Lombok Post
Metropolis

Anak Muda sampai Pengusaha Berebut Buat Karikatur

KEREN BANGET: Salah satu karya karikatur yang dibuat Aditya merupakan pesanan dari PLN Wilayah NTB, terpampang di kantor kerjanya, Senin (12/11).

Boleh saja ada orang memandang sinis dengan bisnis karikatur. Tapi usaha yang gigih, selalu membuahkan hasil manis. Keyakinan ini terpatri kuat di hati para Karikaturis!

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

———————————————————

ADITYA Wirawan menjawab tatangan Lombok Post. Sebuah foto dipilih untuk dibuat karikatur. Dengan plafon aplikasi Photoshop ia akan bekerja. Tangannya lalu menyambar pen drawing tablet. Kakinya bergerak naik turun cepat, tanpa iringi nada.

Telunjuk tangan kiri ia hentak-hentkan sekali waktu. Seperti menjadi dirigen emosinya yang belum puas dengan bentuk gambar yang ia baut.

Tatapannya fokus menatap foto. Sedangkan tangan kanannya ia biarkan bebas menari di atas drawing tablet menggambar sesuai imajinasinya.

“Yang penting memang harus bisa melihat karakter fotonya,” kata Aditya.

Tangannya  masih bekerja. Ia baru menyelesaikan menggambar karikatur wajah foto itu. Uniknya sekilas sekalipun belum diberi warna, gambar yang dibuat Aditya mampu mencerminkan karakter kuat foto. Mirip. Padahal dari komposisi warna dan detail jauh berbeda.

“Saya memang sudah menyenangi dunia gambar sejak masih kecil,” akunya.

Aditya menyudahi gambarnya setelah dirasa cukup. Memang belum selesai, tapi terlihat ia akan mampu menyelesaikan karikatur itu dengan sempurna. Itu cukup sebagai penanda puluhan karikatur yang terpajang di kantor Crevisign-nya, benar-benar karyanya. Bukan karya orang lain apalagi hasil dari penggunaan aplikasi pro yang tidak semua orang memilikinya.

“Semuanya saya yang buat,” ujarnya bangga.

Sekalipun Aditya mencoba membawa karikatur dalam dunia yang khas generasi milenial. Tapi bukan berarti peminat karyanya hanya sebatas remaja-remaja milenial yang senang seni karikatur. Faktanya Aditya menunjukan beberapa karikatur yang ia pajang di Crevisign, sebagian besar di pesan oleh Corporate.

“Ada pesanan dari Bank, PLN, BLK, dan banyak yang lain,” contohnya.

Tapi bukan berarti sasarannya pada generasi milenial meleset. Order dari mereka pun bejibun. Sehingga Aditya pun terpaksa harus menolak jika jobnya sudah terlanjur menumpuk.

Ada yang jadi kado ulang tahun, kado wisuda, dan yang paling tren di akhir tahun sekolah jadi kado perpisahan.

“Biasanya mereka udah akrab banget di sekolah-sekolah. Tapi karena sudah mau lulus pada buat karikatur bersama jadi kenang-kenangan,” terangnya.

Soal tarif Aditya mematok satu karakter Rp 100 ribu. Tapi bila dalam satu frame karikatur ada banyak karakter ia bisa kasih diskon lebih murah perkarakter foto. “Bisa Rp 50 ribu,” jelasnya.

Ketika masih mengenyam pendidikan di Pulau Bali, Aditya pernah di minta sebuah koran ternama di sana, membuat karikatur artis Daniel Mananta. Karikatur itu selain dicetak secara luas, juga diserahkan pada Daniel untuk jadi kenang-kenangan.

“Bangga dong,” ujarnya sembari mengulum senyum.

Tapi dari sekian karikatur yang pernah ia buat, tidak ada yang paling berkesan dan menyita emosinya saat ia membuat karikatur dengan karakter fisik Mahabrata. Bagi Aditya tanggung jawabnya lebih besar. Karena ia harus bisa menangkap pesan yang sangat detail dari pakaian etnik tokoh-tokoh mahabarata.

“Garapnya tentu harus lebih serius,” akunya.

Selain banyak dipesan ke seantero negeri, bebrapa karya buatannya juga ada yang dibawa ke luar negeri. Beberapa wisatawan secara khusus menghubungi melalui akun media sosial dan meminta bertemu.

“Mereka minta dibuatkan karikatur khas latar belakang Lombok untuk dibawa ke negerinya, seperti ke Singapura,” kisahnya.

Karena itulah Aditya masih memegang dengan erat optimismenya. Hobi menggambarnya suatu saat akan membawa takdir baik untuk hidupnya. Ia tidak perlu larut dalam hiruk-pikuk kebanyakan orang lain yang bingung mau kerja apa dan di mana.

Atau memburu kerja tertentu, lalu setelah gagal frustasi. Aditya yakin generasi milenial berhak menentukan jalan hidup dan pekerjaanya sendiri.

“Kalau kita fokus dan pantang menyerah, saya rasa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil,” tutupnya. (*/r5)

Berita Lainnya

Pemkot Optimis Semua Formasi Terisi

Redaksi LombokPost

Lahan Belum Beres, Pemkot Usulkan Rusunawa Nelayan

Redaksi LombokPost

Bukan Gertak Sambal! Ormas Ancam Turun Tertibkan Tempat Maksiat

Redaksi LombokPost

Lima Spa Abal-Abal Ditertibkan

Redaksi Lombok Post

Bunuh Diri kok Hobi

Redaksi Lombok Post

Situs Tua Ambruk Lagi

Redaksi Lombok Post

Dua Kafe Siapkan Wanita Penghibur

Redaksi Lombok Post

Efek Pemberlakuan Sistem Zonasi, Siswa Tak Perlu Daftar Sekolah Lagi

Redaksi Lombok Post

Bukan Tidak Tahu, tapi Malas Patuh!

Redaksi LombokPost