Lombok Post
Metropolis

Rajin Blusukan ke Sejumlah Sentra Kerajinan Tenun

KAIN TENUN: Ermawanti, owner Erina Gallery mengenakan kain tenun NTB menjadi busana kesehariannya.

Ermawanti menaruh perhatian lebih terhadap kain tenun khas NTB. Ia bahkan membuka khusus galeri tenun. Di galeri tersebut kain tenun disulap menjadi berbagai macam busana.

ALI ROJAI, Mataram

—————————–

Sebuah galeri di sebelah barat Lapangan Atletik Mataram tampak cukup mencolok. Warna-warni dan motif kain tenun menghiasi setiap dinding galeri tersebut. Di dalamnya beragam busana yang terbuat dari kain tenun dipajang. Mulai dari yang berwarna cerah hingga gelap.

“Busana yang dipajang itu berbahan dasar kain tenun khas NTB yang diambil dari berbagai daerah,” tunjuk owner geleri Erina Ermawanti.

Kecintaan terhadap tenun daerah, membuat perempuan berjilbab ini membuka galeri bernama Erina Gallery tersebut. Ia mengaku, sangat tertarik dengan berbagai macam motif kain tenun di NTB. Kain tenun ini dinilainya akan terlihat modis ketika dipadukan dengan bahan lain dan disulap menjadi beragam jenis busana.

“Kainnya saya ambil langsung dari perajin Sukarara Lotim,” sebutnya.

Awalnya ia mendesaian busana berbahan kain tenun untuk dirinya sendiri. Namun ternyata busana yang dikenakan Erma kerap mendapat pujian teman-temannya. Mereka bahkan bertanya dimana busana tersebut diproduksi. Dari sinilai ia terbesit untuk membuka galeri khusus yang menjual beragam busana dengan bahan dasar kain tenun khas NTB.

Erma yang juga kerap menjadi model busana muslimah mengaku sangat tertarik dengan kain tenun khas NTB. Ia ingin memadukan kain tenun khas NTB dengan berbagai produk yang dibuat  di galerinya. Mulai dari pakaian, dres, jilbab, tas, hingga dompet.

Kain tenun ini dibelinya dari berbagai daerah di NTB. Ia mengaku kerap blusukan ke sejumlah sentra kerajinan tenun di NTB. Seperti Sukarara Lotim, Kediri Lobar, Periggarata Loteng, Bima, dan Sumbawa. Ia melakukan kerja sama dengan perajin, terutama untuk desain motif kain yang dibutuhkannya.

“Kalau sekarang motif salur (garis) yang paling banyak dicari,” sebut ibu dua anak ini.

Di galerinya konsumen bisa langsung membeli busana dan pernak pernik dari kain tenun yang telah tersedia. Mereka juga bisa memesan motif dan ukuran busana sesuai selera.

Erma menyebutkan, busana dari kain tenun ini banyak dijadikan sebagai baju pesta. Untuk harga cukup bervariasi, tergantung bahan dan motifnya. Untuk rompi ia jual seharga Rp 250 ribu.  Sementara untuk baju keluarga couple ia hargakan Rp 2,5 juta.

Meski usaha yang dirintisnya belum genap satu tahun berjalan, ia mengaku sudah banyak pelanggannya. Ia bahkan sampai kewalahan menerima pesanan.

“Jumlah pekerja yang menjahit busana dari kain tenun ini masih kurang,” jelasnya.

Erma mengaku produk galerinya tidak hanya dibeli masyarakat biasa. Banyak pejabat daerah dan pusat bahkan artis juga menjadi pelanggan setianya. Belum lama ini, pada ajang LKS Nasional di NTB, banyak para pejabat kementerian dari Jakarta memesan khusus pakaian di galerinya.

Menurutnya,  dalam mengembangkan usaha ini dirinya harus terus berkreasi. Motif busana yang dijualnya harus selalu mengikuti perkembangan zaman. Ia  mengaku hanya membuat satu atau dua jenis pakaian bermotif sama untuk dipajang di galeri. Pakaian ini hanya menajdi contoh. Jika ada  pesanan, baru dibuat dalam jumlah yang lebih banyak. (*/r3)

Berita Lainnya

Korban Gempa Dikadali, BPBD Terima Laporan Bahan Rumah Korban Gempa Tak Sesuai Spek

Kedubes Prancis Kunjungi Poltekpar Lombok

Dapil Satu-Dua Milik Kepala Garuda

320 Jamaah Belum Lunasi BPIH

Korban Gempa Tarawih di Masjid Darurat

Caleg Gagal Malas Hadiri Rapat Paripurna

Pansus DPRD Terima LKPJ Wali Kota Tahun Anggaran 2018

Perjuangan Para Pahlawan Demokrasi Mewujudkan Pemilu Jujur dan Adil

Restoran Siap Saji Dapat Toleransi