Lombok Post
Headline Metropolis

Gubernur Blusukan di Kampus-kampus Polandia

PRESENTASI: Gubernur NTB H Zulkieflimansyah presentasi di hadapan Marshal Provinsi Kujawsko-Pomorskie Piotr Calbecki, di Kota Torun, Polandia, Selasa (4/12).

WARSAWA-Gubernur NTB H Zulkieflimansyah bersama para rektor perguruan tinggi dari NTB “blusukan” di Polandia. Mereka mendatangi kampus-kampus perguruan tinggi yang ada di Kota Warsawa, ibu kota Polandia. Perguruan tinggi-perguruan tinggi itu potensial menjalin kerja sama dengan menerima para mahasiswa asal NTB.

Kedatangan Gubernur NTB ke Polandia disambut antusias para pengelola kampus di Polandia. Bahkan pada hari pertama rombongan harus dibagi menjadi dua tim. Sebab, ada permintaan khusus dari Marshal Provinsi Kujawsko-Pomorskie Piotr Calbecki, yang mengajak Gubernur NTB bertemu secara khusus di Kota Tourun. Pertemuan itu di luar agenda sebelumnya.

Tim pertama yang dipimpin Gubernur NTB H Zulkieflimansyah menemui Marshal Provinsi Kujawsko-Pomorskie Piotr Calbecki. Kemudian rombongan para rektor mendatangi kampus-kampus. Kedua pemerintah sepakat menjalin sejumlah kerja sama di bidang pendidikan dan investasi bidang energi.

Sementara rombongan rektor terdiri dari Rektor Universitas Muhammadiyah Mataram (UMM) Arsyad Gani, Rektor Universitas Mahasaraswati Mataram Ida Bagus Eka Artika, Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Baiq Mulianah, Ketua STIKES Mataram Chairun Nasrin, dan Wakil Rektor I Universitas Hamzanwadi H Khirjan Nahdi.

Ada lima kampus yang ditemui rombongan para rektor, yakni Warsaw University of Technology (WUT), University of Warsaw (UW), Collegium Civitas, Warsaw School of Economic, dan University of Wroclaw. Empat berlokasi di Kota Warsawa dan satu lagi di Kota Wroclaw.

Kampus pertama yang dikunjungi adalah Warsawa University of Technology (WUT). Rombongan ditemui Vice Rector Research WUT Prof Rajmund Bacewicz. Dalam pertemuan itu baru permulaan dan pengenalan profil kampus. Sistem perkuliahan dan biaya studi di tempat itu. Pihak WUT sangat terbuka untuk bekerja sama dan menerima mahasiswa yang ingin kuliah di kampus mereka.

Rajmund Bacewicz mengaku sangat senang dengan pertemuan itu. Baginya kedatangan tim dari NTB sangat penting untuk membuka jalinan kerja sama dengan perguruan tinggi di NTB. Tidak hanya menerima mahasiswa kuliah di kampusnya, tapi juga kolaborasi di bidang riset antar perguruan tinggi. Namun untuk itu, mereka butuh profil dan kesiapan dari perguruan tinggi dari NTB.

                “Kami siap menerima (mahasiswa) dan berkolaborasi dengan perguruan tinggi di NTB,” katanya.

Biaya kuliah di WUT cukup murah untuk kelas internasional yakni 1.000 Euro hingga 2.500 Euro per semester atau sekitar Rp 16 juta. Jauh lebih murah dibandingkan di Amerika yang mencapai USD 50 ribu atau setara dengan Rp 700 juta.

Kunjungan kedua ke University of Warsaw (UW). Rombongan ditemui Rektor UW Prof Marcin Palys, Head of International Realtuons Office Sylwia Salamon, dan senior office of IRO Jolanta Stelmaszczyk. Pertemuan tersebut juga baru sebatas pengenalan. Masing-masing bidang yang ada di kampus mempresentasikan layanan yang ada di kampus mereka. Kampus yang memiliki multi disiplin ilmu itu siap bekerja sama.

Wakil Rektor I Universitas Hamzanwadi H Khirjan Nahdi mengatakan, banyak sekali kesempatan kerja sama yang bisa dilakukan. Salah satu yang menarik adalah pengiriman mahasiswa diploma yang selama ini jarang dilakukan.

“Menariknya di sini mereka melakukan riset dan langsung diterapkan pemerintah dan perusahaan,” katanya.

Setelah berkunjung ke kampus-kampus Polandia. Dia banyak belajar bagaimana kampus di Polandia sangat serius  mengelola perguruan tingginya.

Sementara itu, di kampus ketiga yang dikunjungi Collegoum Civitas, rombongan rektor meneken letter of intent, kesepakatan untuk bekerja sama dengan pihak Collegium Civitas. Pihak Collegium Civitas sangat terbuka dan sangat senang bekerja sama. Di kampus itu sudah ada lima orang mahasiswa asal NTB yang menimba ilmu.

Presiden Collegium Civitas Prof Jadwiga Koralewicz mengatakan, mereka tertarik melakukan kerja sama dengan negara-negara Asia. Banyak mahasiswa Collegium Civitas juga berasal dari Asia, seperti Indonesia. “Kami tertarik melakukan kerja sama dengan perguruan tinggi di NTB,” ujar Jadwiga.

Wanita ini merasa bahwa pihaknya dan perguruan tinggi di NTB memiliki ketertarikan dan minat yang sama. Yakni bagaimana melindungi lingkungan, menciptakan masyarakat yang taat, bagaimana menciptakan manajemen yang memadai dan diplomasi. Seperti diketahui, Indonesia adalah negara yang sedang berkembang dalam segi ekonomi. Polandia juga saat ini tengah mengalami hal yang sama.

Jadwiga mengungkapkan, banyak warga Indonesia bekerja di luar negeri karena persoalan kesejahteraan. Hal ini juga dialami oleh Polandia. Karena itu, pihaknya sangat bersedia untuk melakukan kerja sama dengan perguruan tinggi di NTB. Guna menuntaskan sejumlah persoalan yang ada. Dengan adanya kerja sama ini, pihaknya juga merasa lebih dekat dengan Indonesia.

Diungkapkan, tidak menutup kemungkinan, kerja sama antara pihaknya dan perguruan tinggi di NTB akan berkembang. Bukan hanya dalam pengiriman mahasiswa untuk belajar saja. Tapi juga dalam melakukan penelitian terhadap suatu persoalan.

Ke depannya, tidak menutup kemungkinan kedua belah pihak juga bisa menandatangani MoU untuk melakukan penelitian bersama.

Ketua Tim Beasiswa NTB Irwan Rahadi mengatakan, semua kampus yang dikunjungi akan menjadi destinasi pengiriman mahasiswa. Rencananya awal tahun depan 200 orang mahasiswa baru akan dikirim lagi ke Polandia.

“Pertemuan hari pertama akan kami tindak lanjuti setelah kembali ke Indonesia,” katanya.

Sejumlah persiapan harus dilakukan para calon mahasiswa yang ingin ikut dalam program itu. Mulai dari paspor, kemampuan bahasa dan kesiapan mental untuk menimba ilmu di negeri Eropa dengan perbedaan cuaca yang ekstrem dengan di Indonesia. Juga persaingan yang cukup ketat dengan pelajar dari negara lain.

Saudara Baru

Sementara itu, datang ke Polandia, Gubernur NTB H Zulkieflimansyah juga menjajaki kemungkinan kerja sama lain. Tidak hanya dengan perguran tinggi di Polandia, namun kerja sama juga dilakukan dengan pemerintah daerah setempat. Salah satunya pemerintah Provinsi Kujawsko-Pomorskie Polandia.

Gubernur NTB H Zulkieflimansyah yang datang bersama Ketua TP PKK NTB Niken Saptarini Zulkieflimansyah, serta dua pejabat eselon II Pemprov NTB menemui Marshal Provinsi Kujawsko-Pomorskie Piotr Calbecki, pejabat setingkat gubernur di Polandia.

                Pertemuan itu berlangsung di Kota Lama Torun. Mereka mendiskusikan berbagai sektor yang bisa ditindaklanjuti jadi kerja sama antara dua provinsi.

                Gubernur Zul mengatakan, pertemuan dengan Marshal Piotr Calbecki dan jajarannya di Kota Torun merupakan yang pertama kali. Namun ia optimis kerja sama terbuka lebar. NTB memiliki banyak potensi sebagaimana Polandia, khususnya Provinsi Kujawsko-Pomorskie. Mulai dari destinasi wisata desa kuno sebagaimana desa-desa adat di Lombok dan Sumbawa, hingga sektor pertanian dan bioenergi.

“Semoga segera terealisasi jadi kolaborasi konkret antara NTB dengan provinsi di negara yang warna bendaranya sama dengan Indonesia ini, meski terbalik warnanya,” kata Gubernur Zul saat memberikan sambutan di depan tuan rumah.

Bagi Marshal Piotr Calbecki, kunjungan itu menjadi momen tak ternilai. Bagi Marshal yang sudah menjabat selama empat periode itu, kunjungan Pemprov NTB akan membuka beragam peluang kerja sama ataupun kolaborasi antara dua provinsi di berbagai sektor. Baik sektor bisnis dan industri, termasuk juga pendidikan.

“Kami sangat senang akhirnya bisa bertemu di sini. Selama ini hanya beberapa dari kami yang pernah mengunjungi NTB, sebagai turis maupun dalam kunjungan resmi dinas,” katanya.

Kerja sama sebagai sister-city antara Provinsi NTB dan Kujawsko-Pomorskie menjadi potensi yang paling memungkinkan diwujudkan dalam waktu secepatnya. Dari kerja sama tersebut, diharapkan mampu menggenjot arus investasi dari Polandia ke Lombok dan Sumbawa, khususnya di bidang pariwisata, pembangkit energi baru dan terbarukan, serta pengelolaan sampah dan limbah.

Pada saat yang sama, pengiriman masif mahasiswa dari tingkat strata satu hingga doktoral, juga paralel untuk dikebut melalui nota kesepahaman yang dibangun para pimpinan kampus NTB yang ikut berangkat ke Polandia.

Ia tertarik kerja sama dengan NTB karena mereka sudah memiliki sejumlah bisnis di sana. Seperti skuba diving workshop di Lombok dan juga investasi di bidang pembangkit energi di Sumbawa. Kujawsko-Pomorskie juga punya Nicolaus Copernicus University, kampus tertua dan terbesar di wilayah itu.

“Kami sangat terbuka menerima para calon mahasiswa atau yang bapak Gubernur Zul sebutkan sebagai para pemimpin masa depan Indonesia di kampus kebanggaan kami,” kata Marshal Piotr.

Di kota kelahiran filsuf Copernicus ini, pengiriman beasiswa putra-putri NTB ke Torun juga menjadi materi pembicaraan utama. Hingga saat ini, program beasiswa mahasiswa S2 Provinsi NTB telah memberangkatkan 18 awardee ke Collegium Civitas of Warsawa dan Vistula University of Warsawa dari bulan Oktober hingga November 2018.

                Pada Februari 2019, akan diberangkatkan lagi 200 mahasiwa-mahasiwi NTB ke Vistula University of Warsawa, sebagaimana telah disepakati dengan Chancellor Vistula University of Warsawa, Prof. Zdzislaw Rappacki pada 15 November 2018 lalu.

                Salah satu kampus yang jadi tujuan di Kota Torun adalah Nicolaus Copernicus University (NCU), yang dalam pertemuan diwakili oleh Profesor Bogusław Buszewski, Kepala Departemen Bioanalisis dan Kimia Lingkungan kampus terbaik ke-8 di Polandia itu.

                Selain sains kimia, biologi dan fisika yang menjadi kurikulum utamanya, Prof Buszewski juga menawarkan beasiswa di bidang pertanian, pengolahan, olahraga hingga musik spesialisasi piano dan astronomi.

Tidak banyak orang tahu 50 persen sektor pekerjaan yang ada di Provinsi Kujawsko-Pomorskie adalah pertanian. Oleh karenanya sains pun diprioritaskan pada industri pengolahan hasil pertanian, selain bioteknologi atau bioenergi. Begitu juga olahraga baik kalangan umum maupun kaum difabel yang telah dibangun selama 20 tahun lebih. Bahkan juga ilmu astronomi, karena nama kampus diambil dari filsuf sekaligus astronom Copernicus.

“Jangan lupa jurusan musik, khususnya piano yang diakui sebagai salah satu yang terbaik di Eropa,” jelas Buszewski.

Dalam kesempatan yang sama, istri Gubernur yang sekaligus Ketua TP PKK NTB Hj Niken menjelaskan persoalan pembangunan kapasitas dan kualitas manusia, termasuk partisipasi perempuan di berbagai sektor yang terus ditingkatkan di NTB, terutama di pendidikan, kesehatan dan bahkan sosial politik.

Ia berharap di kampus NCU ada jurusan yang cocok dan relevan dengan bidang peningkatan kapasitas sumberdaya manusia. Ia mengaku akan sangat senang untuk mengirimkan putra-putri NTB ke kampus mereka. Termasuk pertukaran pelajar di tingkat SMA antara NTB dan Torun maupun kota lain di provinsi tersebut. Pertukaran pelajar antara tiga sampai enam bulan.

“Mereka bisa saling berbagi pengalaman belajar dan hidup di negara lain, yang bisa jadi sangat berbeda situasi kondisi sosial, budaya dan lingkungannya,” kata Niken. (ili/r8)

Berita Lainnya

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Masih Banyak Warga Loteng Buang Air Besar Sembarangan

Redaksi LombokPost

Pemkab dan ITDC Raih Penghargaan ISTA

Redaksi LombokPost

Ahli: Penangkapan Muhir Bukan OTT

Redaksi LombokPost

Pola Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf Serupa

Redaksi LombokPost