Lombok Post
Praya

Sudah “Ditegur”, Masih Belum Tobat Juga

Bayu Pancapati

MATARAM-Bisnis salon dengan embel-embel spa kembali menuai sorotan. Ada dua persoalan yang melatarbelakangi pemerintah perlu menangani bisnis ini. Pertama klaim spa yang tidak sesuai dengan layanan spa itu sendiri. Lalu kedua, prostitusi di balik topeng spa.

Kasatpol PP Kota Mataram Bayu Pancapati naik pitam dengan pelanggaran ini. Ia menebar ancaman bakal menindak tegas jika para pelaku tidak segera bertobat. “Lihat saja kami akan bergerak!” kata Bayu.

Paling tidak ia menjanjikan akan menurunkan papan reklame. Tidak boleh ada tulisan spa. Sebelum syarat dari dinas kesehatan untuk membuka layanan spa dipenuhi. Mereka hanya boleh membuat plang usaha sesuai layanan yang ada.

“Saya lihat tulisan-tulisan spa dan salon itu sudah masuk ke lingkungan-lingkungan,” ujarnya.

Layanan spa seharusnya memenuhi beberapa syarat. Di antaranya, harus dilengkapi dengan dokter, ahli kulit, dan fasilitas spa yang standar. Penertiban plang salon dan spa ini untuk menutup potensi persoalan kedua terjadi. Yakni spa hanya sebagai topeng untuk mengaburkan ada praktik prostitusi di dalamnya.

“Jadi kalau salon ya salon saja, tidak perlu pakai nama spa,” cetusnya.

Yang dikhwatirkan, pemakaian istilah spa oleh beberapa pengusaha hanya untuk mengaburkan. Ada ruangan khusus bagi para pria hidung belang memuaskan birahi di dalamnya. Karena itu, Bayu merasa perlu untuk meluruskan persepsi ini. Dimulai dari pembuatan nama usaha yang benar.

“Setelah penertiban nama usaha, baru kami akan tertibkan spa mana yang menyiapkan perempuan (untuk prostitusi),” tegasnya.

Tidak hanya spa, tapi juga usaha karaoke. Dan berbagai usaha lain yang memanfaatkan kemolekan tubuh wanita untuk meraup keuntungan. Bayu bahkan sudah tidak mau kompromi lagi dengan para pengusaha itu.

“Sudah dari beberapa bulan lalu kita peringatkan, janganlah. Tapi kok setelah selesai gempa marak lagi!” sesalnya.

Ia meminta para pengusaha itu segera bertobat. Peringatannya melalui media ia pastikan bukan sekadar omong kosong. Ia mengingatkan soal aksi koboinya beberapa waktu lalu yang juga tidak segan-segan menelanjangi usaha yang bertentangan dengan motto kota.

“Silakan dia berusaha, silakan dia buka usaha karaoke, tapi jangan dong menampilkan perempuan yang bisa dipilih-pilih sebagai PS (partner song), ini kan ndak betul,” cetusnya.

Bayu telah mengantongi nama-nama tempat usaha itu. Dan ia tidak mau kompromi mengingat kota sudah sangat tegas meletakan nama religius sebagai mottonya.

“Saya akan turun, kalau kayak gini cara main mereka, (berarti) sudah tidak mau kerja sama dengan pemerintah,” tegasnya.

Ia meyakinkan semua tempat usaha itu akan didatangi. Bahkan ada beberapa tempat usaha yang sudah nyata-nyata menyediakan beberapa perempuan dalam satu ruangan. Mereka bisa dipilih oleh pria-pria hidung belang.

“Kami akan turun dengan disnaker, (lokasinya) kami rahasiakan dulu,” janjinya.

Dorongan agar pemerintah bertindak tegas pada bisnis “lendir” di balik spa dan karaoke ini juga datang dari dewan. Salah satunya fraksi PKS Kota Mataram. Mereka meminta pemkot menutup ruang kompromi. Mengingat persoalan ini sudah sangat lama. Jadi harus ada efek jera.

“Harus ditindak tegas,” kata Parhan, politisi PKS.

Fraksinya menyayangkan persoalan ini bukannya berkurang, tapi malah menjamur. Seharunya bencana alam yang terjadi beberapa waktu lalu cukup jadi teguran. Agar para pengusaha mengubah tabiat dan niat usaha.

“Ingat kehancuran suatu kaum, karena mereka sudah lupa pada ajaran agama,” cetusnya.

Yang terjadi saat ini usaha semacam ini malah kembali menjamur. Menurut dia orang boleh saja beranggapan bencana yang terjadi beberapa waktu lalu hanya mekanisme alam saja. Tetapi bagi umat beragama bencana diyakini sebagai peringatan Tuhan.

Apalagi Pemkot Mataram meletakkan motto religus sebagai tujuan. Ini menandai pemkot menjadikan semangat keberagamaan yang tinggi sebagai tujuan akhirnya.

“Dan kalau bencana Tuhan turun bukan hanya para pelakunya saja yang kena, tapi juga orang yang tidak melakukannya ikut terkena bencana,” peringatnya. (zad/r7)

Berita Lainnya

Tiga Kios Warga Hangus Terbakar

Redaksi LombokPost

Masih Banyak Warga Loteng Buang Air Besar Sembarangan

Redaksi LombokPost

Pemkab dan ITDC Raih Penghargaan ISTA

Redaksi LombokPost

Loteng Susun Regulasi Pendidikan Inklusi

Redaksi LombokPost

Bangun Mandalika, ITDC Pinjam Rp 3,6 Triliun ke AIIB

Redaksi LombokPost

Penjualan Songket Sukarara Anjlok

Redaksi LombokPost

Warga Merasa Bayar Angin, Bukan Air PDAM

Redaksi LombokPost

150 Pendaki Jajal Jalur Aik Berik

Redaksi LombokPost

BPK Periksa 10 Desa di Loteng

Redaksi LombokPost