISHA maupun RIKO.

“Sekarang ini sudah ada yang konsultasi ke kami, terutama Pokmas yang ada di Lingkungan Pengempel Indah,” terang mantan Kabid Cipta Karya Dinas PU Kota Mataram itu..

Lambannya proses pembangunan rumah tahan gempa memang menjadi keluhan. Baik itu dari masyarakat maupun Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram sendiri.

Mahmuddin sendiri mengaku tidak bisa berbuat banyak. Pihaknya hanya bisa menyediakan tenaga pendamping saja. Karena, dalam membangun rumah tahan gempa, fasilitator yang ditunjuk pun merupakan petugas REKOMPAK dan CPNS yang secara resmi berasal dari Kementerian PUPR.

“Fasilitator ini beda dengan pendamping. Fasilitator langsung terjun ke masyarakat dan mereka juga yang bantu buatkan gambar dan RAB itu,” kata dia.

Oleh karena itu, jika Pokmas ingin segera menuntaskan persoalan teknis dan adminitrasi. Maka pihaknya sampai saat ini masih membuka pintu konsultasi bagi para korban gempa yang akan membangun rumah.

“Kami hanya boleh menerima konsultasi untuk RAB dan gambar, kalau semuanya sudah klir dan dievaluasi, nanti diserahkan ke PPK untuk proses pencairan dana,” pungkasnya. (jay/cr-yun/r5)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost