Lombok Post
Headline Kriminal Lapsus

Jalan Terjal Memburu Para Bandar

HASIL OPERASI : Ditresnarkoba Polda NTB menggelar jumpa pers hasil tangkapan selama operasi antik di Polda NTB, belum lama ini.

Geliat peredaran narkoba di NTB cenderung meningkat. Ini terlihat dari jumlah penindakan jajaran kepolisian terhadap bisnis barang haram tersebut selama tiga tahun terakhir. Sayangnya, penangkapan pelaku hanya didominasi pengedar, kurir, dan penggunanya saja.

== == == =

Tingginya permintaan narkoba di wilayah NTB tak bisa dinafikan. Aparat penegak hukum juga mengimbanginya dengan penindakan terhadap orang-orang yang terlibat dalam bisnis barang haram tersebut.

Data Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda NTB menjadi buktinya. Dimulai dari 2016. Terdapat 464 pelaku yang berhasil tertangkap. Dari jumlah tersebut, enam orang merupakan  ASN/PNS, dua pelajar, 12 mahasiswa, dan 214 orang dari golongan wiraswasta.

Satu tahun berselang, di 2017, jumlah pelaku melonjak menjadi 664 orang. Pelaku terbanyak berasal dari pekerja swasta 419 orang dan wiraswasta 146 orang. Di tahun ini, jumlah pelajar yang tertangkap ikut meningkat, yakni sebanyak tujuh orang, sementara mahasiswa sebanyak 10 orang.

Selanjutnya, hingga Agustus 2018, Polda dan jajarannya telah menyamai angka penindakan tahun lalu, yakni 668 orang. Angka ini kemudian bertambah sekitar 750 orang tersangka pada Desember tahun ini.

Naiknya angka penindakan kejahatan narkotika tak terlepas dari kerja keras aparat penegak hukum. Tetapi, di sisi lain membuktikan bahwa banyak orang yang dengan mudah bisa mendapatkan narkoba di NTB.

Tanpa mengesampingkan kerja-kerja kepolisian, penangkapan terhadap pelaku narkotika tak banyak menyasar bandar-bandar besar. Menangkap bandar untuk kasus narkoba memang tidak semudah penangkapan terhadap bandar judi togel.

Polisi kerap menemui jalan buntu. Kaki tangan bandar yang tertangkap memilih untuk bungkam. Rela masuk penjara seorang diri dan enggan membeberkan jaringan di atasnya.

Hampir di seluruh daerah di Indonesia, tak terkecuali di NTB, peredaran narkoba memakai jaringan terputus. Bandar besar dengan jaringan di bawahnya, seperti pengedar dan kurir, tak saling mengenal.

Pola-pola seperti ini diakui Budi (bukan nama sebenarnya, Red), pengedar narkoba yang kini menginap di penjara. Budi mengatakan, barang haram diperolehnya dari seorang bandar. Untuk transaksi narkoba ini, Budi dan bandar tidak pernah satu kalipun bertemu.

”Barang (narkoba, Red) kadang ditaruh di satu tempat terus saya ambil. Atau, kadang diantar kurir dan kita ketemu di satu tempat,” aku Budi.

Budi mengaku tidak mengetahui di mana tepatnya lokasi bandar yang menyuplai narkotika jenis sabu di bisnisnya haramnya. Yang dia pahami, setiap barang habis, ada nomor-nomor handphone tertentu yang harus dikontaknya.

”Dulu sebelum ditangkap, ya, komunikasi lewat handphone saja,” ujar dia.

Dirresnarkoba Polda NTB Kombes Pol Yus Fadillah mengakui tak mudah menangkap bandar narkoba. Terutama untuk bandar dengan skala barang bukti yang cukup besar.

”Kenapa bandar tidak tertangkap? Karena pelaku ini pakai sistem putus. Berhenti di mereka (kurir dan pengedar). Mereka rela masuk penjara dengan tidak membocorkan (bandar) di atasnya,” kata Yus.

Pengungkapan kejahatan narkoba, kata Yus, tidak semudah kejahatan kriminal umum. Polisi harus mendapatkan bukti kuat saat penangkapan.

Karena itu, meski mengantongi sejumlah nama bandar narkoba di NTB, seperti yang diklaim Yus, jajarannya tidak bisa langsung menangkap mereka. Kepolisian membutuhkan bukti kuat, semisal adanya barang haram berupa narkoba yang dimiliki maupun dikuasai pelaku.

”Tahu kita (di mana bandar), tapi kalau tidak ada barang bukti, kan tidak bisa (menangkap),” ujarnya.

Kerja bandar narkoba memang mengandalkan jaringan di bawahnya, seperti kurir. Yus membagi macam kurir menjadi empat kategori. Yakni, kurir professional, amatir, korban, dan jaringan.

Untuk kurir professional dan jaringan memiliki kesamaan. Mereka sama-sama tahu bahwa barang yang hendak diantar adalah narkoba. ”Kalau korban biasanya tidak tahu kalau itu narkoba. Untuk yang amatir, itu lebih kepada mengantar karena keterpaksaan,” terang Yus.

Yus tak menampik masih banyaknya narkoba di NTB. Seperti hukum ekonomi, narkoba akan tetap ada selama masih banyak permintaan. ”Kita sudah meminimalisasi, dengan penangkapan-penangkapan itu. Hanya saja, pengguna masih banyak, permintaan (banyak),” terang dia.

”Kalau ada barang (narkoba) masuk ke NTB, itu berarti ada yang pesan,” sambungnya.

Selain permintaan pengguna, pintu masuk seperti pelabuhan, bandara, hingga terminal menjadi faktor lain maraknya narkoba di NTB. Yus menyebut, sudah banyak pengungkapan penyelundupan narkotika di pintu masuk resmi ke NTB.

Yang tak kalah banyak adalah melalui pelabuhan-pelabuhan tikus. ”Kemungkinan ada. Tapi, titik-titiknya tidak bisa kami sampaikan karena terkait dengan penindakan,” kata Yus.

Terpisah, Kabid Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNN NTB AKBP Cheppy Ahmad Hidayat mengatakan, daya sebar narkoba tidak mengenal batasan. Tidak saja terbatas di kalangan atau golongan tertentu.

”Masuk semua. Jangankan sekolah, di pesantren-pesantren juga ada,” kata dia.

Dari data BNNP, berdasarkan survei 2017, tingkat prevalensi pengguna narkoba di NTB sebanyak 1,8 persen dari penduduk usia 10 tahun hingga 59 tahun yang berjumlah sekitar 3,5 juta orang.

”Itu artinya, untuk pengguna saja, ada sekitar 63.918 orang di 2017. Tahun ini masih berjalan, tapi kita perkirakan ada peningkatan walau tidak signifikan,” beber Cheppy.

(wahidi akbar sirinawa/r2)

Berita Lainnya

Tak Sungkan Korupsi Rumah Tuhan

Redaksi LombokPost

Komisioner Baru KPU NTB Dilantik Hari Ini

Redaksi LombokPost

Dorfin Felix, Bule Penyelundup Narkoba Kabur dari Polda NTB

Redaksi LombokPost

Izin PT Temada Tak Bermasalah

Redaksi LombokPost

Polisi Gerebek Rumah Bang Jai

Redaksi LombokPost

Sindir Jokowi, Imran Ditangkap Polisi

Redaksi LombokPost

Duit Rehab Masjid Disunat

Redaksi LombokPost

Tiga Siswa Kompak Curi Motor

Redaksi LombokPost

Penyidik Segera Limpahkan Azhar ke JPU

Redaksi LombokPost