Lombok Post
Headline Selong

Kematian Bayi Lotim Menurun

ILUSTRASI: Seorang ibu sedang menunggu bayinya di ruang perawatan NICU RSUD dr Soedjono Selong belum lama ini.

Selong – Angka kematian bayi Lotim terus menurun dalam tiga tahun terakhir. Per September lalu, Dinas Kesehatan Lotim mencatat 195 kematian bayi (0-12 bulan). Angka tersebut menurun dari 277 di tahun 2017, dan 336 pada 2016.

“Sebelumnya sampai lima ratusan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Lotim drg Asrul Sani.

Sayangnya, prestasi tersebut berbanding terbalik dengan kematian ibu melahirkan. Dalam tabel yang sama, Dikes Lotim mencatat adanya peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Tahun ini tercatat sebanyak 30 ibu melahirkan yang meninggal. Angka tersebut melonjak dari 20 ibu tahun 2017, dan 15 pada 2016.

“Kebanyakan meninggal saat di operasi di rumah sakit,” terang drg Asrul.

Ia menjelaskan ada beberapa faktor penyebab kematian ibu melahirkan. Asrul sendiri menyangkal pernikahan usia dini menjadi penyebab terbesarnya. Sebab ia belum meneliti angka berdasarkan penyebab tersebut.

Asrul menjelaskan tidak semua ibu yang meninggal melahirkan anak pertama. “Kita tidak sampai meneliti apakah dia kawin muda atau tidak,” jelasnya.

Penelitian mengenai pernikahan usia dini dianggap jadi kajian yang menarik. Sebab sampai saat ini, tingginya angka pernikah dini di Lotim juga masih menjadi tanda tanya besar. Kata Asrul, kita mesti mengetahui sumber tersebut. Dari mana sesungguhnya ia mendapatkan data.

“Kalau kita berbicara ilmiah kita harus berbicara data,” tegasnya.

Mengomentari hal tersebut, Kepala Dinas P3AKB H Suroto menjelaskan ada penyebab langsung dan tidak langsung. Penyebab langsung akan dengan mudah ditemukan. “Misalnya pendarahan. Karena itu penyebab yang pertama kali harus dicari adalah penyebab langsungnya dulu,” jelas Suroto.

Menurut Suroto, pernikahan dini merupakan penyebab tidak langsung kematian ibu melahirkan. Ada banyak penyebab tidak langsung yang menyebabkan kematian ibu melahirkan. Menurutnya, selalu ada kemungkinan dalam hal tersebut.

“Saya rasa penting ada perguruan tinggi atau lembaga penelitian yang mengkaji hal tersebut. Karena kalau dari kita sendiri kan tidak dipercaya,” kata Suroto.

Ia pun berharap semua pihak bisa melakukan kajian tersebut. “Karena kalau data dari saya kan dikira nanti mempunyai kepentingan,” tambahnya.  (tih/r2)

Berita Lainnya

Dua Kafe Siapkan Wanita Penghibur

Redaksi Lombok Post

Suka Duka Mahasiswa NTB Menuntut Ilmu di Eropa (1)

Redaksi Lombok Post

Efek Pemberlakuan Sistem Zonasi, Siswa Tak Perlu Daftar Sekolah Lagi

Redaksi Lombok Post

Didukung Warga, Ustad Budi Tak Gentar Dikepung Calon Petahana

Redaksi Lombok Post

Bangun Mandalika, ITDC Pinjam Rp 3,6 Triliun ke AIIB

Redaksi LombokPost

Mohan Bikin Kejutan di Mataram Jazz & World Music Festival 2018

Redaksi LombokPost

Setengah Hati Urusi Bisnis “Nakal”

Redaksi LombokPost

Jalan Terjal Memburu Para Bandar

Redaksi LombokPost

Gempa Lagi, Panik Lagi

Redaksi Lombok Post