Lombok Post
Metropolis

Bukan Tidak Tahu, tapi Malas Patuh!

GAK TERTIB: Beberapa pengendara melintas di atas jalan trotoar jembatan Jangkuk, Ampenan beberapa waktu lalu.

MATARAM-Aksi tidak terpuji diperlihatkan sejumlah pengendara yang melintas di atas Jembatan Jangkuk Ampenan. Beberapa pengendara naik ke atas trotoar jembatan lalu dengan entengnya melintas berlawanan arah.

Prilaku ini tidak hanya mengancam keselamatan mereka sendiri. Tetapi membahayakan keselamatan pejalan kaki yang punya hak atas trotoar itu.

“Gak tau aturan!” gerutu Ismail salah satu warga yang tengah melintas di atas Jembatan melalui torotar.

Ia terpaksa harus menyingkir dan masuk ke badan jalan. Sebab beberapa pengendara itu ngotot tidak mau turun dari trotoar. Mereka bahkan dengan sangat percaya diri menebar senyum meminta agar para pejalan kaki yang minggir.

“Bukan sekali dua kali, tapi sudah berkali-kali,” sesalnya.

Ia menduga para pengendara itu bisa ngeloyor dengan santainya lewat di sana karena malas berputar. Dikarenakan jalan di sana ada dua sisi. Dulu ada sisi pembatas jalan yang hancur dan rata dengan jalan.

Di bagian itu mereka kerap melompat atau menerobos ke sisi badan jalan lain. Tapi belakangan setelah beberapa bunga ditaruh untuk membatasi jalan, mereka kesulitan melakukan itu lagi.

“Masalahnya yang melanggar tidak hanya warga, tapi motor roda tiga milik pemerintah juga ikut-ikutan melanggar,” imbuhnya.

Kepala Bidang Keselamatan dan Pengendalian Lalu Lintas Mahfuddin Noor sebenarnya berulang kali mengatakan kesadaran beberapa masyarakat pada ketertiban berlalu lintas di perkotaan masih rendah. Padahal itu sangat penting demi keselamatan mereka dan pengendara lain.

“Kesadaran yang kurang dalam berlalu lintas,” kata Fudin.

Bukan karena mereka tidak tahu aturan. Tetapi karena malas mengikuti aturan. Harus ditindak dan dijaga dulu baru mau patuh. Saat pengawasan tidak ada mereka kembali ramai-ramai melanggar.

“Sementara jumlah anggota kita tidak mungkin untuk mengawasi semua titik yang ada di kota,” ujarnya.

Anggota lapangannya lebih banyak tersebar di objek-objek kemacetan yang selama ini kerap dikeluhkan masyarakat. Seperti di jalan Langko, Jalan Udayana, beberapa jalan yang ramai lain, hingga pasar-pasar tradisional.

Selebihnya tentu masyarakat harus belajar untuk sadar dan taat pada aturan lalu lintas. Tidak boleh melanggar dan mengambil hak-hak orang lain.

“Kesadaran ini yang terus ingin kita sosialisasikan,” tegasnya. (zad/r7)

Berita Lainnya

Gerindra Belum Tentukan Siapa Wakil Ketua DPRD

Redaksi LombokPost

Alhamdulillah, Semua Karyawan Sudah Dibayarkan THR

Redaksi LombokPost

Ketika Terminal Mandalika Menjadi Ladang Rezeki Pedagang Asongan

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Dikadali, BPBD Terima Laporan Bahan Rumah Korban Gempa Tak Sesuai Spek

Kedubes Prancis Kunjungi Poltekpar Lombok

Dapil Satu-Dua Milik Kepala Garuda

320 Jamaah Belum Lunasi BPIH

Korban Gempa Tarawih di Masjid Darurat

Caleg Gagal Malas Hadiri Rapat Paripurna