Lombok Post
Headline Metropolis

Tempat Esek-Esek Menjamur, Pemkot Bisa Apa?

TUNGGU ORDER: Seorang remaja putri sedang asyik menyanyi di sebuah tempat karaoke, beberapa waktu lalu.

Ini masalah lama. Tak ada habisnya. Semua karena Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram tak berani tegas. Akibatnya, kini tempat esek-esek di kota berjargon Religius semakin menjamur. Para pemangku kebijakan di daerah ini pun terkesan asyik menontonnya.

—————————

Usai gempa bumi, kabar tak sedap terdengar dari dunia hiburan malam. Belum usai kasus Spa yang hanya buat gaya-gayaan. Lalu ada Spa diduga tempat praktik prostitusi. Kini persoalan lama yakni Karaoke dengan Patner Song (PS) kembali bergairah lagi.

Beberapa tokoh dan unsur masyarakat mengaku kecewa. Apalagi Kota Mataram punya moto Religius yang menandai warga kota adalah warga yang agamis. Memegang kuat aturan dan nilai-nilai agama.

Lalu kenapa dibiarkan? Apakah para pemegang kebijakan di daerah yang pimpinannya pemuka agama ini tidak tahu? Atau pura-pura tidak tahu? Atau bahkan tak berdaya menghadapi para pengusaha yang membuka usaha menyimpang ini?

Jawabannya: pejabat di Pemkot Mataram tahu. Bahkan sejak dahulu. Sejak praktek tempat esek-esek ini terendus.

Buktinya, Komandan Satuan (Dansat) Pol PP Kota Mataram Bayu Pancapati membenarkan adanya Spa Plus-Plus dan Karaoke Plus. “Ya, setelah gempa kok marak lagi,” kata Bayu.

Ia mendapat laporan beberapa wanita disiapkan dalam sebuah ruangan. Para pria hidung belang bisa dengan bebas memilih teman wanita yang mereka mau. Praktik tempat karaoke seperti ini sebenarnya sudah dapat peringatan dan diminta berhenti oleh Satpol PP beberapa waktu lalu.

Tapi diam-diam kembali lagi melakukan praktik serupa. Bayu pun mengaku geram. “Kalau kayak gini cara main mereka, (berarti) sudah tidak mau kerja sama dengan pemerintah,” sesalnya.

Bayu pun mengancam akan mengobok-obok lagi tempat Karaoke yang menyediakan wanita penghibur. Ini dinilai telah mencemari moto kota yang mengusung misi kawasan religius.

“Kami akan turun dengan disnaker, lihat saja nanti,” ancamnya.

Namun, jika cara memberantas karaoke plus ini sama seperti sebelum-sebelumnya, jelas tak akan efektif. Karena setelah dirazia, besoknya akan kembali beroperasi seperti biasa.

Pemkot harusnya lebih tegas. Tak hanya memberi peringatan tertulis. “Kami sebagai masyarakat jelas pesimis dengan rencana Satpol PP ini,” kata Abdurrahman, salah satu warga Kota Mataram.

Karena itu, ia menyarankan Wali Kota Mataram mencontoh langkah baik yang pernah dilakukan Penjabat Wali Kota Hj Putu Selly Andayani. Saat menjabat, Selly berhasil menutup lokalisasi pasar beras.

“Itu kan (pasar beras) aktif lagi setelah bu Selly selesai menjabat jadi penjabat wali kota,” sindir Abdurrahman.

Menurutnya, ada pelajaran yang bisa diambil dari Selly. Artinya, warga dan pengusaha di Kota Mataram sebenarnya bisa diatur. Asalkan pemimpinnya bisa tegas. Penertiban tidak pandang bulu.

“Ini kalau PKL (pedagang kaki lima) Pol PP garangnya minta pun, tapi kalau di pengusaha, hanya berani berikan surat teguran. Bahkan untuk yang tidak punya izin sekalipun hanya ditegur,” ungkapnya.

Terpisah, Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Mataram HL Abdul Hamid, juga menegaskan tidak ada izin bagi usaha karaoke untuk menyediakan wanita penghibur. Larangan ini tegas untuk mengantisipasi potensi adanya praktik prostitusi terselubung di dalam bisnis karaoke.

“Ndak ada (izinnnya),” tegas Hamid.

Semua tempat usaha dipersilakan berinovasi. Membuat layanan agar para wistawan betah dan nyaman di kota. Tapi bukan kegiatan yang bertentangan dengan perda, norma agama, dan kesusilaan yang berlaku di Mataram.

“Seperti perda miras juga kita kan ketat juga,” ujarnya.

Karenanya jika benar ada pelanggaran yang dilakukan beberapa tempat usaha karaoke. Terbukti menyediakan wanita penghibur, ia mempersilakan Satpol PP sebagai institusi pengawal dan penegak perda menindak. Jangan sampai nanti justru menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

“Aturan sudah jelas, jadi mari kita patuhi sama-sama,” imbaunya. (zad/r5)

Berita Lainnya

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Masih Banyak Warga Loteng Buang Air Besar Sembarangan

Redaksi LombokPost

Pemkab dan ITDC Raih Penghargaan ISTA

Redaksi LombokPost

Ahli: Penangkapan Muhir Bukan OTT

Redaksi LombokPost

Pola Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf Serupa

Redaksi LombokPost