Lombok Post
Metropolis

Situs Tua Ambruk Lagi

TINGGAL KENANGAN: Bangunan Tua di kawasan Kota Tua Ampenan dekat dekat SMP 3 Mataram, di Jalan Ragi Genap, Ampenan Tengah, Kota Mataram, Senin (10/12).

MATARAM-Kawasan eks Kota Tua Ampenan kembali “berduka”. Satu lagi bangunan tua rata dengan tanah. Setelah sebelumnya beberapa bangunan lain sudah lebih dahulu berkalang tanah.

Seperti bangunan berkonsep art deco di simpang lima. Lalu beberapa bangunan di jalan Pabean.

Bangunan yang ambruk ini terletak di jalan Ragi Genap. Samping SMPN 3 Mataram. Awali, juru parkir yang tidak jauh dari bangunan ambruk itu menuturkan bagaimana bangunan ringkih tersebut akhirnya ambruk.

“Sebenarnya bangunan itu sudah sangat rentan getaran,” kata Awali.

Pada saat gempa bumi Agustus lalu, bagian atas bangunan sempat runtuh. Sisa reruntuhannya sempat menutupi gang di samping bangunan. Kondisi bangunan semakin parah, menyusul gempa bermagnitudo 5,7 SR, Kamis (10/12).

“Ada sisi bangunan bahkan menganga selebar ini,” tuturnya, sembari mencontohkan jarak sekitar satu jengkal dengan kedua tangannya.

Kondisi itu rupanya membuat banyak orang khawatir, melintas di sekitar jalan ragi genap dan gang Lingkungan Melayu Timur.  Ini kemudian diketahui pemilik, lalu meminta beberapa tukang melakukan perbaikan.

“Pemiliknya tidak ada di sini kayaknya, orang Tionghoa,” ujarnya.

Tapi baru beberapa saat pekerja mengetuk-ngetuk dinding bangunan. Tiba-tiba saja sisi depan bangunan runtuh. Beruntungnya saat dinding itu ambruk tidak ada kendaraan yang melintas.

“Ambruk setelah di ketuk-ketuk pakai palu oleh pekerja,” ujarnya.

Dari pantauan Lombok Post, ambruknya bangunan sempat menutupi separo badan jalan Ragi Genap. Kendaraan sempat mengalami macet di sana. Sebab serpihan bangunan sampai menutupi badan jalan. Untungnya para pekerja cepat membersihkannya.

“Tapi reruntuhnnya temboknya belum diangkat,” tunjuknya.

Peristiwa ini sebenarnya menandai betapa ringkih dan sekaratnya sejumlah bangunan di Kota Tua Ampenan. Hanya dengan ketukan dan getaran bisa membuat bangunan tua di sana terancam ambruk. Ini belum lagi dengan beberapa bangunan lain yang juga kondisinya retak di sana-sini akibat gempa.

Seperti di jalan Pabean, sebuah bangunan malah cuma diganjal bambu-bambu kering. “Ya ada beberapa yang retak,” kata Rosmiati, Istri RT di kawasan jalan Pabean.

Bangunan-bangunan tua itu sebagian besar ringkih karena gempa bumi bertubi-tubi Juli-Agustus lalu. Ditambah lagi gempa Kamis minggu kemarin. Selain itu ada juga bangunan tua yang rusak karena kebakaran.

“Itu kejadiannya lama (yang kebakaran) tapi ya tetap mengurangi situs bersejarah di sini,” ungkapnya.

Sebenarnya beberapa bangunan tua di jalan Pabean itu kata Rosmiati, lantai duanya menggunakan kayu. Tetapi dinding kebanyakan menggunakan tembok. Sehingga, daya tahannya hanya cukup untuk melindungi penghuni di lantai dasar dari reruntuhan.

“Kalau kayunya kuat, tapi dindingnya retak-retak,” jelasnya.

Apalagi semuanya bangunan tua. Kayunya pun kemungkinan ada yang sudah melapuk. Bagaimanapun jika pemerintah dengan pemilik bangunan lambat berkoordinasi, bangunan tua di sana terancam hancur satu-persatu. Dan pada akhirnya nanti hanya tinggal cerita.

“Saya sudah sampaikan pada kelurahan dan buat laporan kondisi bangunan tua di sini, tapi belum ada tanggapan,” cetusnya.

Camat Ampenan Zarkasyi memperkirakan, 50 persen bangunan tua di kawasan Kota Tua Ampenan tengah sekarat. Kondisinya rentan dengan getaran apalagi gempa seperti Agustus lalu.

“Bahkan perkiraan saya sektiar 50 persen di sana kondisinya sudah memprihatinkan,” kata Zarkasyi.

Ia pun setuju bangunan tua di sana harus diselamatkan. Karena potensi cagar budaya dan sejarahnya termasuk langka. Akan sangat rugi pemerintah daerah ini jika tidak segera menyelamatkan bangunan-bangunan tua di sana.

“Tapi bagaimana, kami (kecamatan) tidak punya anggaran, kami hanya bisa melakukan penyelamatan dari sisi sosial,” ujarnya.

Salah satunya membangkitkan semangat warga untuk menjaga kebersihan dan keterawatan sisi otentik kawasan kota tua. Lalu membangun kesadaran untuk sama-sama memelihara dan membangkitkan ekonomi dan wisata di sana.

“Selebihnya karena itu bangunan milik pribadi, tentu hanya pemerintah kota (bukan kecamatan) yang bisa berkomunikasi dengan para pemilik. Bagaimana cara menyelematkan situs sejarah itu,” harapnya. (zad/r5)

Berita Lainnya

Gerindra Belum Tentukan Siapa Wakil Ketua DPRD

Redaksi LombokPost

Alhamdulillah, Semua Karyawan Sudah Dibayarkan THR

Redaksi LombokPost

Ketika Terminal Mandalika Menjadi Ladang Rezeki Pedagang Asongan

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Dikadali, BPBD Terima Laporan Bahan Rumah Korban Gempa Tak Sesuai Spek

Kedubes Prancis Kunjungi Poltekpar Lombok

Dapil Satu-Dua Milik Kepala Garuda

320 Jamaah Belum Lunasi BPIH

Korban Gempa Tarawih di Masjid Darurat

Caleg Gagal Malas Hadiri Rapat Paripurna