Lombok Post
Feature Headline

Suka Duka Mahasiswa Bumi Gora Menuntut Ilmu di Benua Biru (2)

PERKULIAHAN: Beberapa orang mahasiswa berjalan di depan gedung kampus Warsaw University of Technology, Polandia.

Studi di luar negeri bukan hanya soal belajar di kelas, diskusi, dan membaca buku. Tapi juga menyangkut pola hidup, makan, ibadah, dan kebiasaan lain yang menuntut penyesuaian. Merasakan hidup menjadi minoritas dengan segala keterbatasan ternyata nikmat.

SIRTUPILLAILI, Polandia 

———————————-

LANGIT Kota Warsawa berwarna kelabu. Awan mendung disertai hujan gerimis mengirimkan dingin yang menusuk-nusuk tulang. Sesekali butiran salju melayang ditiup angin dingin. Mendung di ibu kota Polandia itu membuat rasa malas menjadi-jadi. Enggan rasanya beranjak keluar ruangan. Begitulah musim dingin. Selalu begitu. Matahari yang tidak nampak sama sekali adalah hal biasa.

            Tapi, hal begitu tidak menyurutkan niat para mahasiswa Indonesia menggelar pengajian rutin di Warsaw University of Life Science (WULS). Kampus itu berjarak 30 menit dari pusat Kota Warsawa menggunakan trem, angkutan publik utama di Polandia.

Para mahasiswa Indonesia memanfaatkan ruangan Sala Spotkan Akadmik Feniks SGGW, ruang serba guna di asrama WULS. Ruang itu digunakan untuk berbagai kegiatan umum di kampus. Sebulan sekali dipakai mahasiswa muslim, khususnya dari Indonesia untuk ibadah bersama sekaligus membuat kajian Islam.

Pertemuan itu berlangsung khusyuk. Sejumlah mahasiswa yang hadir mendengarkan pemaparan matari tentang keutamaan Alquran dari Yusuf, seorang penghafal Alquran dari Tanggerang, Banten.

            Kegiatan dilanjutkan dengan pembahasan hadis pertama dalam kitab Arba’in An-Nawawi mengenai pentingnya niat dalam setiap amal. Selepas diskusi, acara dilanjutkan dengan Salat Magrib berjamaah dan santap malam.

            Suasana pertemuan itu penuh kehangatan. Salam sapa dan berbagai cerita di tanah rantau menambah rasa senasib sepenanggungan.

            Di tengah mahasiswa, hadir pula warga Polandia beragama Islam, serta warga negara Indonesia yang bekerja dan kini menetap di Warsawa.

            Pengajian semacam itu sangat bermakna bagi mereka yang hidup di Polandia. Maklum di negara dengan mayoritas non muslim, pengajian tidak sesering di Indonesia. Wajar bila kegiatan agama semacam itu diikuti dengan antusias, mereka  bisa merasakan nuansa religius yang lama dirindukan.

            Walau menjadi minoritas di negara bekas pemerintahan komunis itu, namun para mahasiswa bebas beribadah. Tidak ada larangan apalagi perlakuan diskriminatif.

            Mahasiswa bebas salat di mana pun. Warga setempat sangat toleran. Pemerintahannya kini menganut sistem demokrasi sama seperti Indonesia, sehingga lebih terbuka terhadap pendatang. Termasuk warga beragama muslim. Hanya saja fasilitas ibadah di dalam kampus belum tersedia.

            Saat Lombok Post mengunjungi sejumlah kampus di Warsawa, memang tidak ada musala atau tempat ibadah khusus seperti kampus-kampus di Indonesia. Hanya saja salat bisa dilakukan di mana saja, baik dengan duduk, maupun ambil air wudu di toilet dan salat di ruangan yang sepi. Ada dua masjid di kota itu, tapi jaraknya berjauhan.

            Umar Mubdi, mahasiswa Master of International Peace and Conflict Studies di Collegium Civitas menuturkan, soal ibadah ia pernah kesulitan. Kala itu, ia berada di dalam kampus dan hendak salat ashar. Setelah berkeliling gedung ia tidak menemukan tempat ibadah khusus. Akhirnya Umar memutuskan salat di ruang kelas yang kosong.

            Saat tengah salat, tiba-tiba seorang dosen dan beberapa mahasiswa hendak masuk ke ruang kelas kosong tersebut. Tapi karena mengetahui ada orang sedang beribadah, mereka masuk kelas setelah dirinya selesai salat. Sang dosen dan mahasiswa meminta maaf karena merasa mengganggu ibadahnya.

            Sejak saat itu, Umar pun mengerti sikap toleransi di Polandia sangat dijunjung tinggi. Karena itu, ia pun harus bersikap sama, sehingga mencari tempat lain untuk salat di dalam kampus Collegium Civitas yang tidak mengganggu mahasiswa lainnya untuk belajar.

            Akhirnya, ia menemukan tempat salat yang pas, sepi dan tidak mungkin ada orang lalu lalang yakni di bawah tangga darurat. Tidak ada yang akan terganggu bila ia salat di sana, ia juga tidak akan terganggu sama lalu lang mahasiswa lainnya. “Di sanalah (tangga darurat) tempat salat paling aman,” tutur Umar.

            Pengalaman serupa dialami temannya,  baru seminggu di Warsawa tidak sekali pun terdengar azan dikumandangkan seperti di Indonesia. Ketika waktu salat jumat tiba, ia berangkat ke masjid di Blue City untuk pertama kalinya.

            Ketika azan dikumandangkan, saat itu pula ia meneteskan air mata. Sebab, ada semacam kerinduan yang baru terbalaskan. Padahal di Indonesia, ia jarang merasakan keharuan semacam itu.

            Selama di masjid, hampir semua jamaah  saling memberikan salam dan sapaan hangat. Meski berasal dari negara yang berbeda, suasana ukhuwah sebagai umat Islam sangat kental terasa.

            Menurut Umar, pengalaman mahasiswa Indonesia di Warsawa menunjukkan betapa di tengah keterbatasan, justru di sanalah keyakinan dan semangat persatuan Islam bertambah.

            “Mahasiswa Indonesia di Polandia begitu semangat merawat pilar-pilar agama,” kata pemuda asal Lombok Tengah itu.

            Sekali pun Polandia dulu pernah menjadi negara komunis dan kini berganti dengan pemerintahan demokratis, warga negaranya menunjukkan sikap saling menghormati. Bahkan, seiring banyaknya mahasiswa muslim asal Indonesia yang datang belajar, pihak kampus akan menyiapkan ruangan khusus bagi mereka untuk beribadah.

            Pengalaman hampir sama juga dialami Mega Nisfa Makhroja. Pertama kali menginjakkan kaki di Polandia, ia terpukau dengan bangunan kampus Collegium Civitas yang berada di Palace of Culture and Sains. Konon, istana tersebut adalah hadiah dari Stalin, pemimpin Rusia yang kental dengan ideologi komunis. Namun masyarakat Warsawa sendiri ingin mengubur masa lalu mereka di era perang dingin. “Kini mereka lebih terbuka dan demokratis,” ujarnya.

            Mega mengakui, kerap mendapat pertanyaan dari keluarga dan teman,  bagaimana beribadah di Polandia?. Apa masih Islamophobia? Apa masih komunis? Ia pun hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan senyum.

            Meski Polandia tidak memiliki penduduk muslim sebanyak Jerman atau Prancis, namun masyarakatnya sudah semakin terbuka. Belajar di kelas Internasional, ia dipertemukan dengan mahasiswa dari berbagai belahan dunia. Banyak di antara mereka berasal dari negara muslim seperti Kazakstan, Mesir, Morocco, Pakistan, Malaysia, Turki, dan Tajikistan.

            “Tidak jarang penduduk sekitar memberikan tempat duduk ketika melihat saya berdiri meskipun saya mengenakan hijab. Mereka menolong siapa pun tanpa mengenal konflik agama,” ujar ibu satu anak itu.

            Untuk tempat ibadah, ada dua masjid di Warsawa yakni Masjid Blue City letaknya tidak jauh dari kampus, dan Masjid Turki letaknya agak jauh dekat Bandar Udara Chopin Warsawa.

            Untuk salat, di kampus memang tidak disediakan tempat khusus. Sehingga mereka salat di tangga darurat atau di ruangan semacam basecamp mahasiswa.

            Sementara untuk makanan, sudah sangat banyak restoran turki dan kebab yang dijual sehingga tidak khawatir untuk makan. Setiap bulannya mereka mengadakan pengajian rutin mahasiswa Indonesia di Warsawa. “Dari pengajian itu muncul gerakan amal yang disebut one day one zloty,” tuturnya.

            Terkait Islamophobia, fenomena itu menjangkiti hampir semua negara eropa. Namun menurutnya isu tersebut sudah mulai memudar. Semakin banyak masyarakat muslim yang bermigrasi, mereka semakin mengenal Islam adalah agama yang memiliki tata caranya sendiri.

            “Warga Polandia bukan tidak suka muslim, tapi mereka hanya belum mengetahui,” ujarnya.

            Mega bersama teman-temanya menemui Wakil Rektor Collegium Civitas. Mereka meminta difasilitasi ruangan untuk salat, dan pihak kampus senang karena mereka menyampaikan hal tersebut, sebab mereka selama ini tidak tahu, bukan tidak mau.

            Semakin banyak mahasiswa Internasional di kampus mereka, pihak universitas tentu perlu mengakomodir kebutuhan mahasiswa. Mereka akan berusaha menyediakan temat ibadah bagi yang muslim.

            “Jadi kuliah Polandia sebagai muslim menurut saya aman-aman saja,” katanya.

            Meski mengenakan hijab dan berbeda dengan yang lain, namun tidak ada diskriminasi yang dialami. Mungkin hanya beberapa daerah saja terjadi.

Misalnya pada hari kemerdekaan Polandia kelompok Ultra Nasionalis muncul menolak masuknya imigran ke Polandia, tapi bukan spesifik menolak muslim. Gerakan mereka pun lebih bersifat kampanye tanpa menimbulkan kerusakan. (*/bersambung/r8)

Berita Lainnya

Demi Meratus, Ribuan Orang di Kalsel Bersama-sama Menulis Surat ke Presiden

Redaksi LombokPost

Mantan Bupati Zaini Akan Diklarifikasi Terkait KSO PT Tripat dan PT Bliss

Redaksi LombokPost

Jaksa Serahkan Memori Banding Perkara Muhir

Redaksi LombokPost

Polda Tak Hadir, Praperadilan Ganti Rugi Ditunda

Redaksi LombokPost

LHA Sosialisasi 13 Perda di Loteng

Redaksi Lombok Post

TNI AL Gagalkan Penyelundupan Burung

Redaksi LombokPost

PT Tripat Gadaikan 8,4 Hektare Aset Lobar

Redaksi LombokPost

Sekeluarga Bisnis Narkoba

Redaksi LombokPost

IAD Kejati NTB Dukung Program Zero Waste

Redaksi LombokPost