Lombok Post
Headline Metropolis

Target Diprediksi Meleset!

HAMPIR RAMPUNG: Seorang tukang bangunan tengah mengerjakan tembok rumah RISHA salah satu warga, di Pengempel Indah, Bertais, Sandubaya, Senin (12/11).

MATARAM-Sekalipun berbagai upaya sudah dilakukan untuk mempercepat proses penanganan kebencanaan paska gempa bumi, namun mustahil bisa tuntas Maret 2019.

“Sebenarnya kalau masyarakat rajin mungkin bisa,” kata Joko Wismoko, Korwil Mataram Badan Nasional Penanggulangan.

Tapi fakta di lapangan, target satu rumah satu minggu, gagal dicapai. Bahkan warga baru bisa menuntaskan satu rumah setelah satu bulan lebih. Hal ini yang membuat Joko tidak yakin hingga bulan Maret 2019, proses rehabilitasi dan rekonstruksi bisa rampung, sesuai arahan Presiden RI.

“Bahkan kita sudah kasih kelonggaran dua minggu saja sampai finishing penembokan, namun ternyata tetap sulit,” terangnya.

Joko memang memantau langsung proses rehabilitasi dan rekonstruksi detik ke detik di Kota Mataram. Terutama di dua wilayah terparah. Yakni Pengempel Indah dan Gontoran Barat. Melihat motivasi kerja warga dan berbagai persoalan yang mendera.

“Tidak bisa kita paksakan masyarakat, kemampuan mereka sampai di situ,” ujarnya.

Karena itu, ia mencoba realistis. Memasang target tidak terlalu muluk. Yang penting proses pengerjaan RISHA dan RIKO bisa tetap berjalan. Apapun hasilnya sampai batas waktu ia ditugaskan untuk mengawal proses rehabilitasi dan rekonstruksi di sana.

“Semua target memang meleset,” akunya.

Ini diluar persoalan panel RISHA yang berlum tersedia cukup. Mengingat beberapa BUMN yang telah ditetapkan sebagai aplikator baru memulai proses pembuatan panel. Sementara panel yang sudah jadi diperebutkan ke daerah-daerah yang terdampak gempa.

“Kalau kami ditarik nanti, ya kita serahkan ke Pemerintah Kota Mataram, yang selanjutnya harus mengawal proses pembangunan RISHA dan RIKO sampai selesai,” ujarnya.

 Sampai saat ini baru 13 unit panel RISHA yang sudah dirakit dan berdiri. Sebagian masih dalam proses penembokan, sebagian lainnya baru usai disusun panel-panelnya.

“11 unit di sini (Pengempel Indah) dan 2 unit di Gontoran,” terangnya.

Kepala Dinas Perkim Kota Mataram HM Kemal Islam yang terpantau rutin memantau pengerjaan RISHA dan RIKO di lokasi, mengatakan saat ini masih ada 4 aplikator.

“Tidak hanya Abipraya yang kita jajaki yang lain juga kita jajaki,” kata Kemal.

Tapi persoalan yang dihadapi tidak hanya minimnya jumlah aplikator. Dari 10 aplikator yang diharapkan baru 4 yang sudah rutin menyuplai panel RISHA ke Mataram. Tetapi di tengah jalan muncul persoalan lain.

“Para aplikator rupanya hanya siap menyediakan panel, sedangkan tukang pasang mereka tidak siap,” jelasnya.

Panel-panel RISHA kini hanya bisa menumpuk di lokasi yang terdampak. Warga hanya bisa menunggu datangnya para tukang untuk merakit panel RISHA. Sementara 40 tukang yang diberi pelatihan oleh Perkim bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk merakit RISHA yang siap baru dua kelompok.

“Padahal tadinya kita berharap dari 40 orang yang ikut pelatihan, kita bisa buat paling tidak 8 kelompok tukang yang siap pasang RISHA,” ujarnya.

Tapi entah karena apa, para tukang-tukang yang sudah dapat pelatihan itu ragu. Padahal dari sisi pendapatan Kemal berpendapat penghasilan mereka bisa melebihi pendapatan tukang bangunan pada umumnya.

“Kalau tukang bangunan sehari dapat Rp 125 ribu, tapi kalau mau pasang panel RISHA sehari mereka dapat Rp 200 ribu, kenapa mereka tidak mau?” ujarnya heran.

Ia pun berharap semangat belajar pasang panel RISHA ini bisa timbul di benak Pokmas. Sehingga mereka bisa mengerjakan sendiri rumah-rumahnya. Dengan begitu tidak perlu bergantung lagi pada tukang lain.

“Bahkan kalau ada tukang luar yang mau menggarap ini, silakan kami sangat terbuka,” tantangnya. (zad/r5)

Berita Lainnya

Situs Tua Ambruk Lagi

Redaksi Lombok Post

Dua Kafe Siapkan Wanita Penghibur

Redaksi Lombok Post

Suka Duka Mahasiswa NTB Menuntut Ilmu di Eropa (1)

Redaksi Lombok Post

Efek Pemberlakuan Sistem Zonasi, Siswa Tak Perlu Daftar Sekolah Lagi

Redaksi Lombok Post

Didukung Warga, Ustad Budi Tak Gentar Dikepung Calon Petahana

Redaksi Lombok Post

Bangun Mandalika, ITDC Pinjam Rp 3,6 Triliun ke AIIB

Redaksi LombokPost

Bukan Tidak Tahu, tapi Malas Patuh!

Redaksi LombokPost

Uang Nomor Dua, Paling Penting Lingkungan Bebas Sampah

Redaksi LombokPost

Mohan Bikin Kejutan di Mataram Jazz & World Music Festival 2018

Redaksi LombokPost