Lombok Post
Metropolis

Uang Nomor Dua, Paling Penting Lingkungan Bebas Sampah

KERJA KERAS: Maswan, pengangkut sampah istirahat sejenak usai mengangkut sampah warga di lingkungan-lingkungan Kecamatan Sandubaya, kemarin (9/12).

Sampah seakan menjadi teman bagi Maswan pengangkut sampah lingkungan. Tiap hari ia selalu bergelut dengan sampah. Saat musim hujan ia harus pontang panting mengangkut sampah karena cukup berat.

ALI ROJAI, Mataram

—————————–

GIGIH. Itulah yang terlihat dari sosok  Maswan. Di saat hari libur (kemarin) sebagian besar orang memanfaatkannya untuk pelesir bersama keluarga ke pantai atau tempat-tempat wisata. Namun ia harus berjibaku dengan sampah dan bau tidak sedap.

Hujan yang mengguyur Kota Mataram belakangan ini seakan menambah beban baginya. Gimana tidak, sampah yang biasanya ringan diangkut ke kendaraan roda tiga yang dikendarainya, kini dirasakan cukup berat. Kendati demikian ia tetap terima. Karena menurutnya, ini risiko bagian dari pekerjaan. “Apa yang kita alami di lapangan harus kita  terima,” kata Maswan pasrah.

Diusianya yang masih tergolong muda ia fokus bekerja. Kemarin ia mengangkut sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di SMPN 12 Mataram. Sampah organik dan anorganik yang dihasilkan siswa, guru, dan pegawai terkumpul di TPS itu cukup banyak. Sampah dari lembaga pendidikan yang dihasilkan dari beberapa hari ia angkut dalam waktu beberapa menit. Perlahan tapi pasti.  Separo demi separo sampah yang ada di TPS milik sekolah itu diangkut ke roda tiga. “Ini baru selesai keliling rumah warga, baru ke sini,” kata pria satu anak ini.

Jadwal mengangkut sampah ia jalani setiap hari. Setiap pagi, ia  keluar rumah untuk mengangkut sampah di rumah-rumah warga. Keliling dari rumah warga yang satu ke yang lain menjadi agenda rutin tiap harinya. Perjalanan mengangkut sampah dari rumah warga yang satu ke yang lain tidak selalu berjalan mulus. Karena ada saja warga yang pintu gerbangnya masih digebok ketika ia datang. “Kalau tidak digembok saya langsung mengambil sampah di bak sampah atau karung sampah milik warga,” sebutnya.

Mengangkut sampah dari rumah ke rumah ia lakoni secara ikhlas. Tidak mewajibkan orang harus membayar jasanya, namun yang terpenting bagaimana bisa menciptakan lingkungan bebas sampah, terutama di TPS. Menurutnya,  banyaknya sampah berserakan di TPS karena warga yang membuang di luar area TPS. Kesadaran warga masih rendah akan membuang sampah pada tempatnya. “Ini dari atas motor dia buang, coba turun masuk ke dalam TPS,” sindirnya.

Tak kenal waktu. Hari demi hari aktivitas mengangkut sampah ia jalani hanya untuk memenuhi kebutuhan dapur. Pantang merasa malu asalkan bisa membuat kompor menyala. Bau dan kotor seakan menjadi teman tiap hari.

Maswan pun cukup mengerti tentang perda membuang sampah. Sebagai pengangkut sampah lingkungan ia diminta untuk membuang sampah ke TPS dari pukul 18.00 Wita sampai pukul 08.00 Wita. Di satu sisi ia berkeliling  mengangkut sampah di rumah warga mulai pukul 08.00 Wita sampai pukul 12.00 Wita. Ketika gerobak roda tiga penuh, baru dibawa sampah ke TPS. “Paling tidak pukul 10.00 Wita baru full terisi,” sebutnya.

Belum lagi pengangkutan sore ia harus membawa sampah sampah ke TPS sekitar pukul 18.00 Wita. “Perda ini saya rasa tidak nyambung dengan jadwal pengangkutan sampah di lingkungan,” sebutnya.

Menurutnya, volume sampah di TPS terus meningkat bukan karena jadwal pembuangan sampah yang dilakukan pengangkut sampah lingkungan tidak terjadwal. Melainkan kontainer sampah yang harus terjadwal tiap hari untuk mengangkut sampah di TPS. “Kalau tiap hari saja dua kontainer datang angkut sampah di TPS saya rasa akan bersih,” sebutnya.

Namun nyatanya, kadang kontainer tidak selalu mengangkut sampah di TPS. Akibatnya, volume sampah di TPS terus bertambah. Belum lagi, pengangkut sampah lingkungan juga harus membuang sampah rumahan keluar dari area TPS karena tidak ada tempat. “Kita sebenarnya malu buang sampah di luar area TPS,” ucapnya.

Maswan pun kurang percaya jika volume sampah dihasilkan di Kota Mataram 400 ton tiap hari. Karena menurutnya, sampah yang dihasilkan Kota mataram lebih dari itu. Buktinya saja, di satu tempat ia mengangkut sampah seperti di SMPN 12 Mataram lebih dari satu ton dalam jangka dua hari. “Ini pun baru sekolah, belum rumah warga,” tutupnya. (*/r7)

Berita Lainnya

Kinerja Rasio Keuangan Bank NTB Sangat Stabil

Redaksi LombokPost

Malaysia Tak Larang Warganya Berwisata ke Lombok

Redaksi LombokPost

Kapolda Atensi Khusus Evakuasi WNA

Redaksi LombokPost

Korban Meninggal Diberi Santunan

Redaksi LombokPost

Masrun: Jangan Sebar Fitnah!

Redaksi LombokPost

Ditilang Gara-Gara Jukir Nakal

Redaksi LombokPost

Cerita Trauma Warga Terusik Gempa di Sore yang Tenang

Redaksi LombokPost

Vaksin Dulu Hewan Peliharaan Biar Tetap Lucu

Redaksi LombokPost

Lapor Pak, Ada Lubang!

Redaksi LombokPost