Lombok Post
Metropolis

Bocah-Bocah Pemberani di Jembatan Kuning DADS

SIAP MELOMPAT: Seorang anak di sisi jembatan DADS, sembari mengumpulkan keberanian untuk melompat ke dalam sungai Jangkuk, beberapa waktu lalu.

Arus deras adalah ‘kawan’. Bebatuan cadas dan pecahan beling, tak lebih ‘duri’ yang tak perlu ditakuti berlebihan. Inilah wahana permainan yang akan dikenang hingga umur menua, dengan rambut perak memenuhi batok kepala!

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

———————————————————-

RASANYA tak hanya kucing yang bernyawa sembilan. tapi bocah-bocah ngeyel di kali Jangkuk Dasan Agung itu, sudah terbiasa menghadapi ganasnya wahana alam.

Sejak jembatan kuning Dasan Agung-Dasan Sari (DADS) yang menyerupai arsitektur holtekamp, Papua usai dibangun. Kehadirannya disambut gembira anak-anak di sekitar jembatan.

Bagi sebagian masyarakat, jembatan itu telah menyambung asa. Meningkatkan aksebilitas dan ekonomi. Tapi bagi bocah-bocah pemberani itu, jembatan DADS adalah mainan. Lebih seru dan menegangkan dari roller coaster dan sejenisnya.

“Ridho…Ridho, coba lihatin di sini dalam atau tidak?” pekik seorang bocah, dalam bahasa Sasak.

Ia hilir-mudik di atas salah satu rangka jembatan. Tanpa pengaman dan rasa takut yang mencekam.

Tapi wajahnya menyiratkan gelisah. Nyalinya kadung membuncah hingga ubun-ubun kepala. Bocah itu ingin segera melompat dan membuktikan dirinya bisa selamat layaknya kucing yang terjun dari ketinggian. Tanpa terluka sedikit pun.

Bocah yang dipanggil Ridho pun mendekati titik air yang terlihat tenang itu. Kakinya tertatih-tatih menginjak dasar sungai yang dipenuhi bebatuan tajam. Dengan sedikit berenang, ia telah sampai ke lokasi yang ditunjuk kawannya.

“Dalam!” timpalnya dari dasar sungai.

Arus sungai cukup deras. Usai mengukur dalamnya titik yang ditunjuk kawanya, ia memilih melanjutkan berenang. Menghanyutkan badan mengikuti arah arus, lalu di sisi barat jembatan, bergerak menepi.

Tapi bocah di atas jembatan itu masih saja gelisah. Keberaniannya belum cukup untuk melemparkan tubuhnya ke dasar jembatan jangkuk dengan air yang tak terlalu besar. Ia terlihat takut. Tapi ia mau terlihat lebih pemberani dari teman-temannya.

“Imam… Imam! Coba lihat di sini dalam atau tidak!” pekiknya lagi.

Seorang bocah telanjang bulat segera berenang ke titik yang sama. Ia terlihat ragu. Seperti menemukan ada bebatuan yang bebahaya di dasar sungai. Tangannya melambai ke arah kawannya di atas jembatan. Seolah mengisyaratkan agar ia tak nekat terjun.

Tapi bocah yang bernama Imam itu berubah pikiran. Ketika tubuhnya sudah berenang ke posisi agak tengah. Kakinya sulit menemukan dasar sungai dengan arus air yang lebih tenang.

“Dalam!” sahutnya kemudian.

Sama seperti Ridho, Imam pun memilih membiarkan tubuhnya hanyut terbawa arus ke arah barat. Ia baru mengangkat tubuhnya setelah berhasil menjejakan kakinya ke sisi sungai yang dangkal.

Byurrrr!

Tubuh bocah tengil itu, meluncur ke Sungai Jangkuk. Lalu membelah permukaan sungai hingga dasarnya. Beberapa saat tak muncul, beberapa teman-temannya yang lain memandang dengan penasaran. Mereka terdiam. Menunggu apa yang akan terjadi berikutnya.

Di sungai itu, September 2017 silam seorang anak ditemukan tak bernyawa. Tapi di tempat itu pula anak-anak di kampung itu gemar mengadu nyali dan merebut gembira dari wahana yang disediakan alam. Wajar jika akhirnya terselip rasa was-was dan takut jika kawan mereka terjadi apa-apa.

“Aduh … terantuk batu!” pekik anak itu saat kepalanya menyebul di atas permukaan sungai.

Ia meringis kesakitan, sembari berenang ke arah barat. Kemudian menepi perlahan-lahan. Tapi teman-temannya yang lain justru mengumbar tawa cekikan. Sekalipun begitu, anak-anak yang lain bisa bernafas lega. Sahabatnya selamat dari bahaya.

Lasing aiq kodeq bani kamu nepur! (habisnya air kecil, kamu kok berani terjun),” timpal seorang anak dari pinggir sungai, sambil menertawai temannya.

Inilah wahana bermain anak-anak kampung di tengah kota. Beradu nyali, memacu adrenalin, di antara bebatuan cadas dan air deras. Kadang kala mereka hanyut ke arah barat terbawa arus kencang. Beruntungnya bocah-bocah itu terlatih, menaklukan derasnya air sungai Jangkuk.

“Kadang ada yang kakinya sobek karena kena batu atau beling,” tutur Ibu Setuni, warga yang berjualan tak jauh dari Jembatan Kuning DADS.

Wanita ramah itu, bertutur bagaimana tengil dan ngeyelnya bocah-bocah di sungai Jangkuk itu. Mereka baru akan pulang jika dua hal terjadi. Pertama, ayah atau ibu mereka datang dengan wajah garang, sembari menenteng bilah bambu atau rotan.

“Disuruh pulang, sebab mandi seharian dan lupa makan,” kata Setuni.

Lalu kalau ada bahaya datang. Anak-anak di kali Jangkuk Dasan Agung, terlatih membaca isyarat alam. Jika isyarat itu muncul, tak perlu menunggu ayah atau ibu mereka datang dengan wajah marah. Dengan sendirinya mereka akan bergegas naik. Menyelamatkan diri sebelum bahaya mencengkram.

“Kalau mendung gelap di arah timur, air jernih membesar, lalu perlahan berubah keruh, nah anak-anak pasti berlarian naik dan bergegas pulang,” tuturnya.

Hujan lebat se-Kota Mataram tak pernah membuat anak-anak itu takut berenang di sungai. Tapi mendung di arah timur berarti air sudah pasti akan besar dari arah hulu. Maka itu pertanda mereka harus pulang segera dan melanjutkan permainan di halaman-halaman rumahnya.

“Sejak ada jembatan ini, di sini selalu ramai. Bahkan banyak remaja yang nongkrong di jembatan, foto selfie-selfie, pokoknya ramai dah,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah bisa memberi sentuhan lebih banyak lagi pada Jembatan kuning DADS. Sehingga pada akhirnya nanti bisa jadi salah satu situs wisata favorit di kota. Warga pun bisa memetik manfaat ekonomi dari kunjungan di jembatan dengan gaya arsitektur mirip holtekamp, Papua itu. “Semoga semakin ramai,” harapnya. (*/r5)

Berita Lainnya

Mohan: Kita Harus Bangkit!

Redaksi LombokPost

Senjata BKD Lawan Pengemplang Pajak

Redaksi LombokPost

Tanpa Karcis, Parkir Gratis

Redaksi LombokPost

Trotoar Dijadikan TPS Material

Redaksi LombokPost

Butuh Diskusi untuk Cari Solusi

Redaksi LombokPost

Warga Kurang Berminat Bikin KIA

Redaksi LombokPost

Cerita Warga Kota Melawan Rasa Trauma Gempa

Redaksi LombokPost

Ahyar Bimbang Tentukan Kepala Disnaker

Redaksi LombokPost

Hore, Bantuan Termin Ketiga Segera Cair

Redaksi LombokPost