Lombok Post
Headline Metropolis

Gempa Lagi, Lombok Belum Stabil

ANTISIPASI BANJIR: Salah seorang warga Lingkungan Pengempel Indah, Kecamatan Sandubaya mengangkut batu-bata runtuhan bangunan pascagempa, kemarin (12/11).

MATARAM-Sesar Naik Flores yang berada di sekitar Lombok dan Sumbawa kemarin (6/12) menggeliat. Hal ini menyebabkan Pulau Lombok kembali diguncang gempa bermagnitudo 5,3. Semenjak diguncang gempa besar beruntun mulai akhir Juli 2018 lalu, Pulau Lombok dipastikan belum stabil. Diperkirakan gempa susulan masih akan terjadi hingga Januari 2019.

                Kepala Stasiun Geofisika Mataram Agus Riyanto kepada Lombok Post memastikan, gempa kemarin adalah gempa susulan dari rangkaian gempa besar terakhir pada 19 Agustus 2018 lalu.

                “Ada kalanya kekuatan gempa bisa terasa cukup besar. Tetapi kekuatannya tetap berada di bawah gempa utama 19 Agustus,” kata Agus. Saat itu gempa bermagnitudo 6.9 mengguncang Lombok pada pukul 22:56 WITA.

Agus menegaskan, Sesar Naik Flores memang hingga kini belum stabil. Dalam proses menuju stabil tersebut, terjadi gempa-gempa susulan. BMKG memprediksi, butuh waktu setidaknya enam bulan bagi Sesar Naik Flores ini untuk stabil. Dengan sejumlah gempa yang terjadi semenjak akhir Juli, maka BMKG memprediksi, kondisi sesar ini akan mulai stabil pada Januari 2019.

“Kita berdoa semoga mau mendekati Januari semuanya bisa stabil,” ucap Agus.

Dia mengatakan, kendati magnitudonya sangat besar, rangkaian gempa yang terjadi kemarin masih bisa dikatakan normal. Tidak ada fenomena apa-apa yang mengiringinya. Catatan BMKG, hingga kemarin, total telah ada 130 gempa yang dirasakan sejak gempa besar pertama terjadi 29 Juli dengan magnitudo 6,4.

Karena belum stabil, BMKG juga mengimbau masyarakat terus meningkatkan kewaspadaan. BMKG pun kata dia hanya bisa memprediksi. Bukan memastikan secara rill kapan gempa terjadi.

                Gempa kemarin adalah gempa dangkal. Semula, hasil analisis BMKG gempa bermagnitudo 5,7. Namun,  selang beberapa saat, dimutakhirkan dengan magnitudo 5,3. Episenter gempabumi terletak pada koordinat 8,5 LS dan 116,06 BT. Lokasi gempa berada di darat, pada jarak 10 km arah barat laut Kota Mataram atau di Lombok Utara dengan kedalaman 10 km.

Karena bersumber didarat dan dangkal, guncangan gempa terasa sangat besar. Di Lombok Utara, guncangannya terasa hingga VI MMI. Guncangan pada skala ini bisa menyebabkan kerusakan ringan. Sementara di Kota Mataram dan Lombok Barat, guncangan dirasakan hingga V MMI. Skala guncangan yang menyebabkan semua penduduk merasakan guncangan gempa. Bahkan bisa membuat gerabah pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang dan barang besar tampak bergoyang.

Korban Luka

Sementara itu, gempa kemarin menimbulkan korban luka-luka. Di Lombok Utara, data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) Lombok Utara menyebutkan hingga tadi malam setidaknya ada lima warga yang menjadi korban gempa. Mereka semuanya mengalami luka-luka.

Dua warga mendapat perawatan di RSUD Tanjung dan tiga lainnya dirawat di Puskesmas Tanjung. Kepala BPBD KLU Iwan Maret Asmara menuturkan, korban di RSUD adalah Mahyudin. Dia merupakan salah satu pekerja asal Lombok Barat. Satu lagi adalah Inaq Kersih, ibu rumah tangga asal Desa Tegal Maja.

Mahyudin kata dia mengalami luka memar dibagian pinggul akibat terjatuh saat gempa terjadi. Sementara Inaq Kersih didiagnosa patah tulang kaki kanan.

Sementara tiga warga lainnya dirawat di Puskesmas Tanjung. Mereka adalah Ikhsan, asal Dusun Beriri Genteng Desa Tanjung. Ikhsan mengalami luka robek pergelangan kaki  akibat terjatuh dari sepeda motor saat gempa berlangsung. Lalu Muhimin asal Dusun Sigar Penjalin Desa Tanjung. Mengalami luka robek di kaki terkena keramik. Dan terakhir M Irfan  asal dusun Riau Desa Tanjungmengalami juga luka robek di kaki.

Sahabuddin yang merupakan anak Inaq Kersih menuturkan, saat gempa terjadi ibunya sedang di kamar mandi. Kondisi kesehatan ibunya sedang menurun. Hal itu membuat larinya tidak begitu baik dan akhirnya terjatuh. Selain masalah di tulang, ada benjolan di kepala dan bengkak di kaki. Sementara kondisi rumah orang tuanya sendiri utuh. Tidak ada kerusakan.

“Tapi kami sebetulnya belum pulih dari ketakutan. Kami masih trauma sejak gempa-gempa besar sebelumnya,” katanya.

Selain di Lombok Utara, korban luka juga ada di Lombok Barat. Seorang siswa SMKN 2 Gerung terluka di bagian kepala setelah tertimpa genteng gedung sekolahnya.

“Tadi saat sedang belajar, siswa langsung berlari keluar karena gempanya cukup besar. Saat itulah ada yang tertimpa genteng,” tutur Samsudin guru di SMKN 2 Gerung. Gempa memang membuat gedung sekolah bergetar. Beberapa genteng pun berjatuhan dan menimpa siswa.

Akibat tertimpa genteng bagian kepala Ni Kadek Ayu Lasmi Dewi, seorang siswi kelas X jurusan Desain Grafis berdarah. Sehingga langsung dirawat pihak sekolah di ruang kesehatan. Baru kemudian dibawa ke Puskesmas terdekat untuk diobati.

”Alhamdulillah sudah dirawat dan dipulangkan. Semua siswa juga sudah kami pulangkan,” lanjutnya.

Di sekolah yang sama, yang mengalami luka tak hanya Ni Kadek Lasmini. Febrianti, siswa lain juga tertimpa genteng yang mengakibatkan cedera di bagian tangannya. Sementara sejumlah siswa lainnya juga trauma.

Korban luka juga ada di Kecamatan Lingsar. Kasubbag Humas Polres Mataram AKP Hari Priono mengonfirmasi beberapa warga yang luka tersebut. Seperti Amaq Sirah, warga Desa Karang Bayan, Apni warga Desa Sigerongan, dan Umarh waga Desa Gegerung. Mereka mengalami kecelakaan saat sedang berusaha menyelamatkan diri. Ketiganya kini sedang dirawat di Puskesmas Sigerongan.

Sementara itu Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Lobar Hartono Ahmad mengaku sampai tadi malam, pihaknya tidak ada menerima laporan adanya korban jiwa. Termasuk juga kerusakan rumah atau bagungan gedung.

“Mudah-mudahan semua baik-baik saja. Kami masih menunggu informasi dari semua kecamatan,” jelas dia.

Pihaknya hanya mengimbau kepada masyarakat untuk tidak panik secara berlebihan menyikapi gempa tersebut. Karena itu juga bisa berisiko memperparah dampak yang ditimbulkan.

“Walaupun gempa agak besar, jangan terlalu panik. Lari pelan-pelan sambil menyelamatkan diri. Karena ini juga bisa berisiko terhadap keselamatan kita sendiri,” imbaunya.

Ujian Semester Berantakan

Di sisi lain, gempa juga menyebabkan jadwal ujian semester di sejumlah sekolah pun berantakan. Di Lombok Utara, sejumlah sekolah harus membatalkan jadwal ujian semester yang berlangsung kemarin. Siswa banyak yang menangis saat gempa terjadi. Terutama siswa sekolah dasar. Karena itu, sekolah memutuskan langsung memulangkan para siswa. Sementara orang tua juga langsung menjemput anak-anak mereka di sekolah.

Mega, Guru di SDN 2 Malaka, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara mengungkapkan, saat gempa terjadi, siswa berhamburan keluar sebagai upaya menghindari bangunan yang masih berdiri. Sesaat setelah gempa terjadi pun siswa pun dipulangkan oleh pihak sekolah.

Kondisi ini tidak hanya terlihat di SDN 2 Malaka. Hampir semua sekolah di Lombok Utara memulangkan anak didiknya. Proses belajar mengajar pun hanya berlangsung beberapa sebentar saja.

Mega mengungkapkan, kondisi gedung sekolah memang masih baik-baik saja. Tidak ada pula siswa yang luka-luka. Hanya saja, kegiatan belajar mengajar terpaksa dihentikan. Karena anak-anak sudah tak tenang. Orang tua mereka pun begitu.

Pantauan Koran ini, di sepanjang jalan utama Lombok Utara, sejumlah warga memang berhamburan mengevakuasi diri ke pinggir jalan dan halaman yang lapang. Anto, salah seorang warga Pemenang yang tengah menjemput anaknya di sekolah mengaku jika jalan di Kecamatan Pemenang sempat macet karena banyaknya warga yang berhamburan mencari anak-anak mereka.

Kepala Bidang Dikdas Dinas Dikpora KLU Edy Suwarno memastikan memang siswa dipulangkan. Edy mengatakan, saat gempa terjadi, para siswa tengah mengikuti ujian semester. Hal ini otomatis membuat ujian tersebut dihentikan alias ditunda.

“Banyak orang tua juga yang datang jemput paksa anaknya pascagempa itu,” katanya.

Namun begitu, ada beberapa sekolah yang masih melanjutkan ujian. Sementara sebagian sekolah lainnya memilih menggelar ujian semester pada Senin pekan depan.

Di Mataram, sebagian besar siswa sekolah terpaksa menunda ujian semester. Gempa memang membuat siswa yang tengah serius mengerjakan soal ulangan tiba-tiba berhamburan keluar.

Di SMPN 6 Mataram misalnya terlihat kepanikan memang luar biasa. Gedung sekolah ini memang terdiri dari bangunan tiga lantai. “Tapi kita lanjutkan ujian di bawah,” kata Kepala SMPN 6 Mataram Azizudin.

Gempa kemarin pun membuat sejumlah bagian gedung sekolah kembali retak. Untuk diketahui, sekolah yang berlokasi di Jalan Udayana Mataram ini baru saja selesai direhab setelah rusak akibat gempa Agustus lalu. Gedung ini mengalami rusak berat,  sehingga mendapat bantuan dari Kementerian PUPR untuk rehabilitasi. Namun kini sekolah ini kembali diguncang gempa yang membuat sejumlah dinding retak.

“Gipsum di lantai tiga retak semua,” sebutnya.

Meski demikian kata Aziz, ujian semester terakhir dengan mata pelajaran (mapel) IPA bisa diselesaikan siswa. Mereka menuntaskan ujian di bawah dengan cara duduk bersila.

“Alhamdulillah ujian untuk kelas bisa IX selesai,” ujarnya.

Sementara untuk kelas VII dan VIII yang masuk siang ujian juga dilakukan di lantai dasar dengan duduk bersila. Namun kata dia,  untuk kelas VII dan VIII tidak semua siswa masuk karena trauma. Namun demikian ia tetap memberikan waktu untuk ujian susulan.

“Banyak yang tidak masuk karena trauma,” terangnya.

Diungkapkan, ujian tidak mesti dilakukan di lantai dasar, namun juga bisa dilaksanakan di lantai dua atau pun tiga. Tergantung pengawas, jika berani melakukan ujian di lantai dua maka akan dilakukan di lantai dua.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Mataram HL Mohammad Sidik mengatakan, sebagian besar ujian penilaian akhir semester ganjil diselesaikan pihak sekolah meski terjadi gempa. Sebelumnya, ia mendapat laporan dari beberapa sekolah siswanya berhamburan saat gempa. Meski begitu pihaknya meminta sekolah siap agar menyelesaikan ujian.

“Kalau tidak bisa diselesaikan ya ditunda,” sebutnya.

Sidik juga tidak ingin sekolah mengambil risiko. Jangan sampai hal yang tidak diinginkan terjadi karena adanya gempa. “Kita tidak bisa memaksa sekolah melanjutkan ujian,” imbuhnya.

Sekolah yang rawan gempa seperti SMPN 6 Mataram, SMPN 1 Mataram, dan sekolah-sekolah dengan gedung bertingkat lainnya sebagian besar telah menyelesaikan ujian akhir. Hanya saja kata dia, tidak semua siswa masuk mengikuti ujian.

Sementara itu salah satu siswi SMPN 6 Mataram Nabila terpaksa mengikuti ujian di lantai dasar dengan duduk bersila. Ujian ini dilakukan karena permintaan guru untuk menghindari akan adanya gempa susulan.

“Kita diminta ujian  di lantai bawah karena takut ada gempa susulan,” sebut siswi kelas VII ini.

Kondisi lebih baik terjadi di SMP 14 Mataram. Kepala SMPN 14 Mataram M Nazuhi mengatakan siswa kelas IX memang sempat terganggu. Namun, sedikit. Ujian pun bisa dilanjutkan. ”Tersisa waktu 20 menit sesuai jadwal saat terjadi gempa,” katanya.

Setelah itu, ulangan semester untuk kelas VIII tetap berjalan. Ini karena semua siswa hampir masuk untuk ulangan semester. ”Ada instruksi  ulangan semester kelas VII dan kelas VIII kalau siswanya tidak masuk bisa dijadwalkan ulang. Alhamdulillah siswa di sini masuk semua, dan ulangan berjalan normal,” terangnya.

Pascagempa ini kondisi sekolah dan bangunannya tidak ada masalah dan tidak mengganggu proses selama ulangan. Ini karena untuk ulangan semester kali ini, sekolah menggunakan lokal kelas di lantai satu. Semua ruangan kelas lantai dua memang sudah tidak digunakan pascagempa beberapa bulan lalu.

Di SDN 1 Labuapi, Lombok Barat, guru sebetulnya berkeinginan tidak memulangkan siswa dan melanjutkan proses ujian. Namun, orang tua yang bersikeras anaknya dipulangkan dari sekolah. Sehingga siswa pun kemudian dipulangkan.

Kepala SDN 1 Labuapi Sabariah mengungkapkan, saat gempa terjadi, baik siswa maupun guru berhamburan ke luar ruangan. Mereka bergegas meninggalkan ruang kelas meski saat itu masih sedang berlangsung ulangan umum semester. Para guru dan siswa di SDN 1 Labuapi diungkapkan Sabariah cukup tenang menyikapi gempa yang terjadi. Karena pihak sekolah pernah mendapatkan sosialisasi mitigasi menghadapi gempa.

“Cuma yang panik itu orang tua. Mereka datang menjemput anaknya sambil ada yang nangis,” katanya. Makanya anak-anak segera kita pulangkan lebih awal dengan ulangan dilanjutkan besok (hari ini, Red).

Meski gempa yang dirasakan cukup besar, namun tidak ada kerusakan pada gedung sekolah. Hanya beberapa bagian plafon ruang kelas di lantai dua mengalami sedikit kerusakan. (cr-yun/fer/ton/jay/nur/r8)

Berita Lainnya

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Masih Banyak Warga Loteng Buang Air Besar Sembarangan

Redaksi LombokPost

Pemkab dan ITDC Raih Penghargaan ISTA

Redaksi LombokPost

Ahli: Penangkapan Muhir Bukan OTT

Redaksi LombokPost

Pola Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf Serupa

Redaksi LombokPost