Lombok Post
Metropolis

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

BANJIR LAGI: Warga tengah melintas di gang lingkungannya yang terendam banjir, akibat meluapnya sungai Ancar, Minggu (11/11).

MATARAM-Banjir yang terjadi Minggu sore sempat menyisakan tanya. Apa yang menyebabkan air bisa menggenangi tiga lingkungan di Kekalik? Padahal saluran drainase di sana dimensinya telah diperlebar?

Hadi Suciawan, Koordinator Tagana dan Satgas Sosial, Dinas Sosial (Dinsos) Kota Mataram mengatakan, air yang membanjiri tiga kelurahan di Kekalik, adalah limpasan air dari sungai Ancar. Limpasan air itu diperparah karena sungai tidak pernah dinormalisasi.

“Kami berharap BWS atau Dinas PUPR bisa mengangkat sedimentasi sungai ini,” kata Hadi.

Dari pendataan yang dilalakukan, sedikitnya 130 rumah warga yang terendam parah. Sisanya ada yang tergenang. Debit air sungai Ancar pun meningkat drastis akibat hujan yang merata di daerah aliran sungai se Lombok.

Dari rilis BMKG yang diterima Lombok Post hujan yang disertai angin kencang kemarin terjadi di banyak titik. Di Mataram sendiri terjadi di Cakranegara. Sedangkan di Lombok Barat terjadi di Kediri dan Narmada. Lalu di Lombok Tengah terjadi di Pringgarata, Batukliang, dan Kopang. Sementara di Lombok Timur di Terara, Sikur, dan Masbagik.

Hujan ini juga diperkirakan meluas hingga ke Ampenan, Gerung, Jonggat, Praya, Janapria, Gangga, Sakra, Sukamulya, Aikmel dan sekitarnya.

“Makanya air meluap dan keruh karena hujan di wilayah timur besar,” jelasnya.

Selain itu, ada 6 titik lain di kota yang juga volume air sungainya meningkat. Sungai-sungai itu juga patut diwaspadai jika hujan kembali turun deras merata se-Pulau Lombok.

“Sungai Babakan, Sayang-Sayang, Sekitar Sungai Monjok, lalu ada beberapa sungai di Pagutan,” terangnya.

Lurah Kekalik Jaya H Fathurrahman mengatakan, banjir yang terjadi Minggu sore kemarin menyisakan kerugian materil bagi warga. Dapur yang biasa digunakan untuk mengolah tahu-tempe oleh warga Kekalik, basah dan tegenang.

“Bahan bakar dan kompor mereka terendam, sehingga tidak bisa berproduksi,” kata Fathur.

Untungnya tidak ada laporan dari warga yang bahan baku pembuat tahu dan tempe hanyut. Hanya terendam saja. Sehingga membuat warga harus menunda produksi menunggu peralatan kering.

“Ada tiga lingkungan yang terdampak,” sebutnya.

Namun Fathur setuju penyebab banjir kemarin sebab sedimentasi sungai yang terlalu tebal. Apalagi di daerah hulu ada peningkatan debit air. Maka mau tidak mau kawasan hilir seperti Kekalik mendapati debit air meningkat deras.

“Sedimentasinya hampir dua meter,” duganya.

Ketinggian talud dengan sungai nyaris sama. bahkan hampir sama tinggi dengan dataran di mana rumah-rumah warga berdiri. Jika tidak segera ditangani bisa saja bencana lebih besar mengancam di kemudian hari.

Tapi Fathur mengklaim drainase yang baru dibuat bekerja dengan baik. Menjadi titik resapan limpasan air sungai Ancar. Jika pengalaman sebelumnya Kekalik paling tidak terendam 3-4 jam saat menerima banjir kiriman. Tapi saat ini air surut lebih cepat.

“Tadi (kemarin, Red) cuma banjir sekitar 1 jam,” klaimnya.

Camat Sekarbela Cahya Samudra mengatakan, pihaknya sudah dari dulu mengajukan untuk normalisasi sungai. Terutama dua sungai besar yang melintas di Sekarbela.

“Sungai Ancar yang bersambung dengan sungai Brenyok,” kata Cahya.

Tapi surat permohonan normalisasi itu tidak pernah ada jawaban. Bahkan sejak ia ditunjuk sebagai Camat Sandubaya. Ia menduga OPD teknis kesulitan untuk memenuhi permintaan mereka karena air sungai yang tidak pernah kering. Itu akan menyulitkan proses pengerukan sedimentasi.

“Selain itu sepertinya karena anggaran juga,” duganya.

Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram Syamsul Bahri malah punya pandangan berbeda di balik banjir yang selama ini rutin terjadi di Kekalik. Terutama saat hujan turun deras. Menurutnya tidak semata-mata karena sedimentasi. Tetapi daerah resapan yang berkurang.

Tak tanggung-tanggung Syamsul menunding PLN yang membangun PLTGU Lombok Peaker di Bageq Kembar, harus bertanggung jawab. Atas banjir yang terjadi selama ini di Kekalik.

“Direktur PLN Wilayah harus bertanggung jawab!” tegas Syamsul.

Ia melihat, sejak pengurukan tanah yang dilakukan PLN di kawasan Bageq Kembar, Tanjung Karang, Sekarbela beberapa tahun silam banjir mulai sering terjadi di Kekalik. Pengurukan tanah ia lihat telah berdampak pada berkurangnya daerah resapan air di kawasan Sekarbela.

“Dan faktanya dua kali kami lakukan rapat koordinasi dengan pihak PLN, dua kali pula mereka tidak bisa menunjukan Amdal,” cetusnya.

Tetapi pihak PLN dengan santainya melenggang membangun di sana. Bahkan Syamsul menuding PLN tidak mengindahkan Perda RTRW Kota Mataram nomor 12 tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah.

“Coba lihat dengan RTRW Kota, itu kan bukan kawasan industri, tapi daerah resapan,” tegasnya.

Jadi ia menilai wajar jika akhirnya menuntut pertanggung jawaban pihak PLN. Agar terlibat juga memikirkan jalan keluar atas banjir yang menimpa kawasan Kekalik. Tidak hanya bertameng punya ‘diskresi’ dari pemerintah pusat untuk membangun pembangkit listrik di sana.

“Siapapun saya rasa harus bertanggung jawab, termasuk BUMN. Jangan cuma salahkan pemerintah kota saja yang tidak bisa tangani sedimentasi,” tandasnya. (zad/r5)

Berita Lainnya

Pemkot Optimis Semua Formasi Terisi

Redaksi LombokPost

Lahan Belum Beres, Pemkot Usulkan Rusunawa Nelayan

Redaksi LombokPost

Bukan Gertak Sambal! Ormas Ancam Turun Tertibkan Tempat Maksiat

Redaksi LombokPost

Lima Spa Abal-Abal Ditertibkan

Redaksi Lombok Post

Bunuh Diri kok Hobi

Redaksi Lombok Post

Situs Tua Ambruk Lagi

Redaksi Lombok Post

Dua Kafe Siapkan Wanita Penghibur

Redaksi Lombok Post

Efek Pemberlakuan Sistem Zonasi, Siswa Tak Perlu Daftar Sekolah Lagi

Redaksi Lombok Post

Bukan Tidak Tahu, tapi Malas Patuh!

Redaksi LombokPost