Lombok Post
Metropolis

Baginya, yang Penting Jangan Mengemis!

KERASNYA KEHIDUPAN KOTA: Ibu Supinah sedang merapikan pakaian dan peralatan dapur usai memungut sampah di sekitar rumahnya, kemarin (13/12).

20 Tahun hidup berpindah-pindah. Tak ada rumah. Kerjaan hanya jadi pemulung. Dengan penghasilan tak lebih dari Rp 200 ribu sebulan. Tapi, tetap bersyukur kepada Tuhan yang maha kuasa. Pemilik hakiki dunia dan isinya!  

YUYUN ERMA KUTARI, Mataram

———————————————

Siang itu cuaca memang mendung. Bau menyengat dari tumpukkan sampah, menyebar tertiup angin. Seperti sudah kebal dan bersahabat dengan itu, Supinah tetap mengais sisa-sisa sampah. Mencari apa yang bisa menghasilkan uang.

Sampah di sekitar rumahnya, dekat PLTD Ampenan. Jalan Arya Banjar Getas, Tanjung Karang, Sekarbela, Kota Mataram.

Supinah sebenarnya asli Lombok Tengah. Menjadi warga Kota Mataram sejak 20 tahun lalu. Kepada Koran ini, ia mengaku sudah ditinggal mati oleh sang Suami sejak 25 tahun lalu. Kemudian ia memilih Kota Mataram sebagai tempat mengais rezeki.

Di sini, Ia hidup bersama seorang anaknya. Laki-laki. Lulusan SMP. Kini usianya 20-an tahun. bekerja sebagai buruh bangunan. Yang penghasilannya tidak menentu.

Supinah bisa dikatakan tidak memiliki tempat tinggal tetap di Kota Mataram. Selama 20 tahun hidup di kota, sudah beberapa kali Supinah pindah. Kini, ia menyewa tanah di kawasan perumnas.

“Awalnya kami tinggal di Kios, saya tidak tahu ukurannya berapa. Yang pastinya kecil. Kami sewa kios itu sama tanah seluas satu are, dulu harganya Rp 500 ribu, tetapi sekarang sudah naik,” kata Supinah.

Sang pemilik menaikkan harga sewa sangat tinggi. Satu are Rp 3 juta. Harga itu tak mampu dibayar Supinah. Maklum, ia hanya seorang pemulung. Per bulan penghasilannya tak lebih dari Rp 200 ribu.

Untuk menambah uang dapur, kini Supinah bekerja menjadi pembantu rumah tangga. Tugasnya menyetrika baju. Gajinya per bulan hanya Rp 400 ribu.

“Ngga bisa kita sewa segitu mbak, yang ada pakai makan dari mana, makanya saya pindah aja cari tempat yang lain,” ujarnya.

Supinah kemudian berpindah tempat tinggal. Sampai tiga kali, barulah ada tanah urukan pas di sebelah PLTD Ampenan. Ia menyewa tanah di situ. Harga sewa per arenya Rp 1 juta. Ia kemudian membangun rumah bedek. Berasal dari sisa-sisa kayu yang dibuang warga di TPS itu.

Sudah dua bulan ia tinggal di sana. Bentuk rumahnya memang tidak layak huni. Rumah setengah panggung. Tapi Supinah tetap mensyukurinya.

“Punya tempat tinggal begini saja sudah syukur ya. Bagi saya yang penting jangan mengemis saja mbak. Harus kerja meski itu mengais sampah-sampah di sini,” pungkasnya.

Supinah merupakan potret pejuang hidup di tengah kemajuan Kota Mataram. Yang kata Badan Pusat Statistik, angka kemiskinan di daerah ini menurun pada 2018 ini dari 9.55 persen jadi 8.96 persen. (*/r5)

Berita Lainnya

Kinerja Rasio Keuangan Bank NTB Sangat Stabil

Redaksi LombokPost

Malaysia Tak Larang Warganya Berwisata ke Lombok

Redaksi LombokPost

Kapolda Atensi Khusus Evakuasi WNA

Redaksi LombokPost

Korban Meninggal Diberi Santunan

Redaksi LombokPost

Masrun: Jangan Sebar Fitnah!

Redaksi LombokPost

Ditilang Gara-Gara Jukir Nakal

Redaksi LombokPost

Cerita Trauma Warga Terusik Gempa di Sore yang Tenang

Redaksi LombokPost

Vaksin Dulu Hewan Peliharaan Biar Tetap Lucu

Redaksi LombokPost

Lapor Pak, Ada Lubang!

Redaksi LombokPost