Lombok Post
NTB

Sanitasi dan Kebersihan Lingkungan Sangat Penting

TINJAU: Wagub NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah meninjau kloset buatan penyandang disabilitas di Hotel Santika, kemarin (15/11).

MATARAM-Masalah kebersihan lingkungan tidak bisa dianggap sepele. Hal itu terungkap dalam peluncuran program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) oleh Yayasan Plan International Indonesia (YPII) bersama Pemprov NTB di Hotel Santika, kemarin (15/11).

Dua proyek STBM itu adalah Women and Disability Inclusive Wash and Nutrition Project (Winner) dan Water for Women Project (WfW). Di NTB proyek Winner dilaksanakan di dua wilayah, yakni di Kota Mataram dan Lombok Tengah. Sedangkan untuk proyek WfW akan dilaksanakan di Kabupaten Sumbawa.

Kedua proyek ini telah dijalankan mulai tahun 2018 di Provinsi NTT dan NTB. Program ini didanai The Australian Department of Foreign Affair and Trade (DFAT) Jakarta dan Kedutaan Besar Kerajaan Belanda untuk Republik Indonesia.

Direktur Eksekutif YPPI Dini Widiastuti mengatakan, peluncuran proyek WfW dan Winner ini merupakan awal untuk memperkenalkan kedua proyek sebelum dilakukan di kabupaten. Harapannya semua pihak yang terlibat memiliki pemahaman yang sama terkait tujuan program.  Peserta mendapatkan informasi terkait target, strategi pelaksanaan proyek serta mendapatkan dukungan dari pemangku kepentingan terkait pembangunan sanitasi di NTB.

Melalui kegiatan itu, Dini juga berharap Pemprov NTB memberikan dukungan penuh kepada pelaku pembangunan sanitasi. Sehingga NTB mampu mencapai target menuju akses universal tahun 2019. Semua itu dilakukan melalui kegiatan STBM berkesetaraan gender dan inklusif, serta mengurangi masalah stunting atau gagal tumbuh pada anak.

Sementara itu, Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah mengatakan, program yang membutuhkan kesadaran masyarakat selalu tidak mudah. Apalagi  program itu ingin mengubah pola pikir dan hidup masyarakat.

Program seperti sanitasi dan keberhasilan lingkungan sangat penting. Bila persoalan tersebut tidak diperhatikan akan menjadi sumber permasalahan yang lebih besar. Seperti menurunnya tingkat kesehatan masyarakat, menurunnya kualitas lingkungan yang membawa bencana lebih besar, dan dampak kerugian bencana sangat besar.

Program seperti itu bukan program baru, sudah dilakukan berulang kali setiap tahun. Tapi memang masih harus terus digelorakan. Sebab tantangan ke depan semakin kompleks. Terutama pascagempa, pembangunan sanitasi harus dimulai dari awal karena permukiman warga rusak.

“Dengan adanya komitmen bupati, wali kota dan gubernur maka program ini bisa terealisasi di lapangan,” harapnya.

Rohmi mengaku miris mendengar di Mataram penyedotan tinja dari rumah warga malah dibuang ke sungai. Perilaku itu sangat merugikan, dan membuat kampanye sungai bersih menjadi sia-sia. “Kita mulai dari awal lagi, percuma,” katanya.

Ia meminta Kota Mataram betul-betul fokus, merencanakan dari hulu sampai hilir masalah sanitasi dan kebersihan lingkungan. Bila benar-benar serius dan fokus maka dukungan akan datang dari berbagai pihak. Meski hasilnya tidak bisa  dilihat langsung, namun dua tiga tahun kemudian baru akan terasa.

Ia sangat mengapresiasi program NGO, meski program tersebut dianggap “ecrek-ecrek” tapi sangat penting. Memperbaiki sanitasi, menjaga kebersihan, pola hidup, pola pikir masyarakat yang mencintai lingkungan tidak gampang.

“Program ini memang kecil, tidak seperti membangun gedung tinggi, tapi kalau tidak diperhatikan akan menjadi bom waktu,” ujarnya. (ili/r7)

Berita Lainnya

Bupati Loteng Tunggu Petunjuk Pusat

Redaksi LombokPost

BPJSTK Lindungi 3.606 Peserta Porprov

Redaksi LombokPost

Pengguna Narkoba Rentan Terkena HIV/AIDS

Redaksi LombokPost

Kades Jangan Alergi Diperiksa!

Redaksi LombokPost

Rp 1,3 Miliar Harus Kembali Dalam 60 Hari

Redaksi LombokPost

Sejumlah Puskesmas Sementara Mulai Beroperasi

Redaksi LombokPost

NTB Masih Zona Hijau HIV/AIDS

Redaksi LombokPost

Gempa Lagi, Stok Logistik BPBD NTB Kosong!

Redaksi LombokPost

2.046 Paket Sembako Langsung Ludes

Redaksi LombokPost