Lombok Post
Metropolis

Kalau Lagi Mood, Lima Jam Bisa Selesai

KEREN BANGET: Salah satu karya karikatur yang dibuat Aditya merupakan pesanan dari PLN Wilayah NTB, terpampang di kantor kerjanya, Senin (12/11).

Seni karikatur sebenarnya telah lama muncul. Tapi pasar belum merespons sebaik seni lukis. Namun seorang anak muda asal Selagalas, kembali mencoba peruntungan karikatur melalui keajaiban tangannya.

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

———————————————————-

TIDAK ada pekerjaan senikmat hobi. Alasan inilah yang membuat Aditya Wirawan, nekat melawan arus.

Saat banyak orang gila-gilaan mengejar mimpi ingin jadi PNS, Aditya justru berlari ke arah sebaliknya. Menyusun puzle-puzle mimpi. Yakni punya sebuah kantor kecil, di mana semua orderan bisa dilayani secara offline.

Ditambah satu orang staf yang melayani kebutuhan kerjanya. “Selama ini saya layani orderan secara online,” kata Aditya.

Ia sudah lama merintis usaha anti maintream ini. Apa itu? Pembuatan karikatur. Sebuah usaha yang tidak banyak orang yang melihat itu sebagai peluang usaha.

Bagaimana tidak. Smartphone dengan kecanggihan aplikasi yang tersedia di playstore saat ini, menyiapkan banyak aplikasi gratis. Siap mengubah gambar real jadi karikatur secara gratis. Lalu apa yang akan diunggulkan Aditya, jika yang gratis saja begitu mudah didapat?

“Saya menawarkan gambar karikatur yang lebih detail dengan pilihan gambar badan dan latar sesuai selera,” ujarnya yakin.

Tawaran yang diberikan Aditya, memang tidak bisa didapat di aplikasi-aplikasi karikatur ala play store. Karena keunggulan itu pula, Aditya saban bulan selalu banjir orderan dari para peminat karikatur.

Ia bahkan sampai dibuat repot menolak halus orderan yang masuk. Karena permintaan pembuatan karikatur yang menumpuk di meja kerjanya.

“Kalau fokus, saya bisa selesaikan satu objek karikatur dalam lima jam,” ujarnya.

Tapi situasi kerja fokus, tenang, dan rileks itu tidak bisa ia dapat terus-menerus. Apalagi Aditya baru lulus kuliah Desain Komunikasi Visual (DKV) pada sebuah Universitas di Denpasar. Ia masih muda dan punya banyak waktu untuk sahabat-sahabat seusianya.

“Karena itu pekerjaan jadi molor, satu karakter butuh waktu lebih panjang. Baru jadi sekitar tiga hari, dari gambar sampai print out,” terangnya.

Aditya punya mimpi besar. Mimpi yang tidak biasa. Mimpi yang tak lazim didengar dari kebanyakan orang. Sama tak lazimnya saat mendengar seorang remaja yang bermimpi punya Production House untuk chennel YouTube.

Mimpi Aditya terdengar penuh energi dan optimisme. Khas mimpinya generasi milenial. Ia ingin tempat yang ia rintis saat ini suatu ketika mebesar dan menjadi pusat pembuatan karikatur di NTB.

“Dan sepertinya juga saya yang pertama di Lombok,” ujarnya yakin.

Ia terlihat yakin bisa mewujudkan mimpinya. Pangsa pasar yang telah ia bangun bertahun-tahun secara online jadi jaminannya. Lewat ragam media sosial bertahun-tahun ia telah melayani pembuatan karikatur seantero negeri.

“Dari Sumatera, Kalimantan, dan banyak tempat pesanan pembuatan karikatur itu datang,” tuturnya.

Kantor kecil yang ia impikan nantinya jadi besar itu berlokasi di pinggir jalan Ahmad Yani, Sweta, Mataram. Ruko kantornya diapit kanan, kiri, depan, belakang oleh usaha raksasa di bidang bangunan hingga peternakan. Usaha yang saban hari meraup omzet hingga puluhan juta.

Tapi Aditya tak sedikit pun minder. Ia pun yakin ‘berkah’ usaha-usaha besar yang mengapit kantor desain karikatur yang ia beri nama Crevisign, akan kecipratan ke usahanya.

“Orang tua dukung, mereka yang siapkan ruko ini,” jelasnya.

Setiap minggu ia bisa mengantongi paling tidak Rp 2-3 juta. Bahkan bisa lebih. Ia bahkan tengah ancang-ancang merekrut tenaga kerja baru yang bisa ia ajak membangun Crevisign.

“Kalau visi kita sama, kenapa tidak,” ujarnya.

Apalagi di generasi milenial saat ini muncul tren untuk menjadikan karikatur sebagai hadiah persahabatan. Mulai dari hadiah ulang tahun, keakraban, hingga wisuda. Karikatur dinilai lebih bisa menggambarkan apa adanya karakter seseorang dengan jernih. Daripada foto real hasil jepretan fotografer.

“Karakter asli orangnya bisa lebih ditonjolkan melalui karikatur dan ini tidak mudah,” tegasnya.

Seperti apakah orang itu periang, pendiam, gemar bertutur, gemar bersosial, ataupun karakter-karakter lainnya. Dan ini jadi tren remaja saat ini untuk menggambarkan karaker sahabatnya dalam persepktif dia.

“Saat yang pesan bilang, ‘ini baru pas banget sesuai karakter temen saya’, di situ kepuasan saya sebagai seorang karikaturis sampai pada puncak bahagianya,” bebernya, lalu tersenyum bangga. (bersambung/r5)

menata mimpinya punya sebuah kantor kecil. Di mana semua orderan karikatur yang selama ini menumpuk

Mengelurka ciri khas orang itu. jati diri. visualisasi sesuai eprmntan custemer. Dia hobinya berenang, mau dijadikan visualisasi. Itu sebagai salah satu fotografi itu realistis.

Ndak bisa dibuuat-buat, realis dari imajinatif. Peri perjaan sampai sekarnag ka nndka mungkin, seperti avenger anggap tim solit bisa divisualiasisasi.  Aditiya Wirawan

Berita Lainnya

Situs Tua Ambruk Lagi

Redaksi Lombok Post

Dua Kafe Siapkan Wanita Penghibur

Redaksi Lombok Post

Efek Pemberlakuan Sistem Zonasi, Siswa Tak Perlu Daftar Sekolah Lagi

Redaksi Lombok Post

Bukan Tidak Tahu, tapi Malas Patuh!

Redaksi LombokPost

Uang Nomor Dua, Paling Penting Lingkungan Bebas Sampah

Redaksi LombokPost

Mohan Bikin Kejutan di Mataram Jazz & World Music Festival 2018

Redaksi LombokPost

Setengah Hati Urusi Bisnis “Nakal”

Redaksi LombokPost

Bangunan Tua Itu Perlu Direnovasi

Redaksi Lombok Post

Gempa Lagi, Panik Lagi

Redaksi Lombok Post