Lombok Post
Metropolis

Pasca Gempa, Ekonomi Melambat Dua Persen

POTRET KEMISKINAN: Seorang lansia yang tergolong warga tidak mampu, menerima sembako dari Dinas Sosial Kota Mataram, beberapa waktu lalu.

MATARAM-Musibah gempa bumi sepertinya sudah berlalu. Setidaknya, sejauh ini sudah tidak terasa lagi di Pulau Lombok. Meski dampaknya masih terasa hingga saat ini.

Kerusakan yang masif mulai dari infrastruktur, rumah penduduk, dan terganggunya rantai ekonomi masih terasa hingga saat ini. Hal ini rupanya sudah diprediksi,  oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram akan berpengaruh pada angka kemiskinan yang bertambah.

“Iya sudah kita bahas. Ini pasti akan berdampak pada angka kemiskinan kita,” kata Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh.

Pada tahun 2017 lalu, angka kemiskinan di ibu kota berhasil membukukan catatan manis. Setidaknya dengan membuat jumlah penduduk miskin di bawah satu digit. Yakni sekitar 9,55 persen.

Tapi catatan manis ini, akan sulit dipertahankan. Bukan karena upaya pemkot melemah menangani sektor kemiskinan. Tapi dampak dari bencana alam dahsyat yang menerjang beberapa waktu lalu.

“Saya belum tahu hitung-hitungan secara persis, apa saja (variabel) yang menyebabkan kemiskinan itu,” ujarnya.

Namun dari rapat-rapat koordinasi yang pernah dilakukan, hancurnya ribuan rumah penduduk pasti membuat sendi perekonomian sebagian masyarakat ikut rapuh. Belum lagi faktor bawaan lain sebagai dampak bencana besar itu yang pasti akan berpengaruh pada grafis kemiskinan kota.

“Penerimaan PAD kita yang turun, lalu pertumbuhan ekonomi kita yang kemungkinan melambat dari tahun sebelumnya,” ujarnya.

Pada tahun 2017 pertumbuhan ekonomi kota juga cukup gemilang, mencapai 8,12 persen. Angka ini pun di atas rata-rata nasional. Tetapi dari beberapa perhitungan pasca gempa, diprediksi pertumbuhan ini bakal melambat.

“(Kemungkinan turun) sekitar 1,5-2 persen,” ujarnya.

Tapi Ahyar yakin penurunan ini tidak akan lama. Mataram termasuk yang cepat dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi paska gempa. Termasuk rehabilitasi dan rekonstruksi di bidang ekonomi.

Ini diyakininya akan cepat mempengaruhi perekonomian kota kembali lagi ke posisi semua. Bahkan berpotensi melejit lebih tinggi lagi.

“Ndak. Saya rasa kita bisa cepat pulih, seiring dengan investasi nanti masuk, serapan tenaga kerja kembali tinggi, saya yakin kita bisa mengurangi kemiskinan lagi,” ulasnya.

Ahyar tampak yakin persoalan ini tidak lama. Menyusul revisi perda RTRW yang hanya menyisakan beberapa tahapan lagi akan disahkan sebagai udang-undang yang baru. Menggantikan perda nomor 12 tahun 2011 tentang RTRW Kota Mataram.

“Nanti pasti bergerak naik sendiri, kuncinya saya rasa di tata ruang,” tegasnya.

Ia berharap jelang memasuki tahun 2019 ini, badai persolan segera usai. Dan kota bisa kembali menata langkah menuju daerah yang lebih maju dan punya daya saing tinggi di tingkat nasional.

“Kita berdoa agar di tahun baru nanti bisa lebih baik,” harapnya.

Kepala Badan Pusat Satistik (BPS) Kota Mataram Isa Ansori melalui layanan pesan singkat elektronik mengatakan sampai saat ini BPS belum melakukan survei. Terkait dampak kebencanaan terhadap angka kemiskian di Kota Mataram.

Karenannya ia masih belum bisa memperkirakan apakah jumlah penduduk miskin ibu kota bertambah atau justru berkurang, sekalipun telah ditimpa bencana.

“(Kalau ada kabar peningkatan penduduk miskin) yang jelas bukan dari BPS, karena BPS belum melakukan survei untuk mengukur tingkat kemiskinan paska gempa,” kata Isa singkat. (zad/r5)

Berita Lainnya

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Tolong, Jangan Masuk Angin!

Redaksi LombokPost

Volume Monumen Tak Sesuai Kontrak, Rekanan Didenda Rp 1,2 Juta Perhari

Redaksi LombokPost

Baginya, yang Penting Jangan Mengemis!

Redaksi LombokPost

Ibu Kota kok Kotor?

Redaksi LombokPost