Lombok Post
Metropolis

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

BUTUH STIMULAN: Kawasan jalan Niaga Kota Tua Ampenan terlihat sepi dari aktivitas perdagangan, Kamis (13/12).

MATARAM-Salah satu ruas jalan di Kota Tua Ampenan dinamai jalan Niaga. Motivasinya terlihat jelas dari namanya. Kawasan itu, dulu jadi salah pusat perdagangan besar di Kota Mataram.

Sayangnya, ruas jalan ini salah satu yang perlahan sepi oleh aktivitas jual beli. Tak jauh beda dengan beberapa ruas jalan lain, semisal jalan Pabean.

Jika dibanding dengan kondisi pada abad 19, kondisinya berbeda jauh. Di mana kawasan itu untuk pertama kali dibuka lengkap dengan pelabuhannya.

“Kita memang berharap kawasan di sana bisa hidup lagi dengan perdagangan,” kata Camat Ampenan Zarkasyi.

Seiring waktu, pelabuhan tak lagi dipakai. Akibatnya, kawasan kota tua pun perlahan ringkih dan mulai sunyi. Seperti yang terlihat saat ini kawasan ini bahkan tak bisa menyaingi kawasan Cakranegara yang pernah diungguli.

“Ruko-ruko yang ada di sana seharusnya bisa dimanfaatkan untuk aktivitas perdagangan dan jasa,” ujarnya.

Tapi memang butuh strategi luar biasa. Menghidupkan lagi kawasan bisnis di sana. Apalagi dengan tidak berfungsinya pelabuhan yang dulu pernah jadi ‘gula’ bagi para pebisnis.

Interaksi para pedagang lintas daerah, lebih memilih singgah di Cakranegara. Daripada ke Ampenan. Yang secara geografis berada di penghujung barat Kota Mataram.

“Waktu tempuhnya juga lebih jauh,” imbuhnya.

Maka pilihan mengubah image kota tua pun jadi alternatif. Dengan memanfaatkan warisan cagar sejarah di sana. Sebab bisnis dagang antar daerah, lebih kecil kemungkinan dikembangkan di sana. Begitu juga jasa dan perdagangan lainnya.

“Kita sudah ada ide, misalnya di sana kita kembangkan usaha kuliner berbasis wisata sejarah,” ulasnya.

Usaha ini disebut Zarkasyi berpotensi besar. Ia membandingkan dengan kondisi jalan Pabean yang hidup dengan usaha-usaha kuliner di sana. Tapi, belakangan usai gempa dan kondisi bangunan yang ringkih, kawasan itu perlahan sepi lagi.

“Seperti usaha kopi kota tua itu, kita pantau di sana sangat hidup saat itu,” contohnya.

Usaha serupa yang dinilainya pantas didorong saat ini di Kota Tua Ampenan. Ia merasa sulit memaksa agar kawasan itu bisa jadi kawasan bisnis pedagang antar daerah. Sebab image itu sudah direbut Cakranegara yang dari geografis dan kondisi saat ini, lebih menguntungkan.

Sementara itu, Kepala Bappeda Kota Mataram H Amiruddin mengatakan mendorong agar investasi jasa dan perdagangan, tertarik bergeser ke Ampenan sudah masuk dalam strategi revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Tidak seperti empat kecamatan lain. Cakranegara dan Ampenan memang dibuat sebagai karpet merah investasi di bidang jasa dan perdagangan.

“Cakra seluruhnya hingga Ampenan sudah diploting merah (untuk investasi),” kata Amir.

Sekalipun saat ini kondisinya lebih banyak lahannya sebagai pemukiman warga. Tetapi peluang menjadikan kawasan itu sebagai pusat perdagangan dan jasa, terbuka lebar.

Ini berbeda dengan kawasan lain. Di mana hanya sepanjang pinggir jalan saja yang diperioritaskan sebagai lahan investasi.

“Di RTRW memang tidak dibahas secara detail (tapi itu gambaran umumnya),” jelasnya.

Tidak hanya didorong sebagai kawasan usaha peragangan dan jasa. Bahkan untuk menarik minat investor, baik Ampenan dan Cakranegara juga diberi ruang kawasan penunjang untuk usaha lain. Semisal perkantoran, percetakan, akomodasi, dan lain-lain.

Ruangnya pun diperlebar. Dari sebelumnya tidak boleh lebih dari 10 persen. Kini kata Amir, asalkan tidak melebihi 50 persen, maka boleh saja.

“Intinya tidak boleh mendominasi,” ujarnya.

Dengan begitu diharapkan minat dan geliat investasi bisa meningkat. Termasuk di kawasan-kawasan yang selama ini kurang begitu seksi dalam hal investasi. “Sebab tidak mungkin kita pertahankan, apalagi kota kan luas wilayahnya terbatas,” tandasnya. (zad/r5)

Berita Lainnya

Gerindra Belum Tentukan Siapa Wakil Ketua DPRD

Redaksi LombokPost

Alhamdulillah, Semua Karyawan Sudah Dibayarkan THR

Redaksi LombokPost

Ketika Terminal Mandalika Menjadi Ladang Rezeki Pedagang Asongan

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Dikadali, BPBD Terima Laporan Bahan Rumah Korban Gempa Tak Sesuai Spek

Kedubes Prancis Kunjungi Poltekpar Lombok

Dapil Satu-Dua Milik Kepala Garuda

320 Jamaah Belum Lunasi BPIH

Korban Gempa Tarawih di Masjid Darurat

Caleg Gagal Malas Hadiri Rapat Paripurna