Lombok Post
Headline Praya

Dewan Pertanyakan Penyedia Panel RISHA

MENDENGARKAN PENJELASAN: Potret korban gempa di wilayah utara Lombok Tengah, saat mendengarkan penjelasan penanganan pascabencana, Senin (12/11) lalu.

PRAYA-83 kepala keluarga (KK), di delapan kelompok masyarakat disejumlah desa di Kecamatan Batukliang Utara Lombok Tengah, beralih membangun rumah konvensional (Riko). Itu karena, panel rumah instan sederhana sehat (Risha) terbatas, bahkan kosong.

“Ada juga yang berencana membangun rumah instan kayu atau Rika,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Loteng H Muhamad pada Lombok Post, kemarin (13/11).

Muhamad menekankan, apa pun yang akan dibangun warga, yang penting anggarannya dapat dipertanggungjawabkan. Kalau Riko, butuh anggaran besar. Namun, tetap saja pemerintah pusat menyiapkannya sesuai nilai awal. Untuk rumah rusak berat Rp 50 juta rusak ringan Rp 25 juta dan rusak ringan Rp 10 juta.

Riko, terangnya merupakan bangunan rumah yang terbuat dari beton, pondasi hingga tembok dari beton. Kalau berbicara kekuatan, Riko tidak perlu diragukan lagi. Hanya saja, proses pembangunannya butuh waktu lama, bisa berbulan-bulan.

Sedangkan Rika, lanjut Muhamad bangunan rumahnya yang terbuat dari kayu, pondasi hingga tembok dari kayu. Namun, standar kayu yang direkomendasikan pemerintah, minimal kelas dua. Tidak boleh dibawah itu, kelas satu tambah bagus lagi. Prosesnya, membutuhkan waktu berminggu-minggu. “Kalau Risha antara 4-5 hari saja. Cuma, panel nya kurang,” keluh Muhamad.

Jadi, tekannya lagi Pemkab tidak bisa melarang, warga mau membangun apa. Kecuali, panel Risha sesuai kebutuhan. “Kalau begitu, kita desak dan evaluasi saja si penyedia panel. Jangan lamban,” sambung Ketua DPRD Loteng H Puaddi FT, terpisah.

Dewan pun, beber Puaddi akan menyusun jadwal, guna memanggil para penyedia panel Risha. Kalau tidak mampu memenuhi target, maka kenapa tidak mencari perusahaan lain, yang siap bersedia kapan pun dan berapa pun. “Gara-gara lambannya pembangunan ini, warga kami mulai terjangkit penyakit,” keluh Kepala Desa (Kades) Selebung Agus Kusumahadi.

Salah satunya, tambah Agus penyakit kolera. Itu terjadi, karena sudah lama para korban gempa tinggal di tenda-tenda darurat. “Entah sampai kapan,” cetusnya.(dss/r2)

Berita Lainnya

Baru Mau Bangkit, Terpuruk Lagi Akibat Tiket Pesawat dan Bagasi Mahal

Redaksi LombokPost

Tim Labfor Turun Tangan Selidiki Penyebab Kebakaran Rumah Direktur Walhi NTB

Redaksi LombokPost

Mantan Napi Teroris Pulang ke Bima

Redaksi LombokPost

Terdakwa Korupsi Anggaran Satpol PP Kabupaten Bima Divonis 15 Bulan Penjara

Redaksi LombokPost

Cukong Kayu Dilimpahkan Ke JPU

Redaksi LombokPost

Telkomsel MAXstream dan Viddsee Kolaborasi

Redaksi Lombok Post

Alami Kecelakaan Kerja, Segera Lapor ke BPJS Ketenagakerjaan

Redaksi Lombok Post

Bawaslu Loteng Rekrut 3.316 PTPS

Redaksi LombokPost

Siap-siap, Ada Mutasi Lagi!

Redaksi LombokPost