Lombok Post
Headline Praya

Pemkab Loteng Bangun Pendeteksi Tsunami

MENYAMPAIKAN PEMAPARAN: Sekda HM Nursiah, saat menyampaikan pemaparan tentang, simulasi penanggulangan bencana di Hotel D’Max Penujak, Praya Barat Lombok Tengah, kemarin (13/11).

PRAYA-Pemkab Lombok Tengah, memastikan akan mengintervensi pengadaan dan pembangunan alat deteksi tsunami. Lokasinya, akan ditentukan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) NTB. Jika terwujud, maka warga dipersilakan mematuhi ketentuan yang ada.

        “Jadi, tidak sulit bagi Bupati. Kalau sekitar Rp 1 miliar,” cetus Sekda Loteng HM Nursiah, saat menyampaikan pemaparan tentang, simulasi penanggulangan bencana di Hotel D’Max Penujak, Praya Barat Lombok Tengah, kemarin (13/11).

        Pernyataan itu disampaikannya, setelah BMKG Stasiun Geofisika Mataram berharap Pemkab membantu. Karena, potensi gempa dan tsunami di wilayah selatan Loteng masih ada. Itu sebagaimana catatan sejarah tahun 1856 silam dan tahun 1976 silam. BMKG pun memperkirakan, kisaran 40-50 tahun kedepan akan terjadi lagi.

        “Semoga, perkiraan itu salah. Kuncinya, kita membentengi daerah dengan dekat pada Allah SWT,” seru orang nomor satu dijajaran birokrasi Loteng tersebut.

        Bagi Nursiah, manusia hanya bisa memprediksi. Namun, yang menentukan Sang Maha Pencipta. Kendati demikian, manusia harus melakukan langkah antisipasi dan deteksi dini. Salah satunya, dengan pembangunan alat yang dimaksud.

        “Harga alat deteksi itu mencapai Rp 1,5 miliar. Itu di luar proses pembangunannya,” sambung Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) H Muhamad.

        Ia pun berharap, pihak ITDC juga ikut membantu. Bila perlu, diwilayah selatan Loteng terdapat tiga titik alat deteksi tsunami. “Kami tunggu,” cetus Muhamad.

        Sementara itu, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Mataram Agus Riyanto merasa bersyukur  jika Pemkab benar-benar mewujudkannya. Jika mengandalkan BMKG, sepertinya sulit. Terlebih, sudah dua tahun berjalan kebijakan pengadaan dan pembangunan alat deteksi tsunami ditiadakan.

        Kendati demikian, ungkap Agus BMKG berharap simulasi penanggulangan bencana bisa diterapkan secara massal dan menyeluruh. Bila perlu, setiap lembaga pendidikan memiliki kurikulum tentang, hal tersebut. “Dengan begitu, kita memiliki sikap kesiapsiagaan,” ujarnya.(dss/r2)

Berita Lainnya

Kades Jangan Alergi Diperiksa!

Redaksi LombokPost

Surya Paloh Road Show ke Lombok

Redaksi LombokPost

Lima Spa Abal-Abal Ditertibkan

Redaksi Lombok Post

Suka Duka Mahasiswa Bumi Gora Menuntut Ilmu di Benua Biru (2)

Redaksi Lombok Post

Bunuh Diri kok Hobi

Redaksi Lombok Post

Dua Kafe Siapkan Wanita Penghibur

Redaksi Lombok Post

Suka Duka Mahasiswa NTB Menuntut Ilmu di Eropa (1)

Redaksi Lombok Post

Efek Pemberlakuan Sistem Zonasi, Siswa Tak Perlu Daftar Sekolah Lagi

Redaksi Lombok Post

Didukung Warga, Ustad Budi Tak Gentar Dikepung Calon Petahana

Redaksi Lombok Post