Lombok Post
Metropolis

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

KUMUH DAN BERDEBU: Kondisi pengungsian warga di kawasan Pengempel Indah, Bertais, Sandubaya, Kota Mataram, Kamis (15/11).

MATARAM-Keadaan pengungsi Gempa Bumi makin memprihatinkan. Dari tenda bocor sampai lantai yang berubah jadi lumpur saban hari mendera pengungsi.

Jumadil salah satu pengungsi di Gontoran Barat, Bertais, Sandubaya mengaku tidak pernah nyenyak tidur saat hujan turun. “Saya juga punya cucu yang harus saya jaga,” kata Jumadil.

Beruntungnya, tidak ada gangguan kesehatan serius mendera ia dan keluarganya. Hanya saja penyakit seperti flu, batuk, dan diare kerap menimpa warga di pengungsian.

Kondisi pengungsi di Gontoran Barat tidak lebih baik dengan di Pengempel Indah. Terutama anak-anak tidak sedikit yang terserang batuk, flu, dan diare. Jumanti salah satu pengungsi berharap pihak dinas kesehatan lebih rutin lagi mengecek kesehatan warga.

“Ini kan menular,” cetusnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi mengklaim, sejauh ini tidak ada ancaman penyakit menular membahayakan di tengah pengungsi. Sekalipun begitu ia tetap meminta puskesmas dan kader tetap memantau kesehatan warga.

“Tetap kami minta petugas turun cek kesehatan pengungsi,” kata Usman.

Ia membenarkan ada penyakit ISPA, batuk, dan pilek masih mendominasi. Tidak hanya karena lingkungan dan sanitasi yang tidak sehat. Tetapi juga karena ada penularan penyakit yang sulit dihindari.

“Tapi penyakit menular yang berat-berat sejauh ini belum ada laporan,” ujarnya.

Tenda pengungsi yang tidak mampu menahan, panas, dingin, hingga rimbesan hujan secara tidak langsung berdampak pada daya tahan dan kesehatan tubuh pengungsi. Ia mengakui batuk dan flu termasuk penyakit menular yang mudah muncul menjalar.

Maka cara penanganan terbaik yakni dengan mengerahkan tenaga medis untuk menangani kesehatan pengungsi. “Jangan adalah penyakit yang lebih (parah) dari itu,” harapnya.

Diakuinya, memang ada beberapa warga yang sedang sakit berat di pengungsian. Seperti kasus yang menimpa pengungsi Pengempel Indah yakni Yulianti yang menderita stroke.

“Kami juga berupaya memberkan pelayanan kesehatan yang terbaik,” tutupnya. (zad/r5)

Berita Lainnya

Korban Gempa Dikadali, BPBD Terima Laporan Bahan Rumah Korban Gempa Tak Sesuai Spek

Kedubes Prancis Kunjungi Poltekpar Lombok

Dapil Satu-Dua Milik Kepala Garuda

320 Jamaah Belum Lunasi BPIH

Korban Gempa Tarawih di Masjid Darurat

Caleg Gagal Malas Hadiri Rapat Paripurna

Pansus DPRD Terima LKPJ Wali Kota Tahun Anggaran 2018

Perjuangan Para Pahlawan Demokrasi Mewujudkan Pemilu Jujur dan Adil

Restoran Siap Saji Dapat Toleransi