Lombok Post
Catatan Redaksi Headline Metropolis

Google Bagikan Trik Menangkal Hoax Untuk Jurnalis di NTB

MATARAM–Perusahaan search engine terbesar di dunia  Google menggelar pelatihan “Google News Initiative Training Network” di Mataram. Pelatihan yang bekerjasama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) itu bertujuan untuk menangkal penyebaran berita hoax di media.

Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari di Hotel Grand Legi, mulai 1-2 Desember. Sehari sebelumnya, Jumat (30/11) digelar half day basic training untuk berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa, LSM, akademisi, blogger, anggita Polri dan sejumlah ASN.  Pelatihan setengah hari itu juga mengenalkan cara berinternet dengan sehat, mengenali hoax dan berbagai upaya menangkalnya.

“Ini upaya memberi pemahaman kepada jurnalis untuk menangkal informasi hoax dengan sejumlah produk tools milik Google,” kata dua trainner Arsito Hidayatullah, kemarin (2/12).

Dua duta trainner Google Bina Karos dan Arsito Hidayatullah menjadi pemateri dalam acara itu. Mereka memberikan  pemahaman dan pembelajaran teknis mengenai kebersihan data digital (digital hygiene), analisa dasar atas informasi, pencarian dan penelusuran data, serta beragam tools cara identifikasi informasi, data dan foto berkonten hoax.

Sementara untuk jurnalis, dari puluhan peserta yang mendaftar, Google menyeleksi menjadi 25  jurnalis dari sejumlah media di NTB. Selama dua hari para jurnalis mendapat gambaran misi  yang diemban Google dan cara mengenali penyebaran hoax. Para jurnalis dilatih karena Google menilai, jurnalistik merupakan salah satu rujukan kebenaran yang masih bisa dipercaya.

Bina Karos, fotografer freelance yang juga pengurus AJI mengatakan, era digitalisasi tidak bisa dihindari. Sebaliknya media dan jurnalis harus mampu beradaptasi.

Era banjir informasi sejalan dengan lahirnya penerbitan media online yang mencapai 70.000 situs. Jumlah yang diverifikasi Dewan Pers (DP) mencapai 40.000. Tapi hanya 200 situs yang dinilai menjalankan pedoman dan standar perusahaan media.

Data itu menunjukkan, jurnalis harus familiar dengan teknologi dan  terus mengikuti perkembangan berbagai konten digital. “Dengan memahami karakteristik kerja digital sumber informasi hoax bisa diketahui,” ujarnya.

Ada dua istilah untuk mengenali informasi hoax. Pertama, misinformasi yakni informasi yang salah namun orang yang membagikan percaya itu benar. Motifnya untuk parodi, menyesatkan, aspal, manipulatif.  Kedua, disinformasi yakni informasi yang salah dan orang yang membagikannya itu tahu salah. Disebarkan dengan tujuan propaganda dan mempengaruhi pikiran orang lain.

Sejumlah tools diperkenalkan dalam materi itu, seperti image.google.com dan Rev Eye Reserve Image Search berfungsi untuk memverifikasi foto. “Tools ini berfungsi untuk mengecek kebenaran foto yang biasanya dicuri oleh situs abal abal,” sambung Hidayatullah.

Platform Google juga menyediakan tools seperti Tineye dan ImgOps.  Akun di sosial media juga dapat ditembus dengan tools Google untuk  profiling akun pihak yang dianggap perlu untuk diidentifikasi. Seperti tools twitter advanced search dan Twopcharts. Akun Facebook dapat dilacak dengan  people find thor dan intel techniques.

Bila tidak melihat konten asli, maka semakin besar kemungkinan tertipu dalam hal autentifikasi konten hoax. Jurnalis diajak mengenali situs abal-abal yang hanya memburu traffic dan klikbite, yakni cenderung dramatis dan berlebihan serta menggunakan bahasa bombastis.

Selama dua hari, para peserta juga dituntun koordinator program Febriana Galuh. Ia menjelaskan, misi Google adalah mendorong jurnalis ikut menghasilkan karya jurnalistik yang terverifikasi dan dipercaya melalui riset dan program. (ili/r7)

Berita Lainnya

Honda PCX Punya Warna Baru

Bank Mandiri Serahkan CSR ke Tiga Sekolah di Loteng

Menelusuri Penyebaran Islam di Pulau Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (2)

Korban Gempa Dikadali, BPBD Terima Laporan Bahan Rumah Korban Gempa Tak Sesuai Spek

Menelusuri Penyebaran Islam di Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (1)

Kedubes Prancis Kunjungi Poltekpar Lombok

Zohri Spektakuler! Genggam Tiket ke Tokyo 2020

BNI Tebar 100 Ribu Bingkisan Ramadan

Hearing Buntu, Aldi Tempuh Jalur Hukum