Lombok Post
Metropolis

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

JUARA PERTAMA: Tim Puskesmas Ampenan, Dinas Kesehatan Kota Mataram mendapatkan juara pertama dalam Lomba Cipta Menu B2SA Tingkat Kota Mataram yang digelar di halaman Kantor Wali Kota Mataram, kemarin (14/11).

Tofle Ernawati menyulap gadung dengan cara yang istimewa agar bisa dinikmati. Tak hanya enak, makanan ini juga diklaim sangat bermanfaat bagi siapapun yang sedang menjalani program diet.

YUYUN ERMA KUTARI, Mataram

———————————————-

Wajah Erna semringah. Ia sibuk meladeni foto bersama dengan peserta yang lain. Maklum, Erna bersama tim dari Puskesmas Ampenan, sukses menjadi juara Lomba Cipta Menu B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman).

Koran ini pun penasaran dengan berbagai macam makanan yang tersaji di atas meja tim Erna. Semuanya terpisah. Ada yang khusus untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Namanya masakannya juga unik-unik. Ada Nasiq Lobi (Lomak Ubi), Manuq Sebur Saus Lebui, Empak Teanggi dan masih banyak lagi.

Namun dari sekian nama yang tertera, Koran ini antusias dengan Nasiq Gunung Sagara. Warnanya beragam dan bagian atasnya agak mencolok. Tetapi masih sangat indah untuk ditatap.

“Itu perpaduan dari Singkong, Gadung, dan Ubi Sabrang,” katanya.

Gadung? Koran ini agak kaget. Kenapa bisa ada Gadung di masakan seindah dan seenak ini. Gadung sendiri sebenarnya tidak asing. Terutama bagi masyarakat pedalaman. Karena biasanya gadung di konsumsi sebagai pengganti nasi.

Itulah tujuan Erna. Ingin memperkenalkan Gadung ke masyarakat luas. Khususnya masyarakat perkotaan. Karena sesuai tema, Ia memang ingin menyingkirkan dominasi masakan yang diolah menggunakan beras dan terigu. Kemudian beralih ke umbi-umbian, sayur, buah, dan yang lainnya.

Erna bercerita, ia sebenarnya tidak berfikir memasukkan olahan Gadung ke dalam salah satu masakannya. Tapi seminggu sebelum dirinya dan tim mempersiapkan lomba ini, ia pergi mencari inspirasi di pasar. Kata Erna, di pasar, semua bahan bisa didapatkan. Termasuk Gadung.

“Saya jalan-jalan ke pasar, terus ada pedagang yang jual Gadung. Saya mulai berfikir, kenapa tidak saya masukkan Gadung dalam olahan ini,” terang Erna.

Setelah berdiskusi dengan tim, ternyata usulannya untuk memasukkan Gadung dalam masakan yang diolah mendapatkan lampu hijau. Erna mengatakan, keberadaan Gadung saat ini masih dipandang sebelah mata. Padahal jika diolah dengan baik, akan menghasilkan masakan yang lezat dan bergizi.

Bagi masyarakat pedesaan, Gadung memang populer. Tapi tidak bagi masyarakat perkotaan. Gadung juga bahan makanan yang mengandung energi, karbohidrat, lemak, kalsium, dan masih banyak lagi zat-zat baik yang dibutuhkan oleh tubuh.

“Karena kandungannya itu, bisa dijadikan pengganti beras sama ibu-ibu di rumah,” ujar Erna.

Erna mengatakan, timnya sengaja memasukkan olahan Gadung ke makan malam. Sebab kebanyakan yang melakukan diet, terutama wanita, sangat menghindari konsumsi karbohidrat pada makan malam.

Biasanya yang melakukan diet pun tidak makan malam. Karena, umbi Gadung merupakan salah satu yang dapat dijadikan sebagai pengganti makanan pokok beras.

Apalagi kalori yang terdapat pada Gadung jauh lebih rendah dari beras. Gadung, sama halnya seperti singkong, ubi, atau kentang.

Erna mengatakan, kebanyakan masyarakat saat mengonsumsi Gadung, mencampurnya dengan kelapa. Kemudian di baluri sedikit dengan garam dapur, agar memiliki rasa.

Menurutnya, itu bukan sesuatu yang salah. Sebab tergantung masyarakat saja dalam mengolahnya. Hanya saja, ibu-ibu di rumah harus bisa berkreasi, mengolah Gadung agar memiliki cita rasa tinggi.

Erna menjelaskan, pengolahan Gadung agar dijadikan makanan pun sangat mudah. Tinggal dikukus beberapa menit sampai teksturnya benar-benar pas untuk dikonsumsi. Teman makannya pun bisa dicoba dengan berbagai macam lauk.

“Pengolahan Gadung sebaiknya dikukus karena pengukusan lebih baik dibandingkan direbus. Dan teman makannya pun bisa pakai ikan atau ayam, tergantung selera masing-masing,” jelasnya.

Erna kemudian menerka-nerka, mungkin karena olahan Gadung juga menjadi salah satu faktor, kenapa timnya bisa mendapatkan juara pertama dalam lomba ini. Tujuan yang ingin dicapai tentu bisa mengembangkan menu B2SA berbasis sumber daya lokal, dan membangun budaya keluarga untuk dapat mengkonsumsi aneka jenis pangan dengan porsi seimbang.

“Kita kan tidak diperbolehkan juga pakai produk pangan dari luar, makanya Gadung ini juga kami maksimalkan keberdaannya untuk kami masukkan dalam masakan yang kami olah,” tegas Erna. (*/r5)

Berita Lainnya

Bukan Tidak Tahu, tapi Malas Patuh!

Redaksi LombokPost

Uang Nomor Dua, Paling Penting Lingkungan Bebas Sampah

Redaksi LombokPost

Mohan Bikin Kejutan di Mataram Jazz & World Music Festival 2018

Redaksi LombokPost

Setengah Hati Urusi Bisnis “Nakal”

Redaksi LombokPost

Bangunan Tua Itu Perlu Direnovasi

Redaksi Lombok Post

Gempa Lagi, Panik Lagi

Redaksi Lombok Post

Pintu Beasiswa Eropa Terbuka Lebar untuk Pelajar NTB

Redaksi Lombok Post

Gempa Lagi, Lombok Belum Stabil

Redaksi Lombok Post

Akhirnya, Revisi Perda RTRW Sah!

Redaksi Lombok Post