Lombok Post
Headline Lapsus Metropolis

CALEG-CALEG PEMULA

Masih jadi anak bawang bukan perkara. Yang penting turun dulu ke arena. Menang atau kalah urusan belakang. Bila menang, bisa duduk di kursi legislatif yang panas. Sekiranya kalah, juga tak harus memelas. Inilah hikayat para caleg-caleg muda di Bumi Gora. Bahkan, ada yang sudah bahagia, meski hanya mampu meraih 200 suara saja. Alamaaaakkk!

————————————————–

SENYUM Mahsan mengembang. Lebar sekali. Langkah kakinya mantap menyusuri lorong kantor Wali Kota Mataram. Tak ada satupun wajah yang luput ia senyumi. Asal ia papasi, pasti disapa. Sehari-hari ia memang seperti itu. Tidak ada yang berubah. Kecuali statusnya yang sudah menyandang calon legislatif (Caleg).

Sebelum nyaleg Mahsan dikenal aktif di Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram. Menjabat sebagai sekretaris LPA,  membuat Mahsan dekat dengan beberapa politisi. Salah satunya politsi PDI Perjuangan, Nyayu Ernawati yang menduduki posisi Ketua Dewan Pembina LPA Kota Mataram.

“Saya kampanye di media sosial. Dengan hastag Anjal Menuju Kursi Legislatif,” kata Mahsan dengan rona penuh percaya diri.

Ia mengulurkan tangan. Mengajak berjabatan. Digoda tangannya sudah selembut para wakil rakyat yang terhormat, Mahsan malah tertawa terbahak-bahak.

Mahsan masih belia di panggung politik. Ini adalah pertarungannya yang pertama di pemilihan legislatif. Dia kelahiran tahun 1990. Ditanya mengapa akhirnya nyaleg. Mahsan menjawab ini ada kaitannya dengan peristiwa 10 tahun silam. Saat itu ia termasuk anak jalanan. Suatu ketika, seorang politisi Lingkar Selatan, sebutan untuk anggota DPRD Kota Mataram, mengajaknya dan beberapa anak jalanan lain masuk ke gedung dewan.

“Saat itu kami dinasehati jangan lagi jadi anjal, Bunda (Nyayu Ernawati, Red) selain anggota DPRD juga aktivis perlindungan anak,” kisahnya.

Larangan jangan keluyuran itu membuat Mahsan langsung patuh. Mereka justru heran apa urusan para politisi melarang mereka mencari nafkah ke jalan? Sedangkan di sana periuk nasi mereka terbentang luas. Apa para pejabat itu mau menanggung kebutuhan hidup ia dan keluarganya?

“Saya dulu kerja jadi kusir cidomo, tukang sapu, hingga tukang parkir,” kisahnya.

Meninggalnya sang ayah, membuat Mahsan sempat putus sekolah. Ia lalu ditunjuk jadi tulang punggung keluarga. Karena itu ajakan orang itu bagi Mahsan seperti omong kosong saja. Setengah berceloteh ia bertanya pada wanita di depannya.

“Bu. Saya tanya. Apa saya bisa jadi anggota dewan, lalu duduk di kursi tempat anda duduk itu?” ujarnya.

Tapi jawaban wanita itu membuat Mahsan akhirnya mulai memendam keinginan jadi politisi. Ia ingat betul Nyayu mengatakan ia bisa sepertinya. Dengan catatan harus rajin belajar dan tulus mengabdi pada masyarakat.

Sejak itu diam-diam ia memendam cita-cita jadi politisi. Mahsan pun mulai meninggalkan dunia jalanan. Lalu aktif bergabung dalam berbagai kegiatan organisasi masyarakat. Dari remaja masjid, karang taruna, dan lain sebagainya. Sampai bergabung di LPA.

Sementara di pendidikan Mahsan punya kesempatan untuk melanjutkan lagi sekolah. Bahkan ia termasuk mantan anjal yang beruntung mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Mataram.

Celetukannya 10 tahun silam itu coba ia wujudkan. Pria asal Tohpati ini yakin. Dengan pengalaman di banyak organisasi kepemudaan bisa jadi modal cukup. Bertarung dan menantang incumbent di Dapil IV Selaparang.

“Yang penting ikhtiar dulu. Soal hasil itu takdir Tuhan,” ujarnya. Dia sudah punya segudang resep untuk meretas jalannya melenggang ke kursi panas legisltif. Partainya PDI Perjuangan.

“Saya termasuk mewakili kaum millenial-lah,” celetuknya, sembari terkekeh.

Ditanya apakah dia nyaleg untuk mencari pekerjaan, dengan tangkas dia menampik. Kata dia, dirinya bukan sedang mencari pekerjaan. Melainkan hendak mengabdi agar hidup bisa lebih bermanfaat bagi banyak orang.

Selain Mahsan ada juga Diella Angela Dwi Handayani. Wanita ini mengikuti jejak kakaknya Rangga Danu Meinaga anggota legislatif Kota Mataram dari PKPI. Diella sendiri memilih kendaraan berbeda dengan sang kakak. Ia memilih lewat partai Gerindra.

“Sebelum nyaleg saya honorer,” kata Diella.

Sembari honor, saat ini Diella pun tengah menyelesaikan studi S2 di Fakultas Hukum. Diella mengaku sisi sosialnya tersentuh melihat keadaan banyak nelayan. Mereka berada paling dekat dengan Sumber Daya Alam (SDA) laut. Tapi dari segi kesejahteraan keadaan mereka tidak lebih baik dan masih jadi penyumbang warga miskin terbesar saat ini.

“Saya ingin menjadi penyambung aspirasi mereka,” kata Diella.

Ia melihat ada persoalan serius. Terutama bagaimana aspirasi masyarakat di pesisir pantai tidak terakomodir dengan baik. banyak nelayan yang akhirnya gigit jari, karena hanya beberapa saja yang menerima bantuan. Sedangkan sebagian besar lainnya hanya jadi penonton.

“Kenapa mereka tidak dapat bantuan yang sama seperti yang lain?” resah wanita asal Kekalik Jaya, Dapil Sekarbela ini.

Tetapi ruang aspirasi itu seperti terputus. Birokrasi yang masih rumit dan mekanisme penyaluran aspirasi yang kerap terputus membuat kondisi nelayan tak kunjung membaik.

“Mereka butuh anggota legislatif yang bisa mengakomodir harapan mereka dengan baik,” ujarnya.

Belum lagi pedagang-pedagang kecil yang belum berdaya secara ekonomi. Ia yakin dengan majunya ia nanti bisa jadi corong yang baik bagi masyarakat kecil untuk menata hidup mereka jadi lebih baik.

Ia mengakui jabatan anggota dewan itu menggiurkan. Dari segi pendapatan saja, Diella mendengar anggota dewan dapat penerimaan yang besar dari negara.

“Tapi, saya maju bukan karena itu. Bukan mengejar seberapa besar pendapatan. Tapi seberapa manfaat pekerjaan saya bagi banyak orang,” dalihnya.

Omong-omong soal terjun ke dunia politik, lumayan lama juga dirinya meimbang. Terutama lantaran stigma yang berkembang tentang anggota legislatif di tengah masyarakat. Diella mengakui ia memang dapat sokongan penuh dari orang tua buat nyaleg. Mengkuti jejak sang kakak yang saat ini bertarung di DPRD Provinsi.

Meski belia, jangan bilang Diella tak punya visi. Sebagai bagaian dari generasi milenial, dia merasa perlu berkontribusi membangun perdaban politik yang baru. Tidak hanya berorientas pada kepentingan diri sendiri dan golongan. Tetapi orientasinya pada kebangsaan dan membangun peradaban maju di negeri tercinta.

            Tentu saja, tak cuma Mahsan dan Diella, anak-anak muda yang maju bertarung di Pileg 2019. Nyaris di setiap partai, para politisi-politisi mula ini ada. Tentu terselip di antara mereka yang sekadar meramaikan gelanggang. Ada pula yang memang berniat berjuang dan serius membangun karir politik.

Hanya Target 200 Suara

Di Lombok Timur, Zinnuroini, tak membutuhkan waktu lama menyatakan kesanggupannya maju ke arena Pileg 2019. Tawaran Partai Solidaritas Indonesia Lotim untuk mengisi kekurangan kuota caleg perempuan segera saja diiyakan.

“Saya terima. Karena saya pikir sudah saatnya pemuda memberanikan diri untuk maju,” kata Zinnuroini. Usianya kini 23 tahun.

Majunya Rini menggenapkan jumlah calon DPRD Lotim PSI di Dapil 2 mencakup wilayah Kecamatan Sakra di Lotim. Rini tinggal di Dusun Batu Bokah, Desa Suangi, Kecamatan Sakra.

Lombok Post bertandang ke rumahnya. Di dinding kamar tamu Rini, ada fotonya yang sedang mengenakan baju wisuda. Ia mengaku baru saja lulus tahun lalu sebagai sarjana ekonomi di Universitas Negeri Mataram. Di kamar itu juga, kedua orang tua Rini duduk menemani anaknya diwawancara.

“Ini kesempatan. Di desa saya ini banyak yang putus sekolah. Kesadaran melanjutkan pendidikan juga masih kurang,” terang Rini.

Sehari-hari Rini kini mengajar di RA Jabal Hikmah dusun Batu Bokah. Itu sekolah jenjang taman kanak-kanak. Soal peluangnya untuk lolos, Rini tak terlalu memusingkannya. Rini tak memikirkan kursi. Memastikan seluruh warga dusun batu bokah mencoblosnya saja, itu sudah cukup membahagiakan bagi Rini.

“Ya 200 suaralah,” katanya dibarengi senyuman. Itu targetnya.

Tawaran langsung dari Ketua DPD PSI Lotim iya sambut melihat teman kuliah dan organisasinya juga berada di sana. Selain itu, keinginan menunjukkan gelar sarjana penting juga menjadi motivasi tambahan baginya. Kata Rini, di dusunnya, anak yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi bisa dihitung dengan jari di sebelah tangan.

“Sekarang di bawah saya malah tak ada. Katanya untuk apa jadi sarjana. Toh juga jadi pengangguran,” tuturnya.

Amaq Nasrudin orang tua Rini mengatakan memberi dukungan untuk anaknya. Tapi ia tak tahu banyak tentang bagaimana berkampanye. “Mungkin orang tuanya saja yang memilihnya,” kata Nasrudin dengan nada setengah bercanda.

            Masih di Lombok Timur. Namun, jika caleg Rini sudah wisuda, Yuni Astuti bahkan belum menyelesaikan skripsinya. Perempuan kelahiran 20 Agustus 1997 itu mengiyakan tawaran teman organisasinya di Himpunan Mahasiswa Masbagik (HIMMAS) untuk terjun ke dunia politik.

“Saya ditawari menjadi caleg di dapil 4. Saya pikir kenapa tidak,” kata Yuni.

Mahasiswi semester VII di jurusan ekonomi Universitas Hamzanwadi itu mengaku mendapat dukungan dari teman-temannya. Meski menjadi penyempurna kuota perempuan dapil 4 DPD partai Nasdem Lotim, Yuni cukup percaya diri. Ia yang kini berusia 21 tahun juga menganggap tawaran Nasdem peluang yang sayang untuk dilewatkan.

Kata Yuni, teman-teman kuliahnya awalnya bertanya-tanya mengenai kebenaran pencalonan dirinya tersebut. Ia heran, bagaimana bisa teman kuliahnya tahu. Kini, keheranan itu dibalik menjadi peluang.

“Ya, teman-teman kuliah pasti memilih saya,”  ujarnya.

            Meski memiliki keyakinan akan suara dari teman, Yuni belum dapat memastikan target suara yang akan diperoleh nanti. Tak ada angka di pikirannya. Ketika koran ini mencoba menyebut angka seribu, ia menjawabnya dengan senyuman.

Diajak berandai-andai mendapatkan kursi, jika terpilih nanti, Yuni mengatakan akan memperjuangkan nasib masyarakat miskin. Ia mengatakan begitu banyak pengangguran karena masih sempitnya lapangan pekerjaan.

“Apalagi saat ini harga bahan pokok melonjak tinggi,” kata Yuni.

Pakai Duit Orang Tua

Aturan yang mengharuskan partai memberikan kuota 30 persen untuk calon anggota legislatif dari kalangan perempuan, di tengara menjadi penyebab banyak caleg muda berasal dari kaum hawa.

Di Lombok Tengah, Ika Yulia Lesatari adalah contohnya. Dia menjadi caleg termuda di Loteng. Usianya juga baru 21 tahun. Saat ini dia masih semester VIII di Universitas Islam Negeri Mataram.

            Perempuan kelahiran Montong Dau Desa Bujak, 6 Juli 1997 tersebut bergabung di Partai NasDem. Ika berada pada nomor urut 3, dapil Batukliang-Batukliang Utara. Kini, dia harus membagi waktu antara tugas kuliah dengan bertemu konstituennya.

            “Saya nyaleg bukan karena kepentingan yang lain-lain. Tapi, karena panggilan dan keinginan sendiri,” ujar Ika pada Lombok Post, Senin (26/11) lalu.

            Kalangan muda, kata Ika mendorong dan meminta agar dirinya maju sebagai calon wakil rakyat DPRD Loteng. Ika ingin menunjukkan bahwa yang muda bisa dan mampu. Khususnya lagi, kalangan perempuan. Ia tidak ingin, perempuan dipandang sebelah mata, apalagi masih berusia muda seperti dirinya. Karena ukuran kemampuan, bukan terletak pada usia. Melainkan, pendidikan dan pengalaman.

            “Kalau saya terpilih, saya ingin mengubah citra dewan. Jangan duduk, diam dan duit saja,” sindir anak dari Saprudin dan Maskanah tersebut.

            Disinggung, berpolitik itu butuh uang. Ika menegaskan, tidak selamanya uang yang mengatur politik. Tapi, jaringan keluarga, kerabat terdekat, teman, dan sahabat. Termasuk juga masyarakat pada umumnya. Kalau sekedar biaya stiker dan baliho, itu tidak seberapa.

“Kebetulan yang menyiapkan orang tua,” beber aktivis Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Mataram tersebut.

            Pertanyaannya, kalau tidak terpilih, maka dirinya memastikan tidak akan kecewa. Yang terpenting, sudah berusaha dan berdoa. Selebihnya, menjadi urusan Allah SWT. “Sebelum saya di wisuda saja, tawaran untuk menjadi guru sudah ada,” kata Ika soal langkahnya manakala tak terpilih. Karena itu dia menegaskan sekali lagi, kalau dirinya bukan sedang mencari pekerjaan. Apalagi uang.

Nama Besar Orang Tua

Di Lombok Barat juga begitu. Banyak caleg muda bertebaran. Dari data awal Komisi Pemilihan Umum KPU Lombok Barat (Lobar) ada dua orang caleg yang usianya di bawah 25 tahun. Masih sangat muda yakni 21 tahun sesuai dengan batas usia minimal.

Nama besar orang tua, tampaknya menjadi latar belakang munculnya caleg muda di Lobar ini. Mereka adalah Lalu Ivan Indaryadi dari Partai Golkar dan Gita Nisa Aulia dari Partai Berkarya. Keduanya diketahui menjadi Caleg termuda di Pemilu 2019 mendatang.

Lalu Ivan Indaryadi diketahui caleg asal Sekotong yang akan bertarung di Dapil Sekotong-Lembar. Ivan, sapaannya sudah tidak asing di wilayah Sekotong-Lembar. Maklum, mahasiswa Universitas Mataram yang ini merupakan putra ketiga dari Wakil Bupati terpilih Lobar Hj Sumiatun. Sebelum terpilih sebagai wakil bupati, Sumiatun adalah Ketua DPRD Lombok Barat.

“Sekarang saya sedang cuti kuliah karena maju jadi caleg ini,” kata Ivan ketika diwawancara Lombok Post di rumahnya di Desa Sekotong Tengah kemarin (27/11).

Potongan rambutnya pendek. Tubuhnya kekar sekilas seperti prajurit TNI. Maklum, Ivan mengaku hobi olahraga sepakbola. Bahkan ia masuk dalam tim sepak bola di Sekotong.

Di tanya apakah peran orang tuanya ada di balik dirinya yang memilih terjun ke politik, Ivan tak ingin dikaitkan dengan hal tersebut. Dia mengaku, keinginannya untuk maju di dunia politik tidak lantas memanfaatkan posisi orang tuanya yang merupakan Ketua DPD I Partai Golkar. Ia mengaku keinginannya maju murni karena kemauan sendiri.

“Karena banyak teman dan masyarakat yang menginginkan saya maju, makanya saya tertarik,” aku pria kelahiran 1997 tersebut.

Ivan mengaku ia sudah terbayang untuk maju sebagai anggota dewan sejak duduk di bangku SMA. Alumni SMAN 1 Sekotong tersebut masih ingat jelas ucapan salah seorang gurunya yang mengatakan dirinya kelak akan menjadi anggota dewan.

“Ada guru saya yang bilang kalau dilihat dari wajah saya, saya cocok jadi anggota dewan untuk memperjuangkan masyarakat,” kenangnya.

Dari sana mulai terbersit dalam pikirannya untuk terjun ke dunia politik. Ditambah, latar belakang orang tuanya yang merupakan politisi menjadi bonus tersendiri bagi Ivan untuk bergelut di dunia politik.

“Kalau untuk mencari pekerjaan tidak semata-mata utuk itu,” ungkapnya.

Niatnya terjun ke dunia politik ini pun tak lantas menggangu aktivitasnya sebagai remaja pada umumnya. Ivan tetap aktif berolahraga sepak bola bersama dengan timnya. Bahkan kata dia akan menjadi nilai lebih karena bisa menjadi lumbung suara baginya.

“Tapi sejak dulu sebelum ada niat jadi caleg memang saya senang dengan kegiatan sosial. Makanya ketika diundang masyarakat di manapun saya senang tidak merasa terpaksa,” bebernya.

Keinginan Ivan untuk terjun ke dunia politik bahkan diceritakannya mendapat dukungan dari pacarnya. “Alhamdulillah didukung,” ujar Mahasiswa Fakultas Hukum tersebut sambil malu-malu.

Seperti Ivan, darah politik juga menjadi pendorong utama sejumlah caleg lainnya. Orang tua mereka adalah petinggi partai politik tingkat provinsi.

Salah satunya Wahyu Gribaldi. Putra dari Ketua DPD Gerindra NTB Ridwan Hidayat ini maju sebagai caleg Gerindra di DPRD Kota Mataram untuk Dapil Selaparang dengan nomor urut satu.

            Namun begitu, meskipun berasal dari keluarga birokrat dan politisi, bukan dorongan keluarga yang mendorongnya maju menjadi caleg. Wahyu mengaku dirinya maju sebagai caleg karena sudah dicita-citakan sejak lama.

            ”Sejak sekolah saya sudah tertarik dengan dunia birokrasi dan politik,” ujarnya.

            Sebelum memutuskan menjadi caleg, Wahyu pernah berkerja sebagai tenaga kontrak di RSUD Mataram. Namun, ketertarikannya kepada dunia politik mendorongnya untuk mundur dari pekerjaannya itu.

            Pria lulusan Universitas Pasundan ini menambahkan, orang tua sangat mendukung keputusannya untuk terjun di dunia politik. Selain dukungan orang tua dan sahabat, dia mengaku mendapat dukungan dari masyarakat.

Lajang 28 tahun ini juga mengakui jika ayahnya yang sudah memiliki banyak pengalaman di birokrasi dan politik memberinya saran-saran untuk bisa bertarung. Juga bertahan di dunia yang dikenal tak ada kawan abadi, namun yang ada hanya lawan abadi tersebut.

            Menurut Wahyu, keterlibatan kaum muda di dunia politik dan birokrasi saat ini sangat dibutuhkan. Karena kemajuan suatu daerah tidak hanya pekerjaan pimpinan daerah, tetapi peran serta anak muda juga harus ada.

”Anak-anak muda sekarang harus bisa lebih aware lagi. Sudah waktunya ada regenerasi,” tandasnya.

Pada pemilu 2019 mendatang, Wahyu maju sebagai caleg bersamaan dengan ayahnya Ridwan Hidayat yang juga maju sebagai caleg DPRD NTB. Meskipun keduanya bersama-sama memburu kursi legislatif, namun pendekatan yang digunakan Wahyu berbeda dari orang tuanya.

”Mamiq sudah punya pengalaman dan cukup dikenal, berbeda dengan saya. Kalau saya harus bekerja keras dulu untuk dikenal masyarakat,” katanya. Ridwan, tadinya adalah mantan pejabat eselon II di NTB. Dia juga pernah memangku jabatan sebagai Penjabat Bupati Lombok Utara selama setahun.

            Meskipun menjadi putra petinggi partai dan mantan pejabat, Wahyu tidak malu jika dikatakan aji mumpung. Penafsiran aji mumpung yang terkesan negatif di masyarakat ini harus dihapus.

”Kadang orang itu terlalu memikirkan perkataan orang. Aji mumpung itu persepsi orang. Jika kita bisa menggunakan peluang dengan lebih baik apa salahnya,” tandasnya.

            Pria yang akan mengakhiri masa lajangnya Desember mendatang ini juga merasa bersyukur jika ada yang mengenalinya sebagai putra petinggi partai politik di NTB. Tetapi dirinya tetap akan berjuang dan bergerak dengan cara berbeda dari orang tuanya. Saat ini bahkan orang tuanya memberikan keleluasaan baginya untuk bergerak secara mandiri.

            Menatap pemilu 2019 mendatang, Wahyu pun sudah mempersiapkan langkah-langkah politik. Yang paling utama adalah turun ke masyarakat dan menyerap apa yang menjadi aspirasinya.

            Ada pula caleg dari Partai Golkar Holis Fanani Rahman. Lajang berusia 24 tahun ini maju sebagai caleg di Dapil Mataram nomor urut dua.

            Pria yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di UIN Mataram ini mantap melangkah ke pertarungan pemilihan legislatif dengan dorongan keluarga, sahabat dan masyarakat.

            Sebelum maju sebagai caleg Golkar, Fani merupakan tenaga kontrak di RSUD Mataram. Sulung dari tujuh bersaudara ini kemudian mengundurkan diri dari pekerjaannya dan mendaftar sebagai caleg.

”Kalau berniat apalagi ambisi mungkin bukan itu. Motivasi saya maju karena dorongan orang tua dan tokoh di kampung,” ujarnya pada Lombok Post.

            Fani menegaskan dirinya siap mengabdi untuk masyarakat melalui legislatif. Memang mengabdi pada masyarakat tidak hanya bisa dilakukan dengan menjadi anggota dewan. Namun amanah masyarakat yang mendorongnya untuk berani bertarung dengan calon-calon lain memperebutkan kursi legislatif Mataram.

”Saya ingin menyuarakan aspirasi masyarakat semua kalangan. Tapi saya tidak mengumbar janji. Jika sudah terpilih, Insya Allah saya akan berusaha tidak membuat masyarakat kecewa,” tandasnya.

Sementara di Lombok Utara, ada nama Lalu Marzoan. Dia kelahiran tahun 1989. Dia maju di Pileg untuk memperjuangkan dunia pendidikan. Marzoan ingin melihat pendidikan di KLU benar-benar maju. Berangkat dari pengalamannya sebagai guru, ia menginginkan adanya kesejahteraan para guru.  Bukan hanya menunggu gaji selama tiga bulan sekali.

“Kesejahteraan itu sangat penting bagi guru,” ujarnya pada Lombok Post. Ditegaskannya, dirinya terjun ke politik adalah keinginan pribadi lantaran didorongan untuk memperbaiki Lombok Utara.

Salah Satu Jurus Partai

 Menampilkan muka-muka baru sebagai calon anggota legislatif, adalah juga bagian dari jurus partai politik. Ketua Harian DPD Golkar Lobar Lalu Hermayadi mengaku hal itu. Kata dia, sebuah kebanggaan bagi partai beringin mencalonkan anak-anak muda tersebut.

“Karena ini menjadi bukti Golkar dilirik generasi milenial,” katanya.

Dia menyebutkan, banyak yang menganggap sebagian besar pemuda selama ini lebih senang hura-hura atau senang-senang. Sehingga politik lebih banyak diabaikan. Tapi ternyata sekarang itu dilirik. Sehingga ini menjadi bukti keberhasilan pendidikan politik.

Ditanya apakah kehadiran anak-anak muda yang punya pengalaman minim mampu meraup simpati masyarakat. Miq Ema, sapaan akrabnya, buru-buru membantah. Ia menilai caleg milenial lebih proaktif. Ini menjadi potensi yang selama ini tidak terlihat.

“Ketika dia masuk politik, potensi itu semakin terlihat. Ini sangat menguntungkan bagi partai,” ungkapnya.

Apalagi ada anggapan selama ini Golkar diisi politisi tua. Dengan adanya caleg muda, Golkar kini punya wajah baru. “Satu Caleg kami lagi merupakan pengusaha muda yang sukses di Dapil Narmada-Lingsar. Masih muda,” tuturnya. Dengan begitu, citra partai akan berubah.

Suara anak-anak milenial yang disebut-sebut sangat besar, memang membuat sulit bagi partai untuk tak berhitung.

Itu mengapa partai baru seperti Partai Solidaritas Indonesia memberikan porsi lebih bagi caleg muda. Ketua DPW PSI NTB Putrawan Tasal kepada Lombok Post mengungkapkan, dari 150 lebih caleg PSI yang dipasang di seluruh wilayah NTB, 70 persen di antaranya merupakan caleg muda. Usia meraka dibawah 25 tahun.

“Kita memang lebih memprioritaskan anak-anak muda. Tujuannya adalah agar mereka mendapatkan pengalaman lebih dalam dunia politik,” kata dia.

Sehingga ke depannya bisa bersaing dengan caleg dari parpol lain. Selain itu, sebagai partai yang kental dengan gerakan perubahan dan bersemangat muda ini, perekrutan anak muda tentu menjadi keharusan. Apalagi dalam pemilu 2019 mendatang banyak pemilih pemula.

“Pemilih pemula ini akrab dengan medsos. Jadi untuk meraih suara mereka kita melakukan pendekatan dengan caleg yang muda yang berpikiran modern,” katanya.

Partai mapan seperti Partai Keadilan Sejahtera juga tak ketinggalan. Dari ratusan caleg yang akan turun dalam pemilihan legislatif 2019 di seluruh NTB, caleg muda juga menjadi amunisi partai.

Ketua DPW PKS NTB Abdul Hadi mengatakan, keterwakilan caleg muda dan caleg perempuan sudah terpenuhi serta siap bertarung dalam pileg mendatang.

“Sebagai parpol modern, PKS memberikan kesempatan kepada kader mudanya sebagai bagian regenerasi politik,” ujarnya.

Menurut Hadi, peran caleg muda sangat penting karena pada pemilu 2019 mendatang. Pemilih pemula yang masuk dalam kategori milenial cukup banyak. Sehingga dengan keberadaan caleg muda diharapkan bisa menarik suara generasi milenial untuk memilih PKS dengan pendekatan-pendekatan modern.

Langkah PKS ini kata dia sebagai upaya untuk mengubah stigma atau image buruk parpol di mata kaum muda. Sehingga generasi milenial tidak hanya protes terhadap kondisi yang ada. Tapi memahami realitas adanya proses, aturan perundang-undangan dan larangan dalam dunia politik.

“Caleg muda ini tentu juga akan dibimbing caleg senior yang sudah memiliki pengalaman lebih dulu di dunia politik,” tandasnya.

Itu sebabnya, mereka yang pada pemilu lima tahun lalu masih tergolong belia, kini justru didorong untuk naik kelas. Seperti Rangga Danu Meinaga Adhitama, anggota DPRD Kota Mataram dari partai Keadian dan Persatuan Indonesia. Pada Pemilu 2014 lalu, Rangga tidak pernah terbesit niatnya untuk bisa duduk dikursi dewan. Namun itulah takdir. Rangga berhasil mengungguli perolehan suara dari ketua Partai PKPI Kota Mataram Gunawan dari dapil Sekarbela dan Mataram.

Keberhasilannya itu mendorong partainya kini meminta Rangga mencalonkan diri untuk DPRD NTB.      “Itu perintah partai, kami ikuti,” kata Rangga.

Pria yang tinggal di Kekalik Mataram sebetulnya masih betah mencalonkan diri di DPRD Kota Mataram. Jika bisa memilih ia akan mencalonkan diri di Mataram meski harus pindah dapil. Ia siap bersaing dengan bacaleg mana pun jika bertarung untuk mendapatkan kursi di DPRD Kota Mataram.

”Kalau di Mataram saya siap melawan calon mana pun,” sebutnya.

Selama ini Rangga selalu membaur dengan warga yang menjadi kantong suaranya. Namun demikian ia tidak bisa menolak jika partai memintanya untuk  maju ke DPRD NTB. Kini ia hanya bisa mengikuti kata partai meski  hati menolak.

Meraih kursi di DPRD NTB dinilai cukup berat. Namun demikian ia harus berjuang keras untuk bisa mendapatkan kursi di DPRD NTB. Ia bersama dua orang bacaleg dari partai PKPI  diplot untuk menjadi bacaleg di DPRD NTB pada Pileg 2019 dapil Lobar dan KLU.

KPU Tak Punya Data

Meski banyak menjadi buah bibir, hanya saja, soal berapa jumlah persis para caleg pemula ini, Komisi Pemilihan Umum tidak memiliki data pasti. Rupanya, KPU tidak mengelompokkan para caleg ini berdasarkan usianya.

            “Memang tidak ada form khusus yang melampirkan usia caleg,” kata Ketua Divisi Teknis dan Penyelenggaran KPUD Kota Mataram Bedi Saparwadi kepada Lombok Post. Karena itu, dari total seluruh caleg yang bertarung di Mataram, dia tak tahu pasti berapa jumlah mereka yang muda dan pemula di panggung politik legislatif tersebut.

            Datanya tentu saja ada. Sebab, para caleg itu mendaftar melampirkan KTP yang memuat tempat dan tanggal lahir mereka. KPU lah yang tidak mentabulasi hal tersebut. Sehingga data usia menjadi tidak ada.

            Bedi mengatakan, kalau mau dibongkar, butuh waktu yang tidak singkat untuk menyortir ulang data-data caleg yang usianya masih muda dan mewakili kaum milenial tersebut.

            Ketua KPU Lobar Suhaimi Syamsuri juga mengakui hal yang sama. Pihaknya tak memiliki data soal berapa jumlah persis caleg muda ini. Namun, dia mengaku keberadaan caleg milenial menurutnya sangat baik bagi dunia politik.

Karena ia ingin ke depan negeri ini harus dipimpin oleh orang yang muda. Yang punya visi membangun Indonesia khususnya Lobar tidak hanya lima tahun ke depan. Tetapi 25 tahun ke depan.

“Kelompok milenial adalah kelompok jumlah besar di Indonesia. Ini bonus demografi kita karena salah satu yang terbesar di dunia,” ungkapnya.

Keterlibatan kaum milenial dinilainya karena mereka terpanggil untuk ikut membangun negeri. Jika kemudian ada Caleg milenial yang sekedar memenuhi kuota, itu dikatakannya persoalan lain.

“Kita harus positif thinking dulu karena generasi milenial ini mau terlibat dan berkontribusi untuk membangun negerinya,” kata dia.

Ketua KPU Loteng Ary Wahyudi juga sama. Dari total 667 caleg di Loteng, dia tak tahu berapa di antara mereka yang masih muda dan belia di panggung politik.

            Ary mengatakan, tak ada permintaan resmi dari KPU NTB terkait pendataan dan pengelompokan usia caleg ini. Sehingga, daftar nama caleg sesuai jumlah dan partai politik saja. Saat mendaftar, memang terdapat bukti ijazah. Namun, tidak dilakukan perincian.

            Sementara itu, di Lombok Utara, caleg muda didominasi oleh kaum hawa. Kasubag Teknis KPU KLU Nasihin membeberkan jumlah Caleg muda di KLU. Untuk partai PKB, setidaknya ada dua caleg muda yang semuanya adalah perempuan. Yaitu Ayanti, kelahiran 1995) dan Riani, kelahiran tahun yang sama.

Partai Gerindra ada tiga caleg muda yang juga semuanya perempuan. Yakni  Siti Fatimah kelahiran 1993, Mariana (1996), dan Maolani (1993). Sementara PDIP ada dua caleg muda perempuan. Yaitu Ayu Rahadian (1996) dan dan Maro’aini (1994).

Untuk Partai Golkar ada lima caleg muda perempuan. Yakni Trilia Utami (1995), Baiq Rima (1994), Siska Herdiana (1994), Aulia Rizki (1995), dan Apriani Pratiwi (1994). Lalu Partai Nasdem ada tujuh caleg muda. Enam perempuan dan satu pria. Yakni Karlian (1997), Mina Lasmita (1995), Riadul Husna (1994), Siska Dewi S (1997), Sri Ulani (1995), Sefti Selfiani (1996), dan Raden Winata (1993)

Partai Garuda ada tiga caleg muda perempuan. Yakni Denda Himayani (1995), Rita Sofiana (1997), dan Hilnayanti (1997).

Sementara Partai Berkarya memiliki satu caleg muda perempuan. Yakni Yanti Marianti (1994). PKS memiliki empat caleg muda perempuan. Yakni Baiq Iva (1994), Baiq Asy (1996), Izha (1996), dan Santi Agustina (1997). Partai Perindo memiliki empat caleg muda perempuan. Yakni Iin (1993), Irma sri (1994), Denda R (1995), dan Nika Selpia (1995).

Partai PPP memiliki tiga caleg muda perempuan. Yakni Siti R (1993), Karmila Susilawati (1997), dan Lusiawati (1994). PSI memiliki tiga caleg muda perempuan. Yaitu Murniawati (1993), Aluh S (1996), dan Novitasari (1993).

Partai Amanan Nasional (PAN) memiliki tiga caleg muda perempuan. Yakni Lily (1994), Tiurma (1997), dan Susnawati (1995).

Partai Hanura memiliki dua caleg muda perempuan. Yakni Ismawati (1994) dan Aryana SH (1995). Partai Demokrat hanya memiliki satu caleg muda. Yaitu Baiq Yuli (1994). Partai Bulan Bintang (PBB) memilikilima Caleg muda perempuan. Yakni Rosita (1996), Mahadriani (1994), Yuliati (1995), Zahratul (1996), dan Miniwati (1997). Sedangkan untuk PKPI tidak memiliki caleg muda.

Wajib Punya Integritas

 

Sementara fenomena munculnya caleg muda ini bagi Guru Besar Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Mataram Prof Gatot Dwi Hendro Wibowo adalah hal yang bagus.

Itu artinya ada kesadaran politik di kalangan anak muda. Mereka menjadikan politik sebagai panggung untuk mengekspresikan suara kaum muda. Hal itu jauh berbeda dengan sebelumnya,  dimana banyak anak muda justru anti politik.

“Anggapan bahwa politik kotor dan saling menjelekkan. Itu mindset lama,” katanya.

            Sekarang kata dia, adalah waktunya politik sebagai alat perjuangan. Seorang pemuda tidak harus memulai karir sebagai pengusaha, pekerja profesional atau berkarir di birokrasi. Menjadi politikus yang bagus juga adalah hal yang sangat baik. “Artinya anak mudah mulai melek politik.”

            Tapi Gatot mengingatkan, modal yang harus dimiliki seorang politisi muda adalah integritas. Tanpa integritas para politisi muda akan hancur. Ia akan terjebak pada labirin dunia politik dan melenceng dari esensi perjuangan mereka.

            Maka tugas partai politiklah yang harus mendidik mereka. Kalaupun minim pengalaman, tidak masalah sebab nanti mereka akan belajar dengan sendirinya ketika sudah menjadi dewan. Di sana mereka bisa belajar dengan mengangkat tenaga ahli.

“Keberanian masuk legislatif saja sudah merupakan modal besar,” ujarnya.

            Namun begitu, berkaca pada hasil Pemilu sebelumnya, perubahan yang dibawa legislatif muda belum terlalu besar. Parlemen masih banyak dikuasai para politik senior. “Pengaruh mereka  terhadap perubahan dewan masih minim,” ujarnya.

            Karenanya para politisi muda harus punya kemauan dan tekad yang kuat untuk belajar. Dia harus kolaborasi mempelajari rekan sejawatnya sehingga sama-sama memperjuangkan aspirasi masyarakat. “Politik tidak boleh mencari musuh.”

            Ia mengakui muda saja tidak cukup menjadi modal untuk berlaga di panggung politik. Mereka harus benar-benar memperjuangkan aspirasi warga. Menjalankan amanah dan penuh integritas. Cara-cara curang menggunakan uang sudah waktunya ditinggalkan. Bila tidak maka mereka tidak akan lama menjadi anggota legislatif.

“Masyarakat sudah pintar mereka tahu mana yang baik untuk dipilih sebagai anggota legislatif,” katanya. (puj/zad/tih/dss/ton/fer/ili/jay/r8)

Berita Lainnya

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Masih Banyak Warga Loteng Buang Air Besar Sembarangan

Redaksi LombokPost

Pemkab dan ITDC Raih Penghargaan ISTA

Redaksi LombokPost

Ahli: Penangkapan Muhir Bukan OTT

Redaksi LombokPost

Pola Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf Serupa

Redaksi LombokPost