Lombok Post
Metropolis

Bangunan Tua Itu Perlu Direnovasi

MENGKHAWATIRKAN: Bangunan tua di simpang lima Ampenan yang roboh akibat gempa Agustus lalu belum diperbaiki hingga kemarin (6/12).

MATARAM-Beberapa bangunan di Kota Tua Ampenan harus segera direnovasi. Karena, sangat membahayakan jiwa siapapun yang berada di sekitar lokasi itu.

Kemarin misalnya. Ketika gempa kembali menyapa Kota Mataram dengan kekuatan 5,7 skala richter, sejumlah warga yang berjualan dan membuka usaha di sekitar bangunan tua di jalan Niaga II Ampenan berhamburan. Mereka berlari mencari tempat aman mengantisipasi bangunan tua yang bisa roboh sewaktu-waktu.

“Saya diam, tapi orang memanggil. Pak Bur lari… Pak Bur lari,” kata Burhan yang membuka usaha jahit sepatu di depan bangunan tua di Jalan Niaga II Ampenan, kemarin.

Pantauan Koran ini, para warga di sekitar Kota Tua Ampenan, terutama simpang lima panik. Gempa dengan kekuatan 5,7 skala richter yang terjadi sekitar pukul 09.00 Wita membuat warga berhamburan. Mereka mencari tempat aman guna menghindari bangunan runtuh.

Salah satu bangunan Kota Tua yang sempat roboh pada gempa Agustus lalu, tidak mengalami perubahan. Tiang-tiang bambu masih menjadi penyangga bangunan.

Burhan mengaku tidak terlalu panik dengan gempa kekuatan 5,7 skala richter kemarin. Bangunan tua tempatnya membuka usaha retak. Kelihatan bata-bata. Namun, Bur sapaan akrabnya, percaya bangunan tua tidak akan roboh.

“Ini kan temboknya tebal, tidak pakai satu bata, tapi berlapis,” terang pria yang tinggal di Sukaraja Ampenan ini.

Namun, katanya, rasa khawatir tetap ada. Ketika gempa terjadi, ia hanya berjalan untuk mencari tempat aman guna menghindari bangunan yang roboh.

Pada saat gempa Burhan mengaku hanya mengingat rumahnya. Karena itu, ia terpaksa meninggalkan orang yang waktu itu ingin menjahit sepatunya.

“Saya pulang guna memastikan keadaan rumah. Waktu itu anak lagi sekolah,” tuturnya.

Warga lainnya, Herman mengaku tidak terlalu panik saat gempa. Ia tidak takut sama sekali akan runtuhnya bangunan tua. “Keliatan mana bangunan tua yang kokoh dan tidak,” ujarnya.

Lebih jauh dijelaskan, Ampenan, khususnya di tempat-tempat berdirinya bangunan tua tidak seperti dulu. Sekarang ia melihat Ampenan sepi, tidak seperti tahun sebelumnya yang ramai akan hiburan. “Dulu ada bioskop, terminal di sini,” jelasnya.

Menurutnya, bangunan-bangunan tua di Ampenan ini masih kokoh. Karena temboknya tidak hanya menggunakan satu bata, namun sampai dua dan tiga bata. Jadi kata dia, untuk roboh itu akan sulit meski umurnya sudah tua. “Kalau yang roboh atau retak tidak pernah merenovasi,” ujarnya.

Sebagian besar bangunan tua di Ampenan ini masih kokoh. Karena pemiliknya merenovasi. Beda dengan yang tidak pernah dirawat. Retak. Belum lagi temboknya terkelupas. “Kalau tidak terurus akan keliatan batanya,” terangnya.

Banyaknya bangunan tua di Ampenan yang tidak terurus dan sangat membahayakan. Namun, Pemkot Mataram tidak bisa berbuat banyak. Pasalnya, bangunan ini milik pribadi. Belum lagi rumah ini juga jarang ditempati pemlikinya.

“Kita jarang ketemu pemiliknya,” ucap Camat Ampenan Zarkasyi, kemarin.

Zarkasyi pun tak menampik bangunan tua di Ampenan cukup mengkhawatirkan, terutama bangunan yang tidak ditempati pemiliknya. “Ini sangat membahayakan bagi pengguna jalan,” terangnya.

Ampenan, khususnya tempat berdiri bangunan tua akan menjadi salah satu destinasi wisata Kota Mataram. Namun jika tidak dibarengi dengan perawatan, akan sangat membahayakan. Terutama pada saat gempa seperti sekarang.

Sebut saja bangunan di simpang lima Ampenan. Sampai sekarang masih terlihat menganga akibat diguncang gempa. Kondisi ini tentu akan membuat psikologis pengguna jalan terganggu. “Sampai sekarang saya belum bertemu pemiliknya. Kami akan minta pemilik untuk merehab bangunannya,” tutupnya. (jay/r5)

Berita Lainnya

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Tolong, Jangan Masuk Angin!

Redaksi LombokPost

Volume Monumen Tak Sesuai Kontrak, Rekanan Didenda Rp 1,2 Juta Perhari

Redaksi LombokPost

Baginya, yang Penting Jangan Mengemis!

Redaksi LombokPost

Ibu Kota kok Kotor?

Redaksi LombokPost