Lombok Post
NTB

Penyambungan Listrik Korban Gempa Gratis

Rudi Purnomoloka

MATARAM-Rumah-rumah yang rusak akibat gempa akan diberikan sambungan listrik gratis. Tapi itu hanya berlaku bagi rumah yang sebelumnya menjadi pelanggan PLN. Biaya penyambungan kembali akan digratiskan PLN.

”Begitu mereka berdiri rumahnya, bermohon ke PLN, kami siap sambung dan tanpa biaya,” kata General Manager PT PLN (Persero) NTB Rudi Purnomoloka usai menemui Gubernur NTB, kemarin (14/11).

PLN hanya akan menggratiskan biaya penyambungan KWh meter saja. Tapi untuk instalasi rumah tentu menjadi tanggungan pemilik rumah. Ia menyebutkan, jumlah pelanggan yang terdampak gempa hampir sama dengan rumah yang roboh. Di Lombok Utara saja mencapai 60 ribu, namun KWh yang diamankan saat ini ada 19 ribu lebih.

Demi alasan keamanan, PLN memutus sementara aliran listrik pada rumah-rumah rusak.  Penyambungan kembali akan dilakukan apabila instalasi listrik pelanggan dinyatakan aman.

”Pemasangan tidak dipungut biaya apapun,” tegasnya lagi.

Sementara untuk hunian sementara (Huntara), PLN sudah menyambungkan ke Huntara yang dibangun BUMN. Kalau Huntara yang dibangun swadaya masyarakat, mereka tinggal meminta bantuan ke PLN. ”Tinggal ke kantor kami, kita layani,” katanya.

Pascagempa berkekuatan 7.0 SR yang mengguncang Lombok 5 Agustus lalu, 90 persen pelanggan PLN di Kabupaten Lombok Utara padam. Tapi sekarang 20.451 pelanggan PLN terdampak gempa kembali dialiri listrik.

Beban puncak sistem kelistrikan Lombok mencapai 225 MW. Angka tersebut sama dengan beban sebelum terjadi gempa. Ini menunjukan aktivitas masyarakat sudah normal kembali. Saat gempa beban puncak di Pulau Lombok turun akibat menurunnya konsumsi listrik masyarakat. Beban puncak saat itu hanya sekitar 180 MW. Kondisi tersebut berangsur pulih secara perlahan, seiring dengan meningkatnya geliat perekonomian masyarakat Lombok.

Pascagempa, PLN langsung gerak cepat melakukan penormalan kelistrikan dengan menerjunkan tim recovery kelistrikan ke lokasi bencana. PLN mendatangkan 349 relawan kelistrikan dari Sumbawa, Bima, Bali, dan Jawa Timur. Hasilnya proses penormalan listrik lebih cepat. Delapan Gardu Induk yang berhasil dioperasikan satu hari pascagempa dan 2.900 gardu terdampak kembali normal pada 11 hari pascagempa.

Kalau pun saat ini masih sering terjadi pemadaman, itu bukan karena daya yang kurang. Tapi karena gangguan di lapangan pascapohon tumbang akibat angin kencang. ”Lebih karena faktor cuaca,” katanya.

Ia mengklaim, rasio elektrifikasi NTB sudah mencapai 90 persen. Tinggal 10 persen kepala keluarga di NTB belum teraliri listrik. Tapi ia yakin rasio elektrifikasi akan terus ditingkatkan. Saat ini sudah ada 35 ribu calon pelanggan yang akan memasang listrik. ”Yang belum teraliri karena lokasinya jauh, tapi kita dalam progres semua,” tandasnya. (ili/r7)

Berita Lainnya

Gubernur Targetkan SAKIP Nilai A, Pemprov Akan Belajar ke Jogja

Redaksi LombokPost

Siap-siap, Ada Mutasi Lagi!

Redaksi LombokPost

Bangun Huntap Gak Bisa Simsalabim

Redaksi LombokPost

Usut dan Tangkap Pelaku Teror Aktivis Walhi !

Redaksi LombokPost

Tanah Enklave Harus Segera Dituntaskan

Redaksi LombokPost

Tahun Depan Tak Ada Rastra

Redaksi LombokPost

Terminal Haji Jadi Kantor AirAsia?

Redaksi LombokPost

Pascagempa, Penderita Katarak Meningkat

Redaksi LombokPost

217 Ribu Anak Belum Punya Akta Kelahiran

Redaksi LombokPost