Lombok Post
Kriminal

Saksi Beberkan Percakapan Muhir

PULANG KE LAPAS: Ketua Komisi IV DPRD Kota Mataram H Muhir memasuki mobil tahanan usai menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Mataram, kemarin (13/11).

MATARAM-Sidang dugaan korupsi Ketua Komisi IV DPRD Kota Mataram H Muhir kembali bergulir di Pengadilan Tipikor Mataram, kemarin (13/11). Seperti sidang-sidang sebelumnya, Muhir membantah keterangan saksi dalam dugaan perbuatan korupsinya.

JPU Kejaksaan Negeri (Kejari) Mataram menghadirkan lima saksi. Dua di antara mereka, yakni Hijrat dan Muchtar  penasihat hukum Sudenom, mantan Kadisdik Kota Mataram yang menjadi tersangka dalam kasus dugaan pungli.

Kehadiran Hijrat dan Muchtar terkait dengan telepon Muhir kepada Sudenom. Komunikasi tersebut terjadi pada Rabu (12/9) atau dua hari sebelum operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Muhir.

”Saat itu saya lagi dampingi Pak Sudenom dalam pemeriksaan di kasus pungli,” kata Hijrat membuka keterangannya.

”Telepon masuk dan di loudspeaker,” sambung dia.

Karena di lantangkan suaranya , Hijrat mengaku mendengar percakapan antara Sudenom dengan orang yang menelepon. Kata dia, penelepon Sudenom menyampaikan bahwa sudah ditetapkan dana rehabilitasi sekolah pascagempa sebesar Rp 4,2 miliar.

Belakangan, setelah percakapan itu, Sudenom memberitahu bahwa yang meneleponnya adalah anggota DPRD Kota Mataram H Muhir. ”Awalnya saya tidak tahu (terdakwa) yang menelepon. Tapi, setelah itu dikasih tahu Sudenom kalau itu H Muhir, anggota DPRD Kota Mataram,” terang Hijrat.

Setelah Muhir menyampaikan mengenai anggaran rehabilitasi gempa, kata Hijrat, disambung dengan satu kalimat serupa pertanyaan. ”Bagaimana saya? Itu disampaikan Muhir,” lanjutnya.

Masih dalam percakapan tersebut, Sudenom kemudian menjawab bahwa nanti kontraktor yang mengurusnya. Tetapi, Muhir tidak menginginkan kontraktor.

”Kemudian ditanya Sudenom, berapa saya siapkan. Setelah itu dijawab Muhir, besok saja, nanti saya ke kantor (Disdik) Kota Mataram,” jelas Hijrat.

JPU Kejari Mataram Deddi kemudian menanyakan apakah Sudenom pernah bercerita lebih jauh mengenai siapa dan bagaimana H Muhir.

”Sudenom hanya bilang, H Muhir sering datang ke Kantor Disdik. Kalau datang, itu langsung buka laci. Itu cerita Sudenom,” ungkap saksi.

Selain itu, ketika ada kunjungan ke luar daerah, Sudenom juga memilih untuk tidak ikut. Dia kerap mendelegasikan stafnya sebagai pengganti keberangkatan dirinya. ”Sudenom tidak mau hadir, karena dia pasti keluarin uang kalau ikut. Jadi selalu menyuruh staf,” kata Hijrat.

Penasihat hukum terdakwa, Burhanudin menanyakan apakah dalam telepon tersebut mendengar Muhir meminta uang atau hadiah. Atau, menyebut nominal rupiah lain, selain nilai anggaran sebesar Rp 4,2 miliar.

”Tidak ada itu (meminta uang). Seperti keterangan saya yang tadi, hanya soal anggaran,” jawab Hijrat.

Dalam sidang kemarin, Ketua Majelis Hakim Isnurul Syamsul Arif terlihat beberapa kali mengulangi pertanyaan penasihat hukum kepada saksi. Alasan pengulangan tersebut karena penasihat hukum dinilai tendensius dalam menyampaikan pertanyaan.

Sementara itu, Muhir kembali membantah keterangan saksi. Ada dua hal yang menjadi poin bantahan Muhir, pertama mengenai siapa yang pertama kali menelepon pada Rabu (12/9), kedua terkait isi pembicaraan dalam telepon.

”Saya yang menelepon pertama, tapi kemudian putus. Setelah itu, Sudenom yang menelepon lagi,” kata dia.

Selain itu, Muhir mengaku tidak ada percakapan mengenai anggaran Rp 4,2 miliar dalam pembicaraan antara dia dan Sudenom.

Telepon saat itu terkait surat rekomendasi dan peraturan walikota (perwal). Muhir juga membantah adanya kalimat “Bagaimana saya” yang dilontarkan saat menelepon Sudenom.

”Termasuk bilang saya ke kantor Disdik langsung buka laci, itu tidak benar,” tegas Muhir.(dit/r2)

Berita Lainnya

Jalan Terjal Memburu Para Bandar

Redaksi LombokPost

Aksi Penjambret Terhenti Setelah Tiga Jam Beraksi

Redaksi LombokPost

Polda NTB Raih Hassan Wirajuda Award

Redaksi LombokPost

Kabur, Pasien RSJ Selagalas Gantung Diri

Redaksi LombokPost

Penyidik Siap Gelar Perkara Laporan Baiq Nuril

Redaksi LombokPost

Jaksa Tuntut Ringan Terdakwa Tapun

Redaksi LombokPost

Polda NTB Seleksi Pejabat Eselon III BPS

Redaksi LombokPost

Roswati Melawan Lewat PK

Redaksi LombokPost

Antisipasi Tren Kejahatan Akhir Tahun

Redaksi LombokPost