Lombok Post
Praya

Penjualan Songket Sukarara Anjlok

Perajin Songket

PRAYA-Penjualan songket di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat Lombok Tengah, mulai lesu. Produksi melimpah  namun pembeli  berkurang. Penyebabnya, karena gempa.

“Biasanya per art shop, dikunjungi 200 orang tamu per hari,” kata kepala desa (Kades) Sukarara Timan pada Lombok Post, Sabtu (8/12) lalu.

Bus-bus, lanjut Timan biasanya terparkir rapi divhalaman art shop. Kemudian, para wisatawan berlomba-lomba memilih, memilah dan membeli hasil perajin Songket. Baik wisatawan nusantara, maupun wisatawan asing. “Sekarang sudah berkurang,” keluhnya.

Persoalan itu pun, membuat pihaknya diundang ke Jakarta, guna bertemu dengan jajaran Kementerian Pariwisata, Kementerian Kominfo dan Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi. Tujuannya, untuk membahas bagaimana pemerintah pusat, pemerintah provinsi, Pemkab dan pemerintah desa berkolaborasi.

Karena persoalan yang satu itu, diakui Timan tidak saja dirasakan perajin Songket di Desa Sukarara saja. Tapi, beberapa desa di Indonesia. “Semoga, ada jalan keluar terbaik,” harapnya.

Timan mengatakan, sembari menunggu solusi yang akan disiapkan pemerintah. Para perajin, berinisiatif membuka usaha secara online. Perajin pun dituntut mendalami dan memahami apa itu teknologi informasi. Agar bisnis online perajin sukses, pemerintah desa pun menyiapkan jaringan internet.

“Desa Sukarara merupakan, satu dari 62 desa wisata di daerah kita tercinta ini,” sambung Kepala Dinas Budpar Loteng HL Muhammad Putria, terpisah.

Cepat atau lambat, tekan Putria desa-desa wisata tersebut, akan dibanjiri wisatawan. Pemerintah pun terus melakukan promosi, baik melalui media, kegiatan-kegiatan tahunan, mendatangi sejumlah daerah di Indonesia hingga menceritakan dari mulut ke mulut. “Dari sisi jumlah wisatawan, memang turun,” ujarnya.

Tapi, pihaknya optimis di akhir tahun ini dan awal tahun depan, mulai bangkit lagi, kembali seperti semula, bahkan lebih meningkat dari sebelumnya. “Kalau di The Mandalika, bisa dikatakan tetap ramai,” tambah Deputy Project Direktor Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika H Adi Sujono.(dss/r2)

Berita Lainnya

Warga Ungga Ancam Segel Kantor Desa

Redaksi LombokPost

Mengunjungi Objek Wisata Jembatan Maiq Meres

Redaksi LombokPost

Loteng Tagih Dana Gempa, Rp 51,4 Miliar Belum Cair

Redaksi LombokPost

Jangan Lagi Menjadi TKI

Redaksi LombokPost

Sembilan PNS Loteng Dipecat

Redaksi LombokPost

Satu Desa Saja Disalurkan Dana Marbot

Redaksi LombokPost

Perangkat Desa Jadi Timses?

Redaksi LombokPost

Pemkab Tak Mampu Bayar Seluruh P3K

Redaksi LombokPost

226 Kepala Sekolah Dimutasi

Redaksi LombokPost