Lombok Post
Headline Lapsus Metropolis

Bikin Geli, tapi Tetap Dicari

MAU TAPI MALU: Salah satu produk minyak urut untuk memperbesar alat vital ini beredar di Kota Mataram.

Banyak pria terobsesi punya alat vital yang perkasa, jantan, dan ‘atletis’. Ramuannya pun konon laris manis bak kacang goreng. Bagi yang malu, mereka memesan secara online. Tapi ada pula yang diam-diam menyelinap masuk ke ahli urut spesialis.

——————————–

PERTENGAHAN tahun 2017 lalu, Lombok Post menyambangi sebuah tempat praktik memperbesar alat vital. Lokasinya di Gontoran, Selagalas, Kota Mataram. Nama tempat praktiknya Mak Erat. Bukan Mak Erot. Mirip sih. Sama-sama ahli di bidang memperbesar alat vital.

Tapi ownernya beda. Muhammad Abdullah pemilik tempat urut itu adalah cucu dari pemilik ramuan ajaib. Pria yang pernah mondok di Citepus, Jawa Barat itu memilih meneruskan ramuan leluhurnya.

“Sama (dengan Mak Erot) memperbesar alat vital juga,” kata pria yang karib di sapa Abdul itu.

Sekitar delapan tahun silam atau tepatnya 2010 ia ikut dengan pamannya merantau ke Lombok. Dari rumah ia sudah bertekad untuk meneruskan ramuan leluhurnya. Kemampuan memijat dan membuat ramuan ia peroleh dari sang nenek. “Sering lihat cara nenek bekerja,” bebernya.

Neneknya yang bernama Mbah Mun bukanlah pembuat ramuan. Tapi uyutnya. Nah neneknya nenek dia itulah yang bernama Erat. “Makanya namanya Mak Erat,” kisahnya.

Selain menggunakan ramuan khusus dan teknik pijatan, Abdul percaya sebuah amalan dapat menstimulan ukuran alat vital. Uniknya sekalipun buka di kawasan Mataram, ternyata ‘pasien’ Abdul lebih banyak dari Lombok Timur.

Teknik memijat dengan ramuan khusus itu dengan langsung memegang alat vital. Apalagi yang ingin alat kelaminnya lebih besar atau ‘atletis’, jantan dan tahan lama. “Diurut,” terangnya.

Rata-rata pasiennya awal-awalnya geli dan kikuk. Tapi jika sudah terbiasa mereka akan memahami ini bagian dari proses pengobatan. Ini memang harus dilakukan. Tidak ada pilihan lain. Selain itu ada sedikit trik agar pasien tidak kagetan.

“Pertama dari sekitar alat vital, semakin ke sini semakin ke alat kelaminnya,” bebernya.

Abdul mengatakan ada urat-urat dari alat vital yang harus diurut dengan teknik tertentu. Sehingga dapat membuat ukurannya nanti lebih maksimal. Juga membantu memperlancar peredaran darah. Sehingga ramuan khususnya bisa bekerja baik.

“Panjang dan lebarnya bisa bertambah 1 sentimeter,” terangnya.

Abdul termasuk yang berpengalaman. Ia mengatakan ribuan pasien telah ia bantu memperbesar alat vital. Tapi tidak semua berhasil. Ada sekitar 20 persen yang gagal karena terlanjur menggunakan obat kimia.

“Saran saya gunakan saja yang alami-alami,” ujarnya.

Tidak hanya Abdul. Praktik memperbesar alat vital di tempat lain juga ada. Seperti di Jalan Jenderal Sudirman, Rembiga. Yang ini Mak Erot yang legendaris yang buka cabang.

Bahkan seseorang yang enggan disebut namanya, memperlihatkan pada Lombok Post sebuah produk. Ia menggunakan produk itu untuk memperbesar alat vitalnya. Nama produknya Mak Urut. Fungsinya sama seperti ramuan milik Mak Erot dan Mak Erat. “Sama,” ungkapnya malu-malu.

Produk ini dibuat dalam bungkus yang rapi. Bahkan sudah melabeli diri dengan izin BPOM. Lengkap dengan secarik kertas tentang tata cara penggunaan dan pengurutan. Produk ini dibuat oleh sebuah perusahaan asal Jogjakarta. Yang produk-produknya banyak dijual melalui skema agen skema multi marketing.

Lalu secara medis sebenarnya seperti apa obat seperti ini?

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi mengatakan, boleh tidaknya sebuah obat digunakan sebenarnya mudah diidentifikasi. Dengan melihat izin edarnya dari BPOM.

“Merekalah yang mengawasi kualitas obat, berbahaya atau tidak,” kata Usman.

Jika ada izin edarnya tentu tidak masalah. Tapi kadang kala, ada produk yang dijual secara berantai dengan sistem multi marketing mencantumkan BPOM.

“Padahal tidak ada izinnya, cuma nyantumin aja biar kelihatan legal,” terangnya.

Karenannya ada baiknya masyarakat sebelum membeli obat apapun mengecek nomer registrasi BPOM obat tersebut. Bisa saja itu nomor abal-abal. Jika memang benar telah lulus pengawasan dari balai obat dan makanan, tentu nomor registrasinya akan sama dengan yang tercatat secara online melalui BPOM.

“Namun secara medis yang menggunakan ramuan farmasi, kebanyakan bentuk obat kuat atau persangsang itu kapsul, tablet, atau minuman,” terangnya.

Sementara, praktik pengurutan harus lulus pengawasan pengobatan tradisional. Dinas kesehatan sendiri yang turun memantau langsung. Apakah praktik pengurutan itu terjamin atau berbahaya.

“Kita ada pendampingan dan pelatihan juga,” jelasnya.

Karena itu, praktik yang tidak di bawah pengawasan dikhawatirkan akan mencelakai masyarakat. Usman pun tidak menjamin semua praktik memperbesar alat vital di Kota Mataram memegang izin praktik.

“Perlu lihat dulu apa sudah ada izin atau tidak, seperti bekam misalnya kita keluarkan kok izin pengobatan tradisionalnya,” terangnya.

Sebenarnya kalau mau aman, masyarakat bisa memanfaatkan obat-obat kuat yang dijual dan telah terbukti kandungannya aman. Sementara bagi yang terobsesi ukuran alat vitalnya besar, warga diminta lebih pecicilan menanyakan soal izin praktik dan pengobatanya.

“Tapi kalau saya ya lebih baik yang apa adanya saja, seperti yang telah diberikan Tuhan,” ujarnya sembari tertawa kecil.

Lombok Post coba menghubungi Kepala Bidang Penindakan, Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Mataram Hardiono, melalui nomor kontaknya. Dalam keterangannya praktik Pengobatan Tradisional atau Batra ada di bawah pengawasan Dinas Kesehatan Kota Mataram. “Itu di bawah pengawasan dinas kesehatan,” kata Dion.

Namun ia membenarkan jika produk berupa minyak oles yang diproduksi secara masal di bawah pengawasan BBPOM. Dion mengatakan jarang menemui peredaran obat oles semacam itu. Karena sepengetahuan ia ramuan oles Batra hanya diproduksi di tempat praktik.

“Bukan untuk jumlah besar,” ujarnya.

Tapi bukan berarti produk Batra ini lepas dari pengawasan pihaknya. Beberapa kali pihaknya bekerja sama dengan dinas kesehatan untuk melakukan pengawasan pada tempat-tempat praktik Batra. Untuk memastikan praktik mereka aman bagi masyarakat.

“Racikan jadi tanggung jawab tabibnya,” tegasnya.

Untuk dapat gambaran lebih utuh tentang pengawasan ramuan ini, Lombok Post kemudian menghubungi mantan Kabid Penindakan BBPOM Mataram Yosef Dwi Irwan Prakasa yang saat ini bertugas di Kota Batam, Kepulauan Riau.

Yosef pun menceritakan bagaimana sedikit pengalamannya mengawasi batra ini.

“Iya dulu kami pernah melakukan pengawasan dan penindakan, terutama yang tidak ada izin edarnya,” kata Yosef.

BBPOM memang sudah jadi konsentrasinya mengawasi obat dan makanan. Termasuk obat tradisional yang beredar di tengah masyarakat.

“Termasuk kosmetik harus ada izin edar,” terangnya.

Tapi yang mereka awasi adalah kandungan. Bukan metode seperti urut atau pengobatan tradisional. Sebab itu menjadi domain dinas kesehatan di daerah tersebut. Apakah terdaftar atau tidak. Serta apa saja komposisi pembutannya.

“Sepanjang yang saya tahu kalau minyak urut itu kan menggunakan bahan alam ya,” ujarnya.

Menurutnya itu sah-sah saja. Sepanjang tidak untuk dijadikan untuk dikonsumsi. Tapi acap kali pula BBPOM juga mengawasi kandungan obat urut. Sehingga tidak membahayakan tubuh penggunanya.

“Sejauh tidak menggunakan bahan berbahaya tentu tidak masalah,” jelasnya.

Ia juga melihat minyak urut tradisional belum diatur dalam Undang-Undang Kesehatan. Yang hanya ditekankan terhadap semua jenis obat-obatan adalah klaim yang menyesatkan. Memberikan gambaran berelebihan padahal tidak sesuai dengan hasil.

“Bilangnya obatnya super lah, pokoknya berlebih-leibihan itu yang tidak boleh, kalau wajar-wajar saja (promosinya) ya tidak masalah,” jelasnya.

Namun ia perlu menekankan pada obat kuat tradisional yang diminum. Maka harus ada izin BBPOM-nya.  Saat ia masih jadi Kabid Penindakan di BBPOM Mataram dulu, ia juga pernah beberapa kali mengamankan obat kuat tradisional untuk diminum.

“Ada viagra abal-abal, lalu obat China yang tidak ada BBPOM, itu pernah kami amankan,” tandansya.

Untuk mengetahui kandungan obat kuat tradisional yang berbahaya Yosef menyarankan pada Lombok Post mendatangi langsung BBPOM Mataram.

“Di sana informasinya akan jauh lebih lengkap,” tutupnya. (zad/r7)

Berita Lainnya

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Masih Banyak Warga Loteng Buang Air Besar Sembarangan

Redaksi LombokPost

Pemkab dan ITDC Raih Penghargaan ISTA

Redaksi LombokPost

Ahli: Penangkapan Muhir Bukan OTT

Redaksi LombokPost

Pola Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf Serupa

Redaksi LombokPost