Lombok Post
Headline Metropolis

Mohan Bikin Kejutan di Mataram Jazz & World Music Festival 2018

NALURI MUSIK: H Mohan Roliskana memperlihatkan aksi panggungnya saat memainkan gitar melodi di acara Sound of Humanity Mataram Jazz & World Music Festival 2018.di Taman Sangkareang, Kota Mataram, Sabtu (8/12).

MATARAM-Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana sempat bertutur soal kegalauannya bermain musik di tengah posisinya sebagai wakil kepala daerah. Namun insting musik emang gak bisa dibohongi. Mohan rupanya diam-diam menyimpan rindu aroma panggung dan suara distorsi dari gitar melodi.

Karena itu saat didaulat mengisi momen kejutan di acara Sound of Humanity Mataram Jazz & World Music Festival 2018, Mohan tak butuh waktu lama menyanggupinya. Konsep kejutan yang sudah lama ia berupaya hindari.

“Saya hanya berpikir harus menjaga sikap setelah jadi kepala daerah,” kata Mohan suatu ketika bercerita pada Lombok Post.

Karena itu Mohan memutuskan keluar dari Amtenar. Atas dasar itu pula Mohan berusaha mengendalikan hentakan adrenalinnya setiap kali ada bunyi musik kaya distorsi di atas panggung. Tapi Sabtu  (9/12) sore menjadi hari yang lain bagi Mohan.

Ia duduk dengan ekspresi menyala. Di pangkuannya gitar elektrik warna merah. Tatapannya tajam pada Ryan dan Kang Ary Juliant yang tengah menyanyikan lagu Somebody to Love milik band legendaris Queen. Insting musiknya terlihat membakar Mohan begitu detik-detik menuju interlude lagu.

Dan gemuruh tepuk tangan pecah mengiringi aksi Mohan bermain melodi. Cabikan-cabikan senarnya terdengar begitu hidup dan menyatu dengan musik. “Huoo! Surprise… surprise!” puji banyak orang terdengar riuh rendah.

Aksi Mohan memang tidak panjang. Hanya sekitar 25 detik dan itu pun di bawah panggung. Ia seperti tengah mengobati kerinduannya pada musik. Seolah sinyal juga ia tetaplah Mohan yang dulu. Tapi tentu tanpa jingkrak-jingkak.

Aksinya terlihat elegan. Walau ia harus memaniskan aksinya dengan hentakan gitar di ujung petikan. Demi distorsi gitar yang lebih berirama.

“Ini akan menjadi acara tahunan,” janji Mohan disambut tepuk tangan semua yang hadir.

Perhelatan Jazz & World Music Festival yang ke-3 dihelat di Taman Sangkareang Kota Mataram ini berhasil menyedot banyak penonton. Sebagian duduk di kursi, sebagian duduk melantai di aspal. Penonton duduk di trotoar, berdiri mengambil gambar, dan ikut menyanyi. Para petugas kebersihan yang bertugas sore ikut menimati sajian sore itu.

Pentas pembuka dibuka grup Jadeq. Dilanjutkan dengan Don’t Tell Mom. Band yang kedua ini diisi personel anak-anak SMP di Kota Mataram.

“Ini kegiatan positif bagi anak-anak. Kegiatan ekstrakurikuler mereka di bidang musik,” imbuhnya.

Penampilan ketiga Kambing Session One and Flower. Band ini membawakan lagu-lagu lawas, salah satunya lagu dari Queen.

Mohan menilai, kegiatan-kegiatan positif seperti ini harus terus didukung. Pemerintah Kota Mataram terbuka menerima usulan dari berbagai pihak. Apalagi punya motivasi ingin sama-sama memajukan Kota Mataram. Sementara perhelatan ini ia harapkan bisa jadi simbol bangkitnya warga Kota Mataram dan NTB setelah bencana gempa bumi.

“Panggung di belakang ini pernah menjadi tempat pengungsian,” kenangnya.

Kenangan penanganan gempa begitu membekas di benak Mohan. Karena itu ia mencoba berbagai cara. Salah satnya dengan melaunching tagar Mataram Move On. Dengan harapan masyarakat bisa kembali ke aktivitas masing-masing. Perekonomian kembali bergairah, dan anak-anak muda kreatif kembali menuangkan karya mereka.

“Perhelatan jazz ini menunjukkan kita sudah move on,” tegasnya.

Usai pembukaan di sore hari, panggung kembali diisi pada malam hari. Dibuka dengan penampilan Sura Dipa yang memainkan beberapa komposisi lagu tradisional Lombok. Pentas kedua dilanjutkan oleh Neo Decker. Pentas ketiga Jari Etnika mengejutkan penonton.

Band dari Praya Lombok Tengah ini menggabungkan musik gendang beleq, gending, dan suling. Perpaduan musik etnik dan jazz terdengar baru di telinga penonton. Sejak komposisi pertama hingga menutup penampilan mereka, antusias penonton terlihat ketika mereka meminta Jari Etnika kembali bermain.

“Tahun depan mereka akan konser ke Eropa,” kata Imam Sofian, Ketua Panitia Jazz & World Music Festival.

Penampilan hari pertama ditutup oleh Cerita Fatmawati. Band dari Jakarta ini menggubah kisah Fatmawati dan Presiden RI Ir Soekarno menjadi lagu. Bait lagu itu bercerita dari awal perkenalan, membina rumah tangga, dan biduk rumah tangganya. Penonton seperti mendengar dongeng yang diiringi musik jazz.

“Wah asyik juga, sambil belajar sejarah ini,” komentar Ripaal, mahasiswa Unram yang hadir di Taman Sangkareang sejak awal pementasan. (zad/jay/r7)

Berita Lainnya

Kinerja Rasio Keuangan Bank NTB Sangat Stabil

Redaksi LombokPost

Malaysia Tak Larang Warganya Berwisata ke Lombok

Redaksi LombokPost

Kapolda Atensi Khusus Evakuasi WNA

Redaksi LombokPost

Korban Meninggal Diberi Santunan

Redaksi LombokPost

Demi Meratus, Ribuan Orang di Kalsel Bersama-sama Menulis Surat ke Presiden

Redaksi LombokPost

Masrun: Jangan Sebar Fitnah!

Redaksi LombokPost

Ditilang Gara-Gara Jukir Nakal

Redaksi LombokPost

Cerita Trauma Warga Terusik Gempa di Sore yang Tenang

Redaksi LombokPost

Vaksin Dulu Hewan Peliharaan Biar Tetap Lucu

Redaksi LombokPost